USTADZ KEMBAR

USTADZ KEMBAR
Ustadz Kembar


__ADS_3

Disebuah taman yang indah seorang gadis sedang tenggelam dalam pikirannya dia duduk sambil menikmati bunga-bunga yang terdapat di taman tersebut sambil tak lupa menikmati semilir angin yang menghempaskan hijab yang dia kenakan kesana kemari, menambah kesan anggun dari wajahnya yang sangat manis itu. Dia masih bimbang entah kenapa. Ditemani keadaan taman yang sangat indah berbeda dengan suasana hatinya yang sedang berkecamuk tak menentu tidak bisa dijabarkan sendiri.


"Mbak"


Seorang gadis perempuan lebih mudah darinya mengagetkan dengan memanggilnya sebutan mbak. Suara cempreng itu membuyarkan semua lamunannya tiba-tiba saja, orang itu menghampiri gadis yang sedang duduk ditaman tersebut.


"Astagfirullah Mila, dateng-dateng bukanya ucapin sama malah ngagetin mbak" Kesal ning Aqila. ya kedua gadis tadi adalah Mila dan ning Aqila.


Ning Aqila sering sekali memperingati hal tersebut pada Tohir dan Mila. Kebiasaan keduanya suka sekali mengagetkan ning Aqila.


"Heheh. Maaf mbak, abisnya mbak dari tadi melamun aja. Yuk cerita sama Mila siapa tau Mila yang kecil ini bisa kasih sara" Mila berucap dengan seribu kepedeannya. akan tetapi bukannya merasa lucu ning Aqila malah mulai bercerita pada Mila. Ning Aqila sering sekali menjadi kan Mila tempat menceritakan keluh kesahnya, karena menurutnya walaupun Mila kadang suka melakukan hal-hal yang hanya ingin dia lakukan sendiri Mila sangat dewasa jika menanggapi keluh kesah seorang. Begitu juga dengan Mila jika dia memiliki banyak masalah maka orang yang pertama dia cari adalah ning Aqila.

__ADS_1


"Mbak perasaan semua orang itu kadang akan berubah seiringnya waktu berjalan. Apa lagi jika orang yang kita cintai tidak ada bersama kita atau tidak terikat dalam hal apa-apa kapan saja bisa pergi jadi pasti waktu akan menetepkan semuanya sesuai skenario yang Allah miliki."


Begitulah kata-kata yang keluar dari mulut Mila setelah mendengar cerita ning Aqila. Jika dulu gus Arga mencintai mbak Dina. Mbaknya sendiri yang sekarang sudah menjadi istri orang lain. Hal ini lah yang membuat ning Aqila sedikit goyah, karena takut gus Arga tidak akan mencintainya melainkan tetap akan mencintai mbak Dina.


"Sudah lah mbak jangan berpikir terlalu jauh. Coba mbak sudah sholat istikharah belum?. Kalau belum sholat lah." Mila seperti sedang memberi tahu orang yang baru saja belajar.


"Baik lah Mil mbak sedikit lega sudah bercerita dengan kamu. Terimakasih banyak sudah mau mendengarkan cerita mbak."


Ternyata Mila tidak sebaik yang dikira dia meminta imbalan es cream pada ning Aqila atas sarannya tadi ya begitulah Mila akan memanfaatkan semuanya dengan baik apalagi masalah makanan dia tidak akan tertinggal.


Ning Aqila hanya berharap semoga Tohir dan Mila bertingkah aneh dan nyeleneh seperti itu hanya kepada dirinya saja tidak dengan orang lain. Akan  tetapi sepertinya tidak bahkan dengan gus Arga juga keduanya seperti itu.

__ADS_1


"Huhh menyusahkan sekali punya sepupu tidak tau malu itu dan bahkan sering membuat ulah tanpa merasa bersalah."


Tanpa Ning Aqila dan Mila sadari sedari tadi obrolan mereka terdengar oleh seseorang. Orang itu sedang tersenyum penuh makan pada ning Aqila. Tapi ning Aqila tidak tau sama sekali.


"Dia tau dari mana kalau gue pernah suka sama  Dina. Apa mungkin hanya kebetulan, Sepertinya tidak mungkin. Tapi entah kenapa rasa suka gue pada Dina seperti tidak pernah ada didalam hati gue. Gue bakal buktiin ke dia kalau cuman ada dia disini" ucap orang itu Sambil menunjuk dadanya sendiri.


"Gue rasa. Rasa suka gue dulu sama Dina hanya sekedar kagum. Bahkan setelah dia menikah sampai sekarang. Hati gue seperti tidak pernah terisi olehnya. Ahh tapi begini lebih bagus gue hanya sekedar kagum dan dia tidak tahu. Bahkan akan menjadi kakak ipar gue."


Kali ini gus Arga akan berusaha mati-matian untuk ning Aqila. Dia juga akan meyakinkan ning Aqila jika dia memang benar-benar mencintai ning Aqila karena penciptanya. Dan dia akan membuktikan pada ning Aqila jika dia tidak lagi punya perasaan apapun pada ning Dina.


"Baik lah. Lebih baik  gue pulang sebelum ning Aqila dan Mila tau gue ada disini"

__ADS_1


Gus Arga berjalan pergi meninggalkan taman tersebut. Sedangkan ning Aqila dan Mila masih larut dalam perbincangan mereka.


Kadang orang berpikir biarlah waktu yang menjawab. Tapi apakah waktu akan menjawab sesuai ekspektasi  yang setiap orang inginkan tanpa harus berusaha. Apakah akan diam saja dan duduk sampai mengikuti alur cerita yang berjalan. Ohh pasti tidak kan?. Tapi entahlah, kadang apa yang kita inginkan tapi terwujud dengan tidak sesuai seperti ekspektasi kita akan sangat menyebalkan.


__ADS_2