USTADZ KEMBAR

USTADZ KEMBAR
Salah orang


__ADS_3

Nadira sangat bersyukur tadi yang mengisi pembelajaran umi Rika dengan abi Misbah. coba saja jika Gus Arga sudah pasti dia diceramahi habis-habisan, karena terlambat datang untuk mengaji.


Beradaptasi ditempat baru memang sulit tapi bagi Nadira di pesantren Darussalam ini tidak begitu sulit.


Menurut Nadira disini orangnya ramah-ramah bahkan menghargai santri baru, walaupun usia Nadira saat ini sudah terbilang dewasa saat ini usianya 21 tahun. Tiga hari berada di pesantren Darussalam Nadira sudah merasakan kembali hidup yang berwarna.


"Mbak Nadira." Panggil Gina teman baru Nadira yang dikenalkan oleh Mbak Tia, karena Mbak Tia sibuk di kediaman abi Misbah jadilah Nadira dititip kan pada Gina, Nadira yang masih santri baru jadi dia butuh bimbingan.


"Iya Gin kenapa?" jawabnya.


"Besok pagi kita disuruh umi bantuin masak di dalem soalnya gus Arka barus pulang."


"Emangnya umi punya anak lagi Gi?" tanya Nadira penasaran.


"Iya Nad, aku lupa bilang sama kamu kalau umi punya putra kembar. Namanya gus Arka dia abis dari Malang ngisi acara pengajian  disana." Jelas Gina pada Nadira.


"Apa tadi kembar?" ucapnya kaget.


"Iya."


"Mampus gue janggan-janggan."


"janggan-janggan apa Nad?" potong Gina,


"Tadi waktu aku mau ngaji, kan aku telat tuh, terus aku ditabrak orang mirip gus Arga, karena aku masih sebel sama gus Arga. Aku marahin aja itu orang, salah sendiri waktu aku pertama kesini pas gus Arga liat aku langsung marah-marah gak jelas, alasannya karena aku nggak pake kerudung." Oceh Nadira, dia masih mengingat kejadian 3 hari yang lalu.


Nadira dan Gina memang sudah sangat akrab mereka berdua sama-sama berasal dari kota jadi mereka berdua bisa cepat akrab.


"Wah! kamu kayaknya bakal kena masalah deh Nad"


"Kenapa gitu Gin?"


"Kalau kamu mau tau Nad, gus Arka lebih serem dari pada gus Arga. Kalau gus Arga kita salah cuman diceramahin. Tapi kalau gus Arka kita langsung dapat hukuman." Jelas Gina pada teman barunya itu.


"Mampus aku Gin, Semoga aja dia lupa sama muka aku Aamiin." Doa Nadira.

__ADS_1


"Mimpi kamu Nad, gus Arka itu kalau sama targetnya pasti gak bakal lupa."


"Terus aku harus gimana?"


"Entahlah."


"Ini ya orang-orang kalau juluki gus Arga sama Arka ustadz kembar berbeda sifat satu lemah lembut satunya nakal dan galak. Nah yang Nakal dan galak itu Gus Arka." jelas Gina lagi.


"Udahlah aku tunggu besok aja gimana takdir Allah. semoga berpihak sama aku ya Gi, Aamiin."  Tutur Nadira beharap.


Setelah bercerita tentang masalahnya. Kini Nadira dan Gina sudah pergi ke alam mimpi mereka masing-masing, Jika mereka terlalu lama ngobrol maka besok pagi harus siap membersihkan seluruh asrama putri, kalau ketahuan oleh para pengurus.


Keesokan paginya Nadira dan juga Gina membantu mbak Tia memasak di dalem atas perintah umi Rika.


Mbak Tia hanya seorang diri yang mengurus keperluan di rumah umi Rika. Karena memang tidak begitu banyak pekerjaan, umi Rika biasanya masak sendiri, sedangkan mbak Tia hanya bersih-bersih, kecuali kalau umi Rika masak banyak maka mbak Tia akan turun tangan juga. Gina juga sering membantu Mbak Tia Jika dia tidak  sibuk atau libur sekolah.


.


.


.


"Mbak Tia, Gina sama ndok Nadira sini sarapan bareng-bareng." Suruh umi Rika saat mereka semua sudah selesai memasak.


"Iya umi sebentar." Jawab mbak Tia.


Mbak Tia jika sarapan selalu bersama keluarga ndalem, Itu perintah dari umi Rika sendiri.


"Mbak Tia kita beneran sarpan disana sama keluarga abi Misbah?" tanya Nadira karena di barus saja melihat gus Arga turun dari lantai dua menuju dapur untuk sarapan.


Nadira memang tidak takut dengan Arga tapi masalahnya jika nanti tiba-tiba kembarannya turun kalau ingat mukanya bagaimana coba.


"Iya Nadira itu harus, apa lagi Umi yang memerintahkan langsung."


"Tapi emang Mbak Nadira gak canggung gitu sama kedua anaknya umi?"

__ADS_1


"Ya gaklah Nadira, gus Arga sama gus Arka udah kayak Adek mbak sendiri, bahkan kami sering bercanda, bermain bersama apa lagi waktu kita masih umur belasan tahun." jelas mbak Tia sambil mengingat masa lalunya dulu bagaimana dia bisa dekat dengan keluarga Anggara ini.


FALLBACK ON.


"Ndok kamu kenapa?" umi Rika bertanya ramah pada seorang anak perempuan yang terlihat lemas entah kenapa anak perempuan itu bisa sampai di depan gerbang pondok pesantren Darussalam.


"Sa-ya." Belum sempat anak perempuan itu menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba saja dia sudah terkulai lemas tak berdaya.


"Inalillahiwainalillahirojiun!!" pekik umi Rika spontan mendengar teriakan uminya kedua anak kembar itu segera menghampiri umi mereka.


"Umi mbaknya kenapa?" gus Arga dan gus Arka bertanya bersama saat sudah berada disebelah umi Rika. keduanya menyebut mbak, karena mereka melihat dari raut wajah dan tinggi mbak Tia seperti umurnya lebih tua dari mereka.


"Panggil abi cepet!" titah umi Rika panik.


Setelah abi Misbah datang mereka segera membawa mbak Tia kerumah sakit, saat mbak Tia sudah siuman umi Rika dan abi Misbah dengan lapang dada mengangkatnya menjadi anak.


Tapi saat sudah di pesantren Darussalam, karena mbak Tia tidak enak dengan santri lain jadilah dia selalu berada di asrama. Pergi ke kediaman abi Misbah jika bersih-bersih saja atauhal lainnya.


FOLLBACK OF.


"Ternyata begitu mbak Tia, maaf udah mengingatkan masa lalu, aku gak maksud begitu tadinya." Sesal Nadira tidak enak hati saat Mbak Tia sudah selesai cerita.


"Gak papa udah yok kemeja makan gak enak ditungguin sama umi dan yang lainnya." Mereka bertiga pun pergi kemeja makan duduk di kursi masing-masing yang sudah tersedia.


Nadira sungguh sangat tepaksa, dia tidak ingin bertemu dengan kembaran gus Arga.


Tap..


Tap...


Suara sandal yang beradu dengan lantai mengalihkan perhatian Nadira untuk melihat siapa yang datang, ketakutan Nadira akhirnya bertambah saat gus Arka sudah mulai mendekat ke arah meja makan tapi dia berusaha agar tetap biasa saja.


"Umi, Abi sama mas gimana sih. Orang barus pulang gak disambut malah sekarang makan mau ditinggal." Kesal gus Arga sambil berjalan ke ruang makan dia belum sadar jika di ruang makan ramai orang.


"Gimana mau disambut Ka, wong kamu pulang langsung tidur tanpa peduli yang lain." Jawab Abi Misbah saat gus Arka sudah duduk di kursi.

__ADS_1


"Makanya jadi orang jangan tukang tidur."   Ejek gus Arga pada kembarannya itu.


"Orang capek kok mas." Bela gus Arka tidak mau dipojokkan


__ADS_2