
Kamis 14 Maret 2015...
Dimana hari ini hari yang ditunggu-tunggu oleh kedua pasang calon penggantin kini telah tiba. umi Rika dan abi Misbah juga sudah tiba di Malang dua hari yang lalu.
Saat ini Mbak Tia dan ning Dina sedang dirias sesuai dengan konsep pilihan gus Arga. Kedua calon pasang penganti itu sangat puas atas konsep pilihan gus Arga sesuai dengan keinginan mereka.
Mbak Tia sendiri merasa sangat bahagia dan terharu, kerena iya sangat disayang oleh keluarga Anggara. Dia diperkalukan seperti putri kandung milik keluarga Anggara. semenjak dia bertemu dengan keluarga Anggara. Mbak Tia seperti merasakan memilik keluarga baru lagi.
Apa lagi Abi Misbah sediri yang menikahkan gus Dika dengan Mbak Tia. Sedangkan Gibran juga Kiayi Mansur sendiri juga yang menikahkan dia dengan putri pertamanya Dina.
"Bagimana para saksi sah!" ucap penghulu yang ada disana walaupun dia tidak menjabat tangan kedua mempelai pria, karena kedua orang tau mempelai wanita ingin mereka yang menikahkan putri mereka masing-masing.
"Sah."
"Sah."
"Sah." Ucap semuanya setelah saksi mengucapkan Sah.
"Alhamdulillah." Syukur mereka yang ada didalam ruangan itu.
Umi Rika dan umi Nita menjemput kedua putri mereka agar menemui suami, Mereka masing-masing.
"Mbak Tia ayok ke bawah temui suami mu dan ning Dina juga." Ajak umi Rika.
Mbak Tia tidak menyangka, karena sekarang dia sudah sah menjadi istri orang. Tanpa diminta air mata Tia jatuh begitu saja.
__ADS_1
"Kok nagis Mbak Tar riasnya luntur loh." Ucap umi Rika mengingatkan mbak Tia.
Sedangkan umi Nita dan Dina sudah keluar terlebih dahulu. bukanya berhenti menagis mbak Tia malah semaking deras air matanya yang turun dan langsung memeluk tubuh Umi Rika.
"Umi..." Ucap Mbak Tia disela-sela isak tangisnya yang masih memeluk tubuh umi Rika.
"Umi terimakasih untuk semuanya." Ujarnya lagi, karena dia tidak tau harus bagaimana membalas kebaikan keluarga Anggara.
"Iya Mbak udah ya janggan nangis nanti bedaknya luntur lo kan belum ketemu suaminya." Ucap umi Rika sambil mengusap air mata yang jatuh dipipi Mbak Tia. Setelah merasa Mbak Tia sudah cukup tenang umi Rika membawa Mbak Tia kebawah.
"Mbak Tia nanti kalau udah tinggal sama gus Dika jangan lupa pulang ya main ke rumah.. di Bandung itu masih rumah kamu juga." Ucap umi Rika disela-sela jalan mereka.
"Iya Umi." Jawabnya semakin haru.
"Iya umi Insya Allah." Jawab Mbak Tia malu-malu dan terlihat kaku, kenapa pula umi Rika sudah membahas cucu.
Setelah sampai dibawah. Umi Rika langsung mendudukan Mbak Tia disebelah gus Dika. Mbak Tia mencium punggung tangan gus Dika dan setelahnya gus Dika mencium kening Mbak Tia juga ubun-ubun Mbak Tia. Setelah itu mereka berdua menyusul Gibran dan Dina yang sudah menemui tamu mereka terlebih dahulu.
"Selamat yan Nak." Ucap abi Misbah kepada dua pasang mempelai.
"Terimakasih abi." Jawab mereka kompak.
"Selamat nak semoga kalain bahagia dunia akhirat." Doa umi Rika.
"Gus Dika umi titip Mbak Tia ya jaga dia. umi yakin dia tidak akan menyusahkan kamu dia sudah pantas untuk mengurus suami." Pesan umi Rika pada gus Dika sedangkan Mbak Tia, kembali meneteskan air mata haru tanpa permisi Mbak Tia memeluk umi Rika lagi.
__ADS_1
Mbak jangan nagis malu sama tamu masa pengantinya bedaknya luntur." Canda umi Rika agar suasana bisa mencair.
"Ooh iya maaf Arka tidak bisa datang dia menitipkan salam pada kalian semua dan ini kado untuk kalian dari Arka." Ucap Abi Misbah sambil memberikan kado yang berbentuk sedang. kepada kedua mempelai pria
Ada yang penasaran kado apa yang Arka beli kan untuk mereka?....
Setelahnya umi Rika dan abi Misbah bergabung dengan kiayi Mansur, tak berseling lama gus Arga datang bersamaan dengan ning Aqila juga tanpa disengaja.
"Monggo gus duluan." Ujar ning Aqila terlebih dahulu sebelum gus Arga bicara.
"Gak papa ning, ning Aqila aja duluan." tutur Arga sopan.
"Udah sini berdua inget gak cewek gak boleh didepan cowok. Aku gak iklas kalau lu liat keindahan adekku kalu belum kamu halalin." Timpal gus Dika menengahi keduanya.
Sedangkan ning Aqila yang mendengar ucapan kakak laki-lakinya itu hanya mendelik kesal setelahnya dia menunduk malu. karena gus Arga berusara.
"Emang boleh saya halalin adek kamu sekarang Dika?" ucap gus Arga serius tapi mereka mengira dia sedang bercanda.
"Tinggal adek kakak yang cantik ini yang belum dapet jodohnya." ning Dina dan Aqila berpelukan setelah ning Aqila mengucapakan selamat pada mereka semua.
"Ni jodohnya lagi disini sih." Gus Dika menjawab ucapan ning Dina pada ning Aqila. Sambil menunjuk gus Arga. Dan gus Dika mendapat satu kali tabokan dikepalanya pelan oleh gus Arga. Sedangkan ning Aqila sudah malu setengah hidup oleh abangnya itu.
Bisa-bisanya abangnya itu menjdohkan dirinya dengan gus Arga yang kini berada di hadapan mereka, bahkan gus Arga berdiri tak jauh disebelahnya.
Ning Aqila hanya mampu mengucapkan istighfar di dalam hatinya agar jantungnya yang terasa berdebar itu baik-baik saja.
__ADS_1