
"Mas liat kebun santri putri yuk." ajak ning Aqila pada suaminya itu
Saat ini Ning Aqila dan Gus Arga sedang berada dirumah mereka. Mengobrol santai.
"Ngapain kesana sayang."
"Pengen aja udah ayok, besok kan kita mau ketemu baby Anisa. Jadi hari ini pengen keliling dulu takut kangen sama suasana nya, kalau Dwi Malang kan gak kayak gini."
"Ayo Mas" ajak Ning Aqila sambil, menarik tangan gus Arga agar ikut dengannya.
"Iya bentar mas ganti baju dulu masa keluar pake kayak gini." ucap gus Arga.
Gus Arga dan Ning Aqila memperhatikan tubuh milik. Gus Arga dari atas sampai bawah. karena hanya menggunakan celana pendek.
"Iya bener Mas sana ganti dulu."
Ning Aqila dan Gus Arga jalan beriringan menuju kebun milik santri putri. Saat diperjalanan keduanya kebetulan melihat Dimas yang sedang melamun dibawah pohon.
Gus Arga dan Ning Aqila saling pandang satu sama lain. Saat melihat Dimas, Seperti ada dalam suatu masalah. Dari pandangan mereka berdua seakan bertanya dia kenapa?.
"Udah kita kesana dulu ya." ajak gus Arga, Karena biasanya jika Dimas ada masalah pasti akan cerita dengan dirinya atau tidak dengan gus Arka. Walaupun haru dipaksa terlebih dahulu agar dia mau bercerita.
"Assalamualaikum." gus Arga mengucapkan salam sedikit kencang, sehingga Ning Aqila yang mengucapkan salam seperti orang pada umumnya kaget. Apa lagi Dimas yang sedang melamun.
"Astagfirullah hal-adzim." kaget Dimas.
__ADS_1
"Waalaikumsalam Ning, Mas"
Setelah tau siapa yang mengagetkannya. Tadinya Dimas siap-siap mau meledakkan amarahnya. Tapi karena Gus Arga orang yang mengagetkannya maka tidak jadi.
"Ning Aqila sama Mas Arga ngapain disini?."
Dimas seperti orang yang kehilang kesadaran dia tidak tau apa yang baru saja dia tanyakan pada ning Aqila dan gus Arga. Semoga saja dia menanyakan hal yang wajar.
"Seharusnya saya yang tanya ngapain kamu disini. Bukannya harus dikantor? Apa pekerjaan sudah selesai. Terus juga kamu kayak orang banyak masalah gitu, terus"
"Mas nanyanya satu satu kasian Dimas."
Hampir saja gus Arga meneruskan pertanyaannya-pertanyaan yang iya lontarkan pada Dimas, lebih panjang lagi entah kapan selesainya. Jika tidak dicegah oleh istrinya.
"Saya lagi hafalan Mas, kerjaan juga udah beres. Dan saya gak ngelamun." jelas Dimas sebenarnya dia tidak sepenuhnya menjawab jujur tapi dia juga tidak sepenuhnya bohong. Memang dia sedang hafalan tapi pikirannya tidak di hafalan.
"Tapi apa Mas?." ning Aqila sendiri jadi penasaran dengan ucapan sepotong-sepotong suaminya.
"Dengerin aja dia ngomong bentar lagi." bisik gus Arga pada ning Aqila.
Dimas mengambil nafas dalam-dalam sebelum ia menceritakan tentang masalahnya saat ini pada gus Arga, juga ning Aqila.
"Saya disuruh nikah sama, Papa sama Mama, kalau gak ada yang dilamar sama saya maka mau dijodohin sama pilihan mereka." entahlah Dimas tidak tau dia benar atau salah menceritakan hal ini pada gus Arga dan ning Aqila.
"Tapi kamu punya orang yang mau kaum pinang?" Pertanyaan ning Aqila sukses membuat Dimas menganggukan kepala.
__ADS_1
"Tapi kenapa gak kamu lamar aja?."
"Saya takut ditolak Ning." sedih Dimas.
"Belum nyoba tapi udah takut ditolak, Kamu laki-laki Dim, harus siap menerima apapun keputusan dari perempuan yang kamu lamar, yang penting kamu sudah membuktikan kalau kamu serius, gak main-main." Gus Arga memberikan Dimas nasihat agar dia mengerti jika semua itu butuh perjuangan, kita tidak akan tau hasil akhirnya jika tidak pernah mencoba.
Tentu Gus Arga tau siapa perempuan yang dimaksud dengan Dimas.
Setelah mendengar nasihat dari gus Arga dan ning Aqila. Dirinya merasa sedikit lega. Dan bisa mengambil suatu keputusan dengan tenang.
Sekarang Ning Aqila dan Gus Arga sudah berada di kebun milik santri putri, setelah pergi menemui Dimas Tadi. Di kebun tersebut terlihat banyak sekali tumbuh sayuran yang segar-segar juga ada beberapa buah-buahan.
Sebenarnya kebun tersebut atas rencana ning Aqila dan Nadira. Mereka berdua setuju untuk. Belajar berkebun dengan para santri putri. Buktinya sekarang kerja keras mereka telah membuahkan hasil yang memuaskan.
"Mas mau buah apa?, biar aku petik." ning Aqila menawarkan pada gus Arga.
Sambil menunjukan beberapa buah yang ada di depan mereka.
"Manga itu kayaknya enak sih." gus Arga tergiur ketika melihat mangga yang sudah matang, Warnanya begitu menggugah selera.
"Ya udah aku petik ya mas, aku juga mau, keliatan enak banget sih."
Karena pohon Mangga itu tidak terlalu tinggi dan buahnya begitu lebat. Jadi mudah dipetik tanpa harus memanjat terlebih dahulu.
"Awas hati-hati."
__ADS_1
Padahal pohon Mangga itu begitu pendek. Tapi gus Arga tetap saja takut jika istrinya kenapa-napa.