
Gus Arga yang sedang sibuk dengan persiapan acara pernikahannya. Beda halnya dengan gus Arka yang hampir setiap hari harus extra sabar menghadapi istrinya yang mulai lagi kambuh permintaan aneh-anehnya belum lagi mengurus pesantren sendiri.
Gus Arka sangat bersyukur atas kedatangan mertuanya untuk menginap dengan waktu yang lama dapat menjaga istrinya jika dia sedang tidak bisa pulang dengan cepat.
Gus Arka juga terpaksa tidak berangkat kerja walaupun profesi gus Arga sebagai dokter sangat dibutuhkan di rumah sakit milik sepupunya. Akan tetapi mau bagaimana lagi dia terpaksa cuti. Karena mengurus pesantren. sendiri hanya dibantu para santri saja. Dia merasa mulai kewalahan.
Gina juga kini lebih sering kerumah gus Arka untuk menemanin Nadira atas permintaan gus Arka sendiri.
"Dimas istirahat lah, lanjut besok lagi."
Semenjak gus Arka menikah dia sudah bisa berfikir lebih dewasa dari pada sebelumnya. Karena sekarang dia bisa merasakan bagaimana menjadi seorang abi Misbah, Punya istri tapi juga mengurus semua santri yang tidak. Bisa dibilang sedikit.
"Baik mas terimakasih, yang lain juga suruh istirahat ya."
Setelah disuruh istirahat oleh gus Arka. Dimas dan santri lainya segera kembali keasaram masing-masing. Sedangkan gus Arka masih melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi hampir selesai.
Suara deringan hp milik gus Arka mengalihkan fokusnya pada hp tersebut.
"Assalamualaikum"
__ADS_1
Setelah menekan tombol hijau panggilan pun tersambung. Gus Arka juga sebenarnya ingin ke Malang membantu mempersiapkan pernikahan masnya. Akan tetapi keadaan tidak memungkinkan. Jika dia ikut pergi kemalang lalu siapa yang akan menjaga pesantren abinya ini, tapi gus Arga sendiri bisa memahami keadaan kembarannya itu saat ini jadi dia bisa memakluminya.
"Waalaikumsalam, gimana keadaan kamu disana dek?" Gus Arga berbicara ditelpon dari seberang sana.
"Ya begini lah mas" Gus Arka menjawab pertanyaan gus Arga akan tetapi dia juga masih fokus pada laptopnya.
"Iya mas mau kasih tau kalau lima hari lagi acara nikahan mas"
Sepertinya gus Arga sangat bahagia bisa didengar dari nada bicaranya yang terdengar bersahabat pada adik kembarnya.
"Alhamdulillah mas kalau gitu, tapi maaf banget ya mas Arka gak bisa dateng pas ijabnya" Sesal gus Arka. Tidak enak hati mengatakan hal tersebut tapi apa boleh buat.
"Yah licik dong kalau gitu. Masa pas akad kamu mas ada terus pas akad mas kamunya gak ada. Berarti gak impas dong"
"Gimana ya mas aduh Arka juga bingung"
Panik gus Arka saat dia mendengar kata-kata masnya barusan apa lagi dengan intonasi yang sangat serius. Karena dia tidak mau masnya kecewa. Gus Arga yang ada di seberang sana sudah tertawa lepas. Karena berhasil mengerjai adik kembarnya itu.
"Hahah, Panik gitu Ar" Ejek gus Arga.
__ADS_1
"Ahhh, mas ini buat panik aja sih, untung semua data yang Arka catat gak ilang. Gara-gara mas buat Arka panik"
Gus Arka sangat kesal, Sampai mengumpati saudara kembarnya dalam hati. Bukan dia tidak tahu jika hal itu dilarang tapi mau bagaimana lagi dia benar-benar kesal saat ini pada kembarannya.
"Ia maaf kalau ganggu kerjaan kamu, mas mau kasih tau aja gak usah dateng gak papa. nanti aja pas acara di Bandung. Lagian juga kan istri kamu lagi hamil, Mas juga gak tega Ar kasian dia nanti"
Kini gus Arga sudah berbicara serius tidak lagi bercanda seperti tadi.
"Ya mas makasih banyak, ya udah kalau gitu Arka tutup telponnya ya. Soalnya kerjaan belum kelar nih, assalamualaikum" pamitnya dari telpon tapi mata miliknya masih tetap fokus pada laptop yang berada di depannya.
"Waalaikumsalam"
Setelah keduanya berpamitan sambungan telepon pun terputus.
Gus Arga menghela nafas panjang. Setelah selesai bicara lewat telpon dengan saudara kembarnya.
Dia juga sebenarnya ingin Arka ada di acara akadnya nanti akan tetapi gus Arga juga tidak mau egois, gus Arka disana pasti sudah kelelahan mengurus semuanya sendiri tanpa bantuan abi dan dirinya.
Jadi tidak mungkin gus Arga membiarkan gus Arka untuk datang ke acara akadnya sedangkan jaraknya juga jauh.
__ADS_1
"Semoga dia sekarang sudah lebih dewasa lagi untuk menyikapi segala halnya" Gus Arga dalam batinnya.
Setelah menelpon sambil mencari angin gus Arga masuk ke dalam asrama Putra kembali. Setelah merasakan mendapat angin segar kembali dan mampu menghilangkan jenuhnya yang entah kapan jenuh itu datang, yang pasti datang dengan sendirinya. Karena merasa lelah dan mengantuk gus Arga segera pergi ketempat tidur menyusul para santri yang lain yang sudah pergi ke alam mimpi mereka sendiri-sendiri.