
Acara pernikahan ning Aqila dan gus Arga masih berlangsung hingga malam hari. Semakin malam acara tersebut, semakin ramai tamu undangan yang berdatangan.
Walaupun yang diundang tidak banyak. Akan tetapi yang datang lebih dari undangan yang mereka sebarkan, Karena pesantren Al-hidayah sangat terkenal. Apa lagi ini acara pernikahan putri bungsu Kiyai Mansur.
Ning Aqila sendiri rasanya sudah tidak sanggup berdiri karena terlalu lelah, sejak tadi dia dan gus Arga tidak istirahat. Mereka berdua istirahat hanya waktu sholat dan makan saja, Seterusnya menemui tamu undangan yang sepertinya tidak ada hentinya.
"Dek kalau capek duduk aja, Gak papa kok"
gus Arga sendiri tadi merasa istrinya sudah terlalu lelah dia kasihan melihat istrinya itu, Karena banyaknya tamu undangan yang harus mereka salimi.
Ning Aqila yang mendengar penuturan gus Arga begitu lembut. Apa lagi memanggil dirinya Adik, Hanya tersipu malau, Karena perhatian gus Arga yang gus Arga berikan untuk dirinya.
"Udah yuk duduk, nanti kalau ada tamu undangan biar mas aja yang berdiri" ucapnya dengan lembut sambil menuntun ning Aqila yang sekarang sudah menjadi istrinya untuk duduk.
"Tapi"
"Udah gak papa,"
Belum sempat ning Aqila melanjutkan ucapannya sudah dipotong terlebih dahulu oleh gus Arga, Ning Aqila hanya pasrah saja toh dia memang merasa sangat lelah.
Sekitar jam 10:20 acara tersebut baru lah sepi. Tamu yang berdatangan mereka semua sudah berbondong-bondong pulang kerumah masing-masing. Ada juga yang menyempatkan menginap di pesantren dan rumah Kyai Mansur. Mereka semua masih saudara dari Kyai Mansur dan Umi Nita.
Selesai acara gus Arga dan ning Aqila, memasuki kamar milik ning Aqila yang berada di lantai dua rumah kyai Mansur.
Saat pintu kamar sudah terbuka suasana mulai sedikit canggung, padahal tadi ning Aqila dan gus Arga sudah sedikit bertukar cerita dengan akrab tidak ada rasa canggung sama sekali yang keduanya rasakan tadi tapi entah sekarang rasa canggung itu datang begitu saja kepada kedua orang itu yang sekarang sudah menjadi pasangan suami, istri.
__ADS_1
"Mas mandi duluan aja ya" Ning Aqila berucap ragu campur gugup, Karena ini pertama kalinya dia berada satu kamar dengan laki-laki.
Keberuntungan sedang memihak pada gus Arga, karena di dalam kamar Ning Aqila sudah terdapat kamar mandi sendiri. Dia juga sudah sangat lelah, sama seperti Ning Aqila.
"Bener gak papa mas duluan yang mandi?"
"Iya mas, Tar Aqila siapin bajunya, tadi udah ada yang anter baju mas kesini" ucapnya sopan pada suaminya.
Gus Arga mengangguk mengerti lalu dia pergi kekamar mandi. Karena merasa badanya sudah sangat lengket. Entah berapa ratus tamu yang mereka temui tadi.
Sedangkan ning Aqila menyiapkan baju gus Arga, dia juga membereskan kamarnya yang sedikit berantakan.
Saat ning Aqila akan menghilangkan rias di wajahnya. Pintu kamar mandi terbuka sempurnah, Gus Arga berjalan menuju kasur yang sudah ada bajunya disediakan oleh ning Aqila tadi.
"Astaghfirullah hal-adzim"
Ning Aqila tidak sengaja menoleh ke arah gus Arga. Dia tidak tau kalau gus Arga tidak memakai baju.
"Kenapa dek?" tanyanya tanpa ragu gus Arga mendekat kearah ning Aqila tapi belum memakai baju yang sudah disediakan oleh ning Aqila.
"Gak papa mas" dia menjawab dengan rasa gugup yang sudah menjalar di seluruh tubuhnya dia merasa saat ini aliran darahnya berhenti mengalir begitu saja. Tanpa dia tau apa sebabnya.
Sedangkan gus Arga terus mendekat ke arah ning Aqila tanpa ragu. Sedangkan ning Aqila masih menahan dengan mati-matian rasa gugupnya, semakin gus Arga mendekat ke arahnya maka rasa gugup dalam dirinya semakin bertambah pula.
"Kamu gak mandi dek?" Gus Arga bertanya dengan suara lembutnya.
__ADS_1
"Iya ini mau mandi kok Mas" ucapnya gugup.
"Mas boleh minta tolong gak?" ucapnya ragu.
"Apa dek? mau minta tolong sama suaminya aja harus ngomong" ucap gus Arga saat sudah berdiri di dekat cermin.
"Itu bukain resleting gaun nya dari tadi susah banget" ning Aqila berbicara dengan seribu keberaniannya, Sedari tadi dia sudah mati-matian menahan rasa malu. Apa lagi saat gus Arga mendekat tanpa mengenakan baju.
"Udah sini"
Dengan langkah ragu ning Aqila menghadap ke arah gus Arga.
Cup
Satu kecupan lembut mendarat sempurna tanpa aba-aba di kening milik ning Aqila, Saat ret resletingnya sudah bisa terbuka.
"Makasih mas"
"Makasih buat apa nih" goda gus Arga.
"Udah aku mau mandi dulu."
Ning Aqila mengalihkan pembicaraan, dia juga sudah risih dengan tatapan suaminya yang terus saja menatapnya dari atas hingga bawah.
Walapun gus Arga suaminya tapikan pasti ning Aqila malu, Jika ditatap terus menerus seperti itu apa lagi ini untuk pertama kalinya ada seorang laki-laki yang terus-terusan menatapnya tapi beruntungnya laki-laki tersebut suaminya sendiri.
__ADS_1