VCPD ( Virtua Cop Police Detective )

VCPD ( Virtua Cop Police Detective )
Masa Lalu


__ADS_3

"Yatta! Aku bisa bertemu langsung dong dengan Miyavi-sama!" kata Igarashi kegirangan.


"Idih! Palingan juga gantengan aku kok." sahut Ibby.


"Iya. Tapi kalau dilihat dari Menara Tokyo!" canda Aso lalu terkekeh.


"Enak aja!" sahut Ibby tak terima.


"By the way aku dapat tiket liburan dari Pak Kepala sekolah nih." kataku sambil mengeluarkan 15 tiket itu.


Hakken langsung mengambilnya.


"Wah, Kyoto? Bukannya kita juga akan berlibur kesana liburan nanti?" kata Hakken.


"Benar sekali. Pak Kepala Sekolah mendengar kita akan liburan musim panas ke Kyoto. Makanya dia memberikan itu kepada kita." sahutku.


"Tapi ini ada 15 tiket?" sahut Lee. "Siapa lagi yang akan ikut dengan kita?"


"Ajak juga Sidho, Yama, dan Ichi!!" usul Ibby.


"Boleh." sahutku.


"Aku ajak Ava ya. Masa iya aku cewek sendirian." kata Igarashi.


"Good idea!" sahutku.


"Ah. Iyalah. Pasti kalau Iga nggak ngajak Ava. Shin pun akan tetap mengajak Ava kok!" sahut Aso menggodaku.


"Tenang saja, Aso. Kau juga boleh mengajak Yuko kok." kataku menggoda Aso. Dan muka Aso seketika memerah.


Aku tertawa menatap Aso. "Ah sahabatku jadi malu." godaku. "Kalau kau malu untuk mengajaknya. Biarkan aku yang mewakilimu untuk mengajaknya deh."


"Jangan! Aku sendiri yang akan mengajaknya." kata Aso cepat.


"Well, Oke." sahutku masih tertawa kecil.


"Jadi yang akan ikut adalah Shin, Aso, aku, Ibby, Igarashi, Hakken, Lee, Sidho, Yama, Ichi, Ava, dan Yuko. Ehm. Masih ada 3 tiket lagi." kata Shika.


Kita semua diam berpikir. Siapa lagi yang akan kita ajak ya?


"Ajak Ai juga. Kemungkinan Yuko akan merasa sedikit tak enak jika Ai tidak ikut." Usul Igarashi.


"Baik. Berarti tinggal 2 tiket lagi." kataku. " Hhm, Sisanya nanti saja deh. Mana tau kakak Aso atau kakak Ibby mau ikut."


"Oke deh." sahut Igarashi sambil mencatat siapa saja yang akan ikut.


"Oya. Shin, Lihat ini!" Aso mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. Dia membuka sebuah halaman dan menyodorkan majalah itu padaku. Lalu aku membacanya.


"Norie?" kataku


Ibby langsung merebut majalah itu dariku dan segera membacanya.


"Norie Amane, seorang model dari Osaka memutuskan untuk tidak." kata Ibby yang terus membaca berita itu. Tapi aku tak mau dengar.


Aku tak peduli.


"Jadi dia seorang model ya sekarang? Wah, Hebat!" sahut Igarashi.


"Bukannya dia mantanmu ya, Shin?" tanya Aso.


"Hhm.." sahutku malas.


"Disini dituliskan dia sedang di Yokohama untuk mencari masa lalunya." kata Ibby.

__ADS_1


"Masa lalunya? Kaukah itu, Shin?" Aso menerka.


"Entahlah ..." sahutku malas. "Tapi beberapa hari yang lalu dia mengirimku email."


"Serius?" tanya Igarashi antusias.


"Hhm .."


"Apa isinya?" tanya Shika ikut-ikutan.


"Dia mengajakku untuk bertemu." aku menyedakepkan kedua tanganku dan menerawang jauh.


Hakken yang penasaran langsung membuka Insta Norie untuk melihat seperti apa Norie itu.


"Wah, Serius ini adalah mantan kekasihmu, Shin?" tanya Hakken sambil menunjukkan foto-foto Norie di Insta padaku.


Aku melihatnya sekilas.


"Ya ..." sahutku malas.


"Wah, Ini sih sempurna! Cantik dan anggun sekali. Seperti bidadari." sahut Hakken sambil melihat kembali foto-foto Norie.


"Mana coba!" Lee ikut-ikutan melihatnya bersama Hakken.


"Hakken benar sekali. Dia sangat cantik dan berkelas." Lee ikut berkomentar.


"Kalian sudah bertemu?" tanya Ibby padaku.


"Belum. Aku bahkan tak membalas Emailnya." aku berdiri dan bejalan beberapa langkah. Lalu berbalik menatap mereka.


"Menurut kalian bagaimana?" tanyaku meminta pendapat mereka.


"Mungkin ada sesuatu yang mau dia bicarakan denganmu, Shin." kata Shika.


"Dia adalah masa lalulu." kataku. "Dan dia sudah mempermainkan aku saat itu..!!" kataku tajam.


"Shin. Itu kan dulu waktu kalian masih anak-anak. Mungkin saja cara berpikir kalian akan berubah sekarang." kata Aso bijak.


"Lalu Ava?" tanya Igarashi.


"Arrgghh! Sudahlah!" kataku pusing. "Aku tak mau memikirkannya. Aku pulang dulu ya. Bye semua." kuraih tas sekolahku dan bergegas pergi dari kelas.


Aku menyusuri jalan kota dengan mengendarai motorku. Dan berhenti di tempat les judo. Aku memutuskan untuk kembali berlatih judo. Biasanya jika aku sedang ada masalah aku selalu menghabiskan waktuku untuk berlatih kendo, judo atau bahkan pergi ke game centre. Di tempat itulah aku akan meluapkan dan melampiaskan segala emosiku.


Aku berulang kali mengalahkan lawan kompetisiku hari ini. Dan aku melakukan kompetisi itu seakan-akan aku benar-benar melawan seorang musuh.


"Cukup, Shin! Dia sudah kalah!" pelatihku mengingatkanku karena aku terus menyerang lawanku.


Aku segera melepaskan lawanku.


"Maaf. Aku hanya terlalu bersemangat." kataku padanya.


"It's Okay." sahutnya meringis kesakitan.


Lebih baik aku menyudahinya hari ini atau aku akan benar-benar mematahkan tulang-tulangnya.


Aku memutuskan untuk melanjutkan pergi ke game centre. Aku banyak bermain beberapa game hari ini. Dan aku memenangkan beberapa hadiah. Bahkan aku memenangkan beberapa boneka.


"Hah ... Buat apa dong boneka ini?" aku menatap bingung boneka-boneka itu.


Tiba-tiba aku melihat anak kecil yang menangis di sebuah kursi sendirian. Lalu aku menghampirinya.


"Kenapa mengangis, Dek?" aku jongkok di hadapan anak kecil itu.

__ADS_1


"Aku tersesat, Kak. Aku sedang asyik bermain tapi tiba-tiba Ibuku sudah tidak ada." anak kecil tadi kembali menangis.


"Ah, Kakak akan segera mempertemukan kalian. Kakak akan segera menemukan kembali ibumu." kataku lalu mengelus kepala anak yang kira-kira berusia 5 tahun itu.


"Beneran kak?" tanyanya menghentikkan tangisnya.


"Tentu saja." aku tersenyum menatapnya. "Oh iya siapa namamu?"


"Namaku Kagura. Kagura Yamamoto." katanya lucu.


"Baiklah. Kakak punya ini buat Kagura." aku memberikan beberapa boneka hadiahku tadi untuknya.


"Semuanya untukku, Kak?"


Aku mengangguk dan tersenyum padanya.


Dia terlihat sangat senang. Hingga melompat-lompat kegirangan.


"Terima kasih kakak ganteng!" sahutnya.


Aku tertawa melihat tingkahnya yang lucu.


"Yuk kita cari ibumu." kataku lalu menggandengnya.


"Aku maunya digendong kakak."


"Boleh." aku langsung menggendong anak itu. Dan aku membawanya ke lantai bawah ke tempat informasi.


Dari kejauhan aku melihat seorang wanita yang sedang menangis di tempat informasi. Aku menyipitkan mataku sambil terus berjalan mendekatinya.


"Tolong segera temukan anakku! Dia masih kecil. Aku takut sekali dia akan kenapa-kenapa." wanita tadi berkata kepada petugas informasi sambil terisak.


"Seperti apa ciri-ciri anaknya, Bu?" tanya petugas.


"Dia berusia 5 tahun. Dia memakai sweater putih, celana putih. Dia berambut lurus, hitam sebahu."


Aku yang dibelakang mendengarkan ibu tadi menjelaskan ciri-ciri anak itu segera melihat bocah yang sedang aku gendong. Ciri-cirinya persis dengan bocah ini. Si bocah sedang asyik bermain boneka saat aku menggendongnya. Jadi tidak melihat kanan kiri.


"Maaf ..." aku memotong pembicaraan wanita itu dengan petugas.


Wanita itu menoleh ke arahku dan menatap anak yang sedang aku gendong.


"Kagura!" teriak wanita itu langsung merebut bocah itu dariku.


"Ibu!" kata Kagura senang.


"Aku menemukannya di dekat game centre." kataku pada wanita tadi.


"Terima kasih telah menemukan Kagura!" wanita itu sedikit membungkukkan badannya padaku.


"Tidak usah begitu." kataku tak enak. "Aku senang kok bermain dengannya."


"Iya, Bu. Bahkan kakak ganteng memberiku banyak boneka ini." Kagura tersenyum manis menunjukkan beberapa giginya yang sudah ompong. Lucunya.


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih." kata wanita itu lagi. "Aku sudah takut sekali tadi." wanita itu memeluk Kagura erat.


Aku tersenyum menatap mereka. Dan tiba-tiba senyumanku memudar perlahan.


Ibu ... Aku jadi teringat dengan ibu.


Ibu ... Aku merindukanmu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2