USTADZ KEMBAR

USTADZ KEMBAR
Ustadz Kembar


__ADS_3

Setelah diskusi tadi malam. Hari ini pesantren al-hidayah sudah mulai sibuk. Untuk mengurus semuanya. Tentu saja kyai Mansur akan mengadakan acara putri bungsunya lebih megah dari sebelum pernikahan gus Dika dan ning Dina. Karena mereka akan melepas putri bungsu kesayangan semua keluarga kyai Mansur.


Kyai Mansur juga membuat satu undangan untuk teman lama mereka yang pernah menginjakan kaki di Pesantren al-hidayah  bersama gus Arga waktu itu tidak menyangka kecelakaan yang waktu itu menimpa gus Arga bisa membuat teman kyai Mansur bertemu dengan teman lamanya. Yakinlah di setiap musibah pasti ada hikmah di dalamnya.


Satu fakta yang baru abi Misbah dan umi Rika tau ternyata perjuangan putra mereka untuk mendapatkan ning Aqila tidaklah mudah. Terbukti dari pertama kali sampai di Malang gus Arga sudah terkena musibah. Tapi hal ini tidak membuat niat baik gus Arga luntur begitu saja. Bahkan atas kejadian kecelakaan gus Arga waktu itu bisa membuat kiyi Mansur bertemu dengan teman lama mereka. Nanti giliran abi Misbah yang akan bertemu teman lama mereka.


Mbak Tia Sedang menemani gus Arga dan ning Aqila untuk mencoba baju pengantin yang sudah disiapkan oleh gus Arga sendiri dari jauh-jauh hari.


"Subhanallah ning kamu cantik banget, gus Arga emang pinter milih sesuai dan cocok ukurannya juga pas. Kalian berdua memang jodoh" celetuk mbak Tia. Ning Aqila hanya menunduk malu sedangkan gus Arga tersenyum bahagia dia tidak menyangka baju pengantin yang ia beli untuk ning Aqila sangat pas dan cocok di tubuhnya.


"Hem"


"Belum mahrom lek"


Umi Rika yang baru saja bergabung melihat putranya yang terus menatap ning Aqila tanpa memindahkan pandangannya.


"Kenapa umi?" tanyanya polos.


Pura-pura tidak terjadi apa-apa padahal jelas-jelas gus Arga sedari tadi diam-diam memperhatikan ning Aqila. Ning Aqila sendiri merasakan bahwa dia sedang diperhatikan.

__ADS_1


"Gak usah ngeles lek, cepet Istighfar" umi Rika sudah menatap putranya dengan tajam.


"Iya Umi. astagfirullah hal-adzim"


Gus Arga menurut saja dengan Perintah uminya. Sedangkan ning Aqila dan mbak Tia hanya geleng-geleng kepala.


"Subhanallah"


Semua orang yang ada disana menoleh ke sumber suara. Ternyata ning Dina dan umi Nita yang datang bersama ke ruang itu.


"Subhanallah, Adek mbak cantik banget" puji ning Dina ketika dia masuk sudah melihat ning Aqila mengenakan baju pengantin yang gus Arga persiapkan.


Dia berkata sambil berjalan ke arah adiknya itu yang merupakan ning Aqila dan memperhatikannya dari atas sampai bawah.


"Iya lah, calon istri siapa lagi Arga" Dengan pedenya gus Arga berbicara hal demikian.


"Malu lek" umi Rika heren sendiri dengan tingkah putra satunya ini yang biasanya jadi pemalu malah sekarang menjadi seorang yang super pede, mencubit perut gus Arga.


"Iya umi ampun"

__ADS_1


Gus Arga kesakitan ning Aqila yang tadinya sangat malu dengan kata-kata yang terlontar dari mulut gus Arga. Menjadi hilang dengan sekejap atas apa yang ia lihat gus Arga bisa merintih kesakitan atas cubitan yang  umi Rika berikan pada gus Arga padahal tidak seberapa kuat.


Setelah mencoba baju pengantin mereka semua. Keluar dari ruangan itu masing-masing. Gus Arga menuju halaman santri putra dia ingin membantu para santri untuk mempersiapkan acara Pernikahannya. Para umi pergi ke dapur sedangkan mbak Tia juga ning Dina pergi menemui suami mereka masing-masing.


Kini hanya ning Aqila seorang diruangan tersebut. Dia sedang merapikan semuanya yang berantakan. Tadi mereka semua ingin membantu akan tetapi ning aqila menolak karena bisa melakukan semua sendiri.


"Huhh, akhirnya selesai juga, alhamdulillah"


Ning Aqila berbicara pada dirinya sendiri. setelah menyelesaikan semuanya dan dia merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibersihkan ning Aqila berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Tohir sama Mila dimana ya. Mau bilang terimakasih juga, Itu anak berdua kalau dicari entah kemana coba kalau gak dicari pasti tiba-tiba muncul aja" Dalam hati ning Aqila.


Ning Aqila akhirnya menuju taman belakang karena biasanya Tohir dan Mila disana. benar dugaan ning Aqila jika keduanya berada di taman tersebut, entah kenapa Tohir, Mila dan ning Aqila sangat menyukai taman kecil yang berada dibelakang rumah kyai Mansur itu.


"Ada mbak bang sini mbak" Ajak Mila yang melihat kehadiran ning Aqila.


Ning aqila mendekati keduanya tanpa basa-basi langsung bergabung dengan Tohir dan Mila yang sedang menikmati keharuman bunga-bunga yang berada di taman tersebut.


"Mbak mau ngucapin terimakasih sama kalian berdua" Dia berkata seperti itu setelah duduk berdekatan dengan Tohir dan Mila.

__ADS_1


"Sama-sama mbak, Itu tanda sayang kita sama mbak Qila" Jawab Mila mewakili Tohir.


Ketiga nya terus bercerita bersama. Sampai akhirnya Tohir izin untuk membantu santri yang lainnya yang sedang sibuk untuk acara pernikahan Mbak kesayangannya itu.


__ADS_2