USTADZ KEMBAR

USTADZ KEMBAR
Pulang dari Malang


__ADS_3

Hari ini kiyai Mansur dan gus Dika kini sedang mengantar gus Arka dan Dimas ke bandara, tadinya mereka berdua menolak agar Kiai Mansur tidak mengantar mereka sampai bandara.


Akan tetapi Kyai Mansur tetap ingin menganta keduanya dengan alasan memang setiap keluarga Anggara bertamu ke Malang pasti kyai Mansur akan mengantar mereka sampai di bandara. Dari dulu kyai Mansur selalu melakukan hal ini.


"Gus Arka sama kang Dimas hati-hati di jalan. Nanti kalau sudah sampai kabar kesini ya, sama salam buat abi Misbah, gus." Ucap kyai Mansur ketika mereka sudah ada didekat bandara.


"Iya yayi, terimakasih banyak buat semuanya," tutur gus Arka.


"Seharusnya saya yang terimakasih banyak sama gus Arka, sudah mau silaturahim kesini." Ucap kiyi Mansur dengan sangat tulus pada gus Arka.


Lalu beliau juga tersenyum pada gus Arka dan Dimas. Kyai Mansur memang dikenal sangat ramah pada siapapun, walaupun orang itu baru dia kenal.


"Baik kalau begitu kami berdua pamit yayi, gus Dika, Assalamualaikum." Salam gus Arka dan Dimas bersama. Sambil mencium tangan Kyai Mansur. Dan dengan gus Dika hanya berjabat tangan layaknya anak muda.


Sebentar lagi pesawat yang mereka tumpangi akan segera lepas landas. Gus Arka dan Dimas berjalan menuju kerumunan orang-orang yang akan menaiki pesawat  sama seperti mereka.


"Waalaikumsalam wr. wb" Jawab keduanya.


Setelah kepergian gus Arka dan Dimas. Kyai Mansur dan Gus Dika langsung meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke pondok pesantren Al-hidayah.


Saat ini gus Arka dan Dimas sudah berada di dalam pesawat, yang sudah lepas landas sekitar tiga puluh menit lalu.


Di dalam pesawat.


Karena merasa sangat lelah gus Arka  langsung tertidur.  beberapa hari ini gus Arka kurang tidur, terlihat jelas di area bawah matanya terlihat sedikit ada kantung mata, juga mereka tadi sehabis selesai sholat dhuha langsung pergi ke bandara agar tidak tertinggal pesawat.

__ADS_1


Gus Arka yang tertidur sangat pulas. Beda halnya dengan Dimas yang tampak segar, karena dia istirahat dengan cukup disana, tapi ketika sudah sampai pesantren Darussalam nanti jangan tanya dia bakal tidak tidur dua hari dua malam.


Karena tugasnya yang sudah sangat menumpuk, walaupun sudah ada kang Ardi yang menggantikannya  tapi tetap saja pasti dia akan tetap lembur.


"Mas bangun Sholat dzuhur dulu."  Ucap Dimas pelan, sambil menyenggol lengan gus Arka agar bangun.


samar-samar gus Arka mendengar suara Dimas dan merasakan senggolan lengannya.


"Astagfirullah hal-adzim." Gumun Gus Arka pelan.


Saat gus Arka samar-samar mendengar suara Dimas yang membangunkannya dengan pelan.


"Sudah masuk dzuhur, ya Dim?" tanya gus Arka saat dia sudah membuka matanya. Dengan sempurna.


"Iya." Sahut gus Arga sambil bangun dari tempat duduknya. Setelah merasa nyawanya benar-benar sudah terkumpul.


"Kamu sudah sholat memangnya?" tanya gus Arka sebelum dia benar-benar pergi dari hadapan Dimas.


"Udah mas."


Gus Arka yang mendapat jawaban dari Dimas menganggukan kepalanya tanda mengerti, setelah itu dia berlalu pergi untuk mengambil air berwudhu.


Pesawat yang gus Arka dan Dimas tumpangi memang menyediakan mushola kecil agar para penumpang mereka yang beragama islam dapat melakukan ibadah mereka di dalam pesawat tersebut.


Dimas memang sudah sholat dari tadi, waktu dia mendengar Adzan dari ponselnya langsung bangkit dari tempat duduknya dan melaksanakan sholat dzuhur.

__ADS_1


Tadi Dia ingin membangunkan Gus Arka waktu  adzan berkumandang tapi iya urungkan melihat gus Arka yang tidur dengan sangat pulas. Dimas bisa melihat wajah lelah gus Arka saat dia tertidur.


Sehabis sholat isya pesawat yang ditumpangi gus Arka dan Dimas baru mendarat di bandara kota Bandung, setelah pesawat mendarat dengan sempurna di bandara kota Bandung. Keduanya segera bergegas mencari kendaraan untuk menuju desa Asri yang tidak jauh dari pusat kota. Tapi masih jarang orang yang pergi ke desa tersebut, kecuali para orang tua santri yang ingin mengunjungi anak-anak mereka.


Setelah keduanya menyewa sebuah mobil, mereka bergegas untuk menuju pondok pesantren Darussalam.


Pondok pesantren  Darussalam sendiri sudah terkenal di pusat Kota Bandung juga luar Kota, sudah banyak sekali orang-orang yang mengenal pondok pesantren tersebut, walaupun tempatnya berada di dalam perdesaan di daerah Bandung.


"Alhamdulilah sampai juga." Ujar gus Arka setelah 30 menit menempuh perjalanan menuju pondok pesantren Darussalam. Menggunakan mobil yang mereka sewa tadi tapi dengan supirnya sekaligus.


"Terimakasih banyak pak udah mau mengantar kami."  Ucap gus Arka ramah pada supir mobil itu. dia juga memberikan uang kepada supir tersebut.


"Sama-sama gus, ini sudah jadi pekerjaan saya." Imbuhnya.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi assalamualaikum." Pamit supir mobil tadi dia kembali menyalakan mesin mobilnya.


Lalu segera pergi dari hadapan gus Arka dan Dimasa setelah mereka berdua menjawab salamnya, mobil itu pergi membelah jalan malam yang semakin larut.


"Waalaikumsalam." Jawab gus Arka dan Dimas bersama.


Keduanya masuk kedalam gerbang pondok pesantren Darussalam. setelah sopir mobil itu benar-benar tidak terlihat lagi. Sambil keduanya membawa barang mereka masing-masing.


Gus Arka dan Dimas bisa melihat keadaan pondok pesantren Darussalam yang sepi dari depan gerbang masuk, mungkin karena para santri sedang mengaji. Maka dari itu keadaan sekitar sangatlah sepi.


Walapun sepi di depan gerbang dan area masuk pondok pesantren Darussalam itu tidak pernah gelap, karena ada lampu penerang yang sangat terang juga disitu ada beberapa hiasan untuk menambah kesan indah area di tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2