VCPD ( Virtua Cop Police Detective )

VCPD ( Virtua Cop Police Detective )
Ilusi Yang Seperti Nyata


__ADS_3

Aso dan Igarashi segera menangkap tubuhku yang hendak terjatuh.


Ava menatapku dari kejauhan dengan rasa khawatir, tapi aku tersenyum kepadanya dan mengisyaratkan padanya kalau aku baik-baik saja.


Kita berlima berjalan menyusuri sebuah koridor di lantai 1. Koridor itu terlihat sangat panjang sekali. Ini aneh sekali. Kurasa kita sudah berjalan jauh tapi disekitar kita masih sangat luas. Bahkan lorong koridor ini masih terlihat sangat panjang dan jauh sekali untuk sampai ke ujung. Padahal kurasa tempat ini tidak terlalu luas. Sepertinya ada yang tidak beres.


"Shin, apa yang terjadi? Daritadi aku melihat lukisan ini." kata Igarashi sambil menunjukkan sebuah lukisan besar gunung Fuji di sebelah kiri kita.


Kita semua langsung menatap lukisan itu. Hhmm ... sebenarnya apa ini?


"Entahlah, kukira tempat ini tak seluas ini. Perasaan kita sudah berjalan lebih dari 1 jam, tapi kita tak sampai-sampai ke ujung sana." keluhku. Dan aku juga sudah mulai lelah dan tidak bertenaga sama sekali.


"Kurasa ada yang tidak beres." kata Shika lalu membuka mini computernya. "Kalau kita melihat dari sini, kita daritadi hanya berputar-putar saja diruangan ini." Shika menunjukkan tatanan dan lokasi di dalam gedung ini. " Padahal yang kita rasakan kita sudah berjalan sangat jauh."


"Shika benar." kata Ava. " Sidho itu pandai sekali melakukan ilusi." Ava melihat sekitar kita dengan seksama.


"Maksudmu ini semacam tipuan?" tanya Aso.


"Yeap, mungkin saja. Aku juga curiga daritadi. Terutama dengan lukisan besar gunung Fuji ini." kata Shika. "Di sebelah kiri kita ada bangunan rusak yang mengakibatkan adanya jurang yang tak bisa kita lewati, disebelah kanan kita ada ruangan gelap yang yang tak mungkin kita lalui karena pencahayaan apapun tak bisa meneranginya. Kurasa itu cuma ilusi saja."


"Kalau kita mencoba melewati salah satunya, Kemungkinan kita bisa keluar dari tempat ini." Shika menyimpulkan.


"Apa iya begitu?" tanya Igarashi.


"Aku tau!" kata Ava tiba-tiba. "Bagaimana kalau kita coba untuk melewatinya ?" Ava berbelok kearah koridor kiri dan berlari. Apa yang dia lakukan? Disitu kan ada jurang! Gawat!


"Ava, awas!" aku hendak berlari mengejarnya, tapi terlambat. Dia sudah terjatuh ke jurang.


Eh, Tapi ... Tidak ... Apa ini? Ava berhasil sampai ke seberang. Apa yang terjadi? Bagaimana Ava bisa sampai di seberang?


"Shin, ini ilusi. Ini bukan jurang!! teriak Ava dari seberang.


Aku menyentuh bebatuan yang seperti jurang itu. Eh, Benar ini bohongan. Ini cuma lantai biasa yang bisa kita lewati. Betapa bodohnya aku! Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal.


"Kalian cepat kesini!" Ava melambaikan tangannya. Aku dan yang lainnya segera menyusul Ava. Hahaha.. Aku berjalan diatas jurang? Seperti terbang saja.


"Shin, cepat!" teriak Igarashi. Eh, ternyata aku sudah ditinggalin deh.


"Eh, tunggu dong!" aku kembali berjalan pelan menyusul mereka. Tapi Ava malah berbalik menyusulku. Sementara Aso, Shika, dan Igarashi sudah mulai berjalan di depan. Jarak kita agak jauh, karena jalanku yang agak lambat.


"Maaf jalanku agak lama." kataku sambil berjalan tertatih. Ava tersenyum menatapku.

__ADS_1


"Aku bantuin ya." lalu Ava memapahku dan membantuku berjalan.


"Hhmm ..." aku tersenyum dan mengangguk saja.


"Terima kasih ya." aku tersenyum menatapnya. Kini jarak kita berdua sangat dekat sekali. Dan aku bisa mencium aroma parfumnya yang sangat lembut. "Tapi, tubuhku berat lo, Ava." godaku.


"Tidak apa-apa. Aku akan tetap membantumu." katanya tulus.


"Oh ya. Bagaimana kau tau kita sedang disini?"


"Aku tau dari Igarashi. Tadi sepulang sekolah tak sengaja aku bertemu dengannya. Aku mengajaknya sore ini untuk les kendo bareng. Tapi ternyata kalian sedang ingin ke markas Sidho. Jadi aku nyusul kesini."


"Kau tau ini terlalu berbahaya untukmu pergi seorang diri." kataku padanya. "Apalagi kau tak memberi tahuku sama sekali. Bagaimana misalnya saja aku tak jadi datang kesini? Apa yang akan dilakukan Sidho padamu coba? Tolong lain kali kemanapun kau akan pergi katakan padaku. Apabila perlu kemanapun kau pergi aku akan mengantarmu untuk memastikan keselamatanmu." kataku panjang lebar.


Ava yang mendengarnya langsung tertawa kecil.


"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" tanyaku bingung.


"Ternyata kau secerewet ini ya, Shin. Aku baru tau." katanya yang masih tertawa. "Padahal dulu aku mengira kau itu sedingin es."


"Aku serius, Ava! Apalagi mereka pernah memperlakukanmu seperti kemarin! Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu?!" kataku serius.


"Ah, Iya ... Iya deh. Lain kali aku akan mengatakan semuanya kepadamu." kata Ava sambil mengedipkan matanya padaku.


"Shin! Jangan bercanda deh!" kata Ava dengan muka sedikit memerah. Kali ini aku yang terkekeh melihat muka merahnya. Gemess deh.


"Hei, kalian! Di situasi begini malah asyik bercanda dan pacaran saja!" kata Igarashi agak kesal.


"Ah.. Kau salah sangka, Iga." kata Ava terlihat sedikit gugup. "Aku dan Shin tidak pacaran kok!"


Aku yang mendengar ucapan Ava ada rasa sedikit kesal sih. Tapi biarlah.


"Iya, Iga! Mana mungkin aku pacaran sama Ava! Kau tau sendiri kan type cewek idealku seperti apa? Aku suka dia yang cantik dan feminim." kataku berbohong sambil melirik Ava yang sedang berada disebelahku. Sontak Ava melepaskanku dan aku terjatuh begitu saja.


"Argghh ..." kataku kesakitan.


"Shin, kau baik-baik saja?" teriak Aso dan Igarashi bersamaan.


"Ah, Maaf, Shin aku tadi sedikit terpeleset." kata Ava dan langsung dengan cepat membantuku berdiri lagi dan memapahku.


Aku menatap Ava dengan muka kesal.

__ADS_1


Sedangkan Ava hanya tersenyum manis dan menjulurkan lidahnya padaku.


"Awas saja ya, suatu saat aku akan membalasmu." kubisikkan itu padanya pelan-pelan.


"Aku tidak takut." balasnya berbisik.


Lalu aku dan Ava segera menyusul Aso, Shika, dan Igarashi kembali.


"Dari tadi kita hanya berjalan memutar saja, karena saat kita mencoba berjalan searah tiba-tiba ada saja bangunan retak yang membuat jurang-jurang kecil. Kalau daritadi kita menyadarinya mungkin kita sudah sampai dari tadi. Nah, sekarang kita akan segera keluar dari tempat ini." kata Shika.


Kita terus berjalan maju. Dan memang benar kata Shika. Selalu ada bangunan roboh di depan yang mengakibatkan adanya jurang-jurang itu. Tapi kita terus melewatinya dan akhirnya kita bisa keluar dari tempat ini.


Tiba-tiba ponselku berdering. Terlihat dilayar nomor baru yang menelponku. Aku langsung menganggkatnya.


"Hallo, siapa ini?" tanyaku.


"Kau berhasil, Shin. Tapi aku tak bisa mengubah keputusanku!" katanya dari seberang.


"Hei! Ini kau, Sidho? Eh, Tapi kan kau sudah berjanji tadi."


"Senang bermain denganmu, Shin."


"Hei! Tunggu!"


Tut ... Tut ... Tut ...


"Sial!" kataku kesal.


"Ada apa, Shin?" tanya Ava.


"Nampaknya sia-sia saja kita melakukan ini. Ayo pulang saja!" kataku putus asa.


"Hei apa maksudmu, Shin?" Aso menghadangku.


"Sudahlah! Aku lelah. Aku mau pulang!" kataku.


"Shin, kita sudah susah payah mengikuti permainan Sidho. Apa kau mau menyerah begitu saja? Hahhh?!" kata Aso sedikit emosi. Dia mencengkeram bahuku dengan sangat kuat.


"Aso. Aku sangat lelah." aku melepas cengkeramannya perlahan.


"Aso, Shin benar! Lebih baik kita pulang saja. Ini sudah malam, dan Shin sudah banyak terluka. Besok kita akan kesini lagi. Kita bicarakan masalah ini bersama dengan kepala dingin. Karena malam ini kita semua sedang kacau." kata Igarashi.

__ADS_1


"Igarashi benar. Lebih baik kita pulang dulu." sahut Ava.


...***...


__ADS_2