
"Gus Arka, kang Dimas awas!!!
Gina berusaha terika sekuat mungkin agar gus Arka dan Dimas mendengar suaranya, dia tidak peduli. Jika seperti orang yang kerasukan. Saat ini yang paling penting menurut Gina keselamatan kedua orang itu.
Dimas yang mendengar suara teriakan Gina mencari apa yang akan menimpa dirinya dan gus Arka. saat ranting kayu lumayan besar itu akan jatuh diantara keduanya. Karena Dimas tidak sempat menghindar, dengan terpaksa Dimas mendorong tubuh gus Arka agar tidak terkena timpaan ranting tersebut.
Brukk..
Brukk..
Disaat yang sama ketika gus Arka didorong menjauh oleh Dimas, ranting kayu mengenai pundak Dimas cukup keras.
"Astagfirullah hal-adzim"
Gina yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat. seketika mata Gina terasa panas dia ingin sekali menangis, Kecekakaan yang menimpa Dimas dan gus Arka begitu cepat menurut Gina.
Gus Arka bangung dari jatihnya, Karena didorong oleh Dimas tadi, samar-samar gus Arka melihat darah yang membasahi baju koko berwarna putih milik Dimas yang Dimas kenakan.
"Ayok cepat bawa Dimas ke rumah sakit"
Gus Arka begitu panik, dia langsung menyuruh santri putra untuk mengantar Dimas ke rumah sakit. Gus Arka juga ikut, sedangkan Gina buru-buru melapor kejadian barusan ke kediaman abi Misbah.
"Assalamualaikum Abi" ucap Gina ngos-ngosan, kebetulan sekali abi misbah sedang duduk diteras rumah sambil ngopi.
__ADS_1
"Walaikumsalam ada apa Mbak Gina?" tanya abi Misbah ramah dia sudah sangat mengenali santrinya yang satu ini. Karena memang abi Misbah sudah mengenal Gina, yang dulunya begitu dekat dengan Nadira dan Mbak Tia.
"Itu abi kang Dimas dibawa kerumah sakit sama gus Arka, dia kena timpa ranting kayu yang cukup besar" jelas Gina setelah dirinya cukup rileks
"Astagfirullah" kaget abi Misbah setelah mendengar penuturan dari Gina.
Setelah Gina memberi kabar tersebut pada abi Misbah, Gina langsung menuju asrama putri. saat ini dia hanya ingin tidur. Karena begitu lelah setelah melihat kejadian yang begitu mengerikan didepan mata kepalanya sendiri. Dia dapat melihat darah yang mengalir dari lengan kang Dimas tadi saat dia berada ditempat kejadian.
"Gimana keadaan Dimas?" tanya abi Misbah saat sudah sampai di rumah sakit. Tadi saat mendapat kabar abi misbah dan umi rika buru-buru ke rumah sakit setelah mendengar kabar dari Gina.
"Belum tau bi lagi ditangani" ucap gus Arka lemas dia sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.
"Sudah kita berdoa saja, dan ingat jangan dulu kasih tau masmu masalah yang menimpa Dimas" peringat abi Misbah jika gus Arga tau pasti dia akan sangat khawatir dengan keadaan Dimas saat ini.
"Iya bi Arka paham" Memang gus Arga dan gus Arka sangat menganggap Dimas, mereka bertiga sudah seperti saudara kandung sendiri.
Di Kediaman Kyai Mansur.
"Kyai tujuan saya kesini bukan hanya sekedar silaturahmi tapi ada niat lain" Gus Arga berkata pelan-pelan takut jika misalnya kyai Mansur salah paham. Dan menurut gus Arga hari ini hari yang tepat untuk mengatakan apa tujuannya yang sebenarnya berkunjung ke kediaman kyai Mansur.
"Silakan gus katakan dengan senang hati pasti saya yakin gus Arga ada niat baik" ucap Kyai Mansur sambil tersenyum kecil.
Saat ini keduanya sedang bersantai di halaman belakang sambil menikmati secangkir kopi.
__ADS_1
"Anu yai, itu yai" ucap gus Arga gugup sekaligus Arga bingung dia harus mulai dari mana kalau tujuannya kesini ingin melamar ning Aqila.
"Kok dari tadi anu itu aja gus" bingung Kyai Mansur, karena gus Arga tidak kunjung melanjutkan ucapannya.
"Bismillah" ucapnya sebelum kembali berbicara pada kyai Mansur dengan serius.
"Jadi begini yai kedatangan saya kesini sebenarnya ingin melamar putri bungsu yai" Gus Arga berucap yaki diiringi dengan perasaan dag dig dug di dadanya.
Sebelum kembali berbicara kyai Mansur tersenyum pada gus Arga.
"Alhamdulilah gus saya senang dengan niat baik gus Arga. sekali guss saya salut karena gus Arga berani datang sendiri apa lagi dari bandung kemalang. Akan tetapi semuanya saya serahkan pada putri saya. Karena dia yang akan menjalani rumah tangga ini" Jelas kiyai Mansur panjang lebar pada gus Arga.
"Iya Yai"
"Biar entar malam berbicara lah diruang tamu sehabis makan malam. Agar Aqila bisa memberi gus Arga jawaban, saya harap Aqila mau menerima gus Arga"
"Iya yai terimakasih atas kesempatannya"
Tanpa disadari keduanya ternyata Aqila mendengar perbincangan itu. Karena dia tidak sengaja kebetulan lewat dan memang masih membersihkan ruangan yang berada di dekat gus Arga dan kyai Mansur berbincang-bincang.
"Ya Allah semoga ini memang jalan yang baik" dalam hati Aqila saat dia mendengar ucapan gus Arga yang ingin melamarnya, dia salut pada gus Arga karena langsung meminta dirinya dengan baik-baik pada abah nya itu.
Setelah itu ning Aqila kembali melakukan pekerjaannya yang tertunda, karena mendengar ucapan gus Arga tadi, bukannya ning Aqila mau menguping tapi dia benar-benar tidak sengaja mendengar perbincangan abahnya dengan gus Arga.
__ADS_1