USTADZ KEMBAR

USTADZ KEMBAR
Ustadz Kembar


__ADS_3

Pagi harinya ning Aqila dan gus Arga benar-benar sudah siap akan berangkat menuju Malang untuk menjenguk baby Anisa yang barus saja melihat dunia atas izin sang penciptanya.


Hanya gus Arga dan ning Aqila yang pergi ke Malang karena yang lain masih banyak urusan apa lagi gus Arka. Dia juga tidak bisa pergi jauh karena istrinya sedang hamil. Begitu pula dengan abi Misbah dan umi Rika.


Ning Aqila dan gus Arka menikmati perjalanan mereka menuju Malang. Umi Rika juga hanya bisa menitipkan salam untuk cucu pertamanya yang baru saja lahir itu.


Sebenarnya mereka semua ingin menemui baby Anisa di Malang tapi apa lah daya waktu dan keadaan tidak mendukung mereka. Untuk menjenguknya mungking kapan-kapan jika ada waktu mereka akan menyempatkan diri untuk menengok baby Annisa. Atau mungkin baby Anisa dan kedua orang tuanya yang akan mengunjungi mereka ke Bandung langsung.


Gus Arga sengaja menyewa mobil saat di bandara Malang nanti karena dia tidak ingin kecelakaan yang menimpanya saat itu akan terulang lagi apa lagi sekarang dia sudah mempunyai istri. Gus Arga sangat siaga untuk menjaga ning Aqila dia tidak membiarkan ning Aqila lecet sedikit pun.


Ning Aqila mencari sesuatu di dalam tasnya biasanya saat dia bepergian jauh barang itu tidak pernah tertinggal.


"Dek, kamu ngapain?"


Gus Arga yang sedari tadi sedang tidur terusik oleh kursi di sebelahnya yang terus berisik. Pasalnya gus Arga ingat sekali jika dia dan ning Aqila tadi sedang tertidur di dalam pesawat tersebut.

__ADS_1


"Cari air minum mas aus banget. Tapi gak ada di tas, Qila."


Gus Arka menyodorkan satu botol Aqua pada ning Aqila. Yang iya dapat dari kantong belanja miliknya. Karena tadi sebelum berangkat gus Arka mampir di supermarket mini untuk membeli bekal saat dijalan. Karena dia tau ning Aqila tidak bisa makan. Makanan yang disediakan di pesawat maka dari itu gus Arga sudah mempersiapkannya terlebih dahulu.


Entah mengapa ning Aqila terasa masih mengantuk. Setelah meneguk air yang diberikan suaminya tadi. Dia kembali tertidur. Sedangkan gus Arga dengan setia mengelus-elus kepala istrinya yang tertutup Hijab.


"Pengumuman Untuk semua penumpang agar mengenakan sabuk pengaman."


Suara seorang pramugari memberitahukan kepada semua penumpang pesawat. Agar menggunakan sabuk pengaman karena pesawat yang sedikit kurang keseimbangan. Yang tadinya seluruh penumpang panik. Untung saja dengan cepat pramugari tersebut bisa kembali menenangkan para penumpang.


"Kita berdoa saja. Agar kita bisa selamat." Pramugari tersebut memberi keyakinan pada penumpang bahwa mereka semua akan selamat.


Di menit ke lima belas akhirnya pilot Pesawat tersebut bisa mengambil keseimbangan kembali. Semua orang yang berada di dalam pesawat tersebut merasa sangat lega. Begitu juga dengan gus Arga. Dan dia juga bersyukur ning Aqila tidak terusik dari tidur pulasnya.


Gus Arka yakin Gusti Allah masih Ingin semua orang yang ada di dalam pesawat tersebut tetap hidup.

__ADS_1


Karena terlalu cemas dan pegal gus Arga akhirnya menyusul ning Aqila juga ke alam mimpi mereka masing-masing.


Tidak terasa pesawat mereka yang kini sedang mereka tumpangi Akan segera mendarat. Ning Aqila sudah bangun dari tadi. Dia tidak membangunkan gus Arga bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat.


***


Sedangkan di rumah Kiyai Mansur umi Nita sangat cemas karena menantu dan anaknya tidak kunjung tiba. Biasanya tepat 4 Jam mereka sudah tiba dirumah tapi ini sudah lewat dua jam dari biasanya ning Aqila dan Gus Arga belum juga sampai di kediaman Kiyai Mansur.


"Umi udah ya. Abah yakin pasti mereka baik-baik saja." kyai Mansur berusaha membuat isterinya tenang sejak dua jam lalu dia hanya menanyakan kabar anak dan menantunya yang tak kunjung tiba di kediaman mereka.


"Tapi, Bah."


"Sudah Lah, umi kita berpikir positif saja mungkin. Mereka sedang istirahat karena kelelahan."


"Baik Bah."

__ADS_1


Sebenarnya buka Umi Nita saja yang cemas akan keduanya akan tetapi kyai Mansur juga. Namun kyai Mansur selalu berpikir positif dan dia juga tidak mau malah tambah membuat istrinya lebih khawatir lagi. Maka dari itu kiayi Mansur mencoba untuk tetap tenang, karena kiyai Mansur bisa bersikap tetap tenang.


Walaupun dalam kondisi terdesak sekali pun, bukan karena tidak khawatir, jelas khawatir juga dirasakan oleh kyai Mansur tapi memang sifat kiayi Mansur dari dulu seperti itu sangat tenang.


__ADS_2