
Tak terasa gus Arga dan ning Aqila sudah sampai di bandara Malang. Setelah turun dari pesawat gus Arga dan ning Aqila langsung menuju tempat parkir mobil yang sudah disewa oleh gus Arga.
"Mas Arga?" tanya seorang supir dengan satu temannya yang membawa mobil satunya lagi.
"Iya pak saya, apa ini mobil yang saya sewa."
"Benar pak ini kuncinya, Semoga bapak nyaman dengan mobilnya. Kalau begitu saya pamit."
Supir taxi dan temannya langsung pergi meninggalkan gus Arga dan ning Aqila. Karena tidak mau ada bahaya apa-apa gus Arga memeriksa mobil yang iya sewa terlebih dahulu.
"Mas, ngapain?"
"Siapa tau mobilnya belum diservis dek, Mas harus hati-hati. Mas gak mau kejadian tiga bulan lalu terulang lagi apa lagi sekarang mas udah ada kamu. Mas gak mau terjadi apa apa sama kamu. Juga mas gak bermaksud suudzon kok." Jelas gus Arga panjan lebar.
Ning Aqila pun mengangguk paham. Setelah memastikan mobil yang iya sewa aman gus Arka melajukan mobilnya ke kediaman Kiyai Mansur.
***
"Hubab, Dira pengen nginep di rumah mama boleh?" Nadia bertanya dengan was-was dia takut suaminya itu tidak membolehkannya.
"Iya boleh. Tapi tunggu hari minggu ya atau gak sabtu biar hubab juga ikut. Hubab gak enak sama papa sama mama belum pernah nginep disana."
Nadira yang mendengar jawaban suaminya itu sangat gembira. Pasalnya semenjak dia menikah dengan gua Arka belum pernah menginap di rumah Papanya. Mereka hanya minap saat acara resepsi saja itu juga hanya dua hari. Setelah itu mereka kembali lagi ke Pesantren Darussalam. Karena gus Arka masih banyak pekerjaan yang harus iya selesaikan. Setelah Menikah juga Pekerjaan gus Arka bertambah banyak. Karena dia sudah menjadi dokter tetap di rumah sakit milik sepupunya.
"Ya udah yu hubab kita ke tempat umi, Mumpung masih sore, biasanya umi lagi masak aku mau bantuin soalnya."
"Ya udah Ayok, tapi hubab siap-siap dulu ya."
Setelah gus Arka selesai siap-siap mereka langsung menuju rumah abi Misbah. Saat diperjalanan Ning Nadira melihat Gina tengah duduk di Kursi taman milik santri putri sambil menunduk. Terlihat dari tempat ning Nadira dan gus Arka pundak Gina bergetar kuat.
"Hubab itu Gina kenapa?"
"Mana?"
"Itu." Berkata sambil menunjuk ke arah Gina yang sedang duduk di dekat taman.
"Kayaknya si Gina nangis deh, hubab."
"Yasudah ayo kita samperin Gina dulu."
Gus Arka dan Nadira mendekati Gina yang sedang berada di kursi taman.
"Assalamualaikum, Gin."
Karena merasa ada yang memanggilnya Gina pun menoleh ke Arah suara tersebut.
"Waalaikumsalam." Dia menjawab salam mereka sambil menoleh.
__ADS_1
"Ee, gus sama ning."
"Kamu kenapa, Gin?" Nadira bertanya tanpa basa basi pada Gina dia sangat mengenal Gina dia termasuk orang yang ceria, ini untuk pertama kalinya Nadira melihat sahabatnya sekaligus adiknya itu bersedih. Nadira memang sudah menganggap Gina seperti adiknya sendiri apalagi jarak umur yang terpaut 4 tahun lebih tua dirinya daripada Gina.
"Gak Papa kok, Ning."
"Jangan boong Gin, kamu kelihatan kalau kamu habis nangis. Cerita Gin, kamu kenapa."
Sedangkan gus Arka hanya mendengarkan pertanyaan yang dilontarkan oleh Nadira kepada Gina.
"Kalau kamu belum bisa cerita sekarang gak papa kok asal entat cerita ya, Gin." Gina hanya mengangguk
"Ya udah kalau gitu sekarang kamu balik ke pondok dulu." Gus Arka kali ini ikut bersuara.
"Baik assalamualaikum gus, ning saya permisi."
"Waalaikumsalam." Jawab keduanya.
Setelah kepergiaan Gina gus Arka dan ning Nadira kembali melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda barusan.
"Kira-Kira Gina kenapa ya, hubab?"
"Entah lah tapi, kan, dia berjanji untuk bercerita sama kamu. Jadi jangan terlalu dipikirkan. Kasihan bayi kita. Kamu kan gak boleh banyak pikiran."
"Iya huban."
"Umi, masak apa?"
"Ndok kapan kesininya?"
"Barusan umi."
Kemudian keduanya memasak bersama sambil bercerita banyak hal. Nadira tidak pernah kehabisan topik jika iya berbincang-bincang dengan umi Rika. Sedangkan umi Rika juga begitu, Sesekali keduannya menjadi pendengar setia Untuk masing-masing.
"Umi Memang Gina belum kesini. Biasanya dia udah ada di dapur."
"Tadi Gina udah kesini ndok tapi umi lihat dia aga pucet gitu. Jadi umi suruh dia istirahat saja." Jelas umi Rika.
"Ada apa, sebenarnya dengan Gina kenapa dia. tidak biasanya Gina seperti ini." Dalam hati Nadira.
"Ndok, ndok." Panggil umi Rika karena sedari tadi Nadira hanya melamun.
"Ee, iya umi, ada apa?"
"Kamu kenapa ndok."
"Gak papa umi. Udah selesai nih umi ayo kita makan."
__ADS_1
Setelah menyiapkan makanan Nadira segera ke ruang tamu untuk memanggil suaminya dan abi Misbah untuk makan bersama.
"Hubab. Abi ayok makan dulu." Nadira mengajak keduanya...
"Iya" Gus Arka dan Abi Misbah segera menuju ruang makan.
Kini semua sudah berada di ruang makan. Semua makan dengan hening tanpa ada yang berbicara. Karena memang peraturan dari abi Misbah sendiri.
"Huh."
"Kamu kenapa, dek?" Gus Arka bertanya dengan hati-hati pada Nadira.
"Kangen sama Gus Arga juga Ning Aqila." Jawab Nadira berbinar.
Sedangkan gus Arka sudah was-was umi Rika dan Abi Misbah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan menantunya yang sedang bersama mereka kini.
"Ooh iya abi, umi. Nadira mau bilang kalau entar hari minggu atau sabtu Dira sama Hubab mau menginap dirumah Papa. Boleh kan umi abi?"
"Boleh ndok."
Sedangkan gus Arka tidak percaya dengan kata-kata yang terlontar dari mulut Nadira karena Dia barus saja mengungkit Gus Arga dan Ning Aqila. Akan tetapi kenapa sekarang topiknya sudah ganti.
"Biasa lek wong hamil mah."
Umi Rika bisa tau karena perubahan dari wajah putranya yang tidak percaya dengan apa yang iya lihat barusan.
Sedangkan di pesantren putri terjadi kegaduhan entah apa yang menimbulkan kekacauan tersebut. Belum ada yang melapor ke rumah Abi Misbah perihal hal tersebut. Begitu juga keamanan putra, putri selalu siaga tapi entah kenapa hari ini semua santri senior tidak berada di Asrama melainkan semuanya ada di kantor.
"Kenapa ribut-ribut itu, mbak?" tanya santri satu pada santri satunya lagi.
"Gak tau saya juga. Kita kesana aja yu mbak."
Kedua santri tersebut menghampiri ke tempat kerumunan yang sedang sangat riuh.
"Kenapa? Kenapa?"
Kedua santri yang baru saja datang terus bertanya pada santri yang ada disana. Akan tetapi tidak satupun orang yang menghiraukan mereka. Mereka hanya fokus pada Sebuah kamar yang dirasa asal dari sumber keributan.
Dua orang santri putri menggendong seorang yang sedang pingsan. Bebarapa orang juga menolong merekaa untuk mengotong santri tersebut.
"Mbak, tolong minggir sebentar kasih jalan."
Seorang santri memberi instruksi agar para santri tidak menghalangi jalan mereka.
"Tolong salah satu orang ke rumah Abi kasih kabar." Mbak lilis sebagai santri senior memberi instruksi.
Saat keluar dari kerumunan kedua santri tadi kaget dengan siapa yang dilihat mereka pingsan.
__ADS_1
"Mbak Gina."