
Di ruang introgasi.
Dua orang Polisi sedang mengintrogasi pria itu.
Sedangkan aku dan VCPD lainnya menyaksikannya di ruang sebelah dibalik layar.
"Siapa kau? Kenapa kau menembak CEO Fujiwara?" tanya seorang polisi.
"A.. Aku hanya menjalankan tugas." jawab pria itu sedikit ketakutan.
"Siapa yang menyuruhmu?" Polisi Kanagawa terus mendesaknya.
"Aku tidak bisa mengatakannya." pria itu menunduk dan gemetaran.
"Kalau kau mengatakannya. Maka kami akan mengurangi hukumanmu. Kami akan memberikan dispensasi untukmu." kata salah satu Polisi yang sedang mengintrogasinya.
"Tidak! Dia akan membunuhku jika aku memberitahukannya!" kata pria itu sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya ketakutan.
"Kami akan menjamin keselamatanmu." kata seorang Polisi.
"Tidak! Dia pria yang sangat menakutkan! Aku akan mati ditangannya jika aku buka mulut!" kata pria itu semakin frustasi.
"Kau akan aman di bawah kami. Dia tidak akan bisa membunuhmu. Kami akan menjamin keselamatanmu. Percayalah!" kata seorang Polisi.
Pria tadi memberanikan diri mendongak menatap kedua Polisi itu.
"Benarkah kalian akan menjamin keselamatanku?"
"Ya. Asal kau katakan siapa pria yang sudah menyuruhmu untuk menembak CEO Fujiwara." kata Polisi yang sedang duduk di hadapan pria itu.
"A.. Aku telah disuruh oleh seorang pria yang sangat menakutkan. Namanya Satoru."
"Siapa Satoru?" tanya seorang Polisi.
"Aku juga tidak tau." kata pria itu masih gemetaran.
" Brakkk!"
Seorang Polisi menggebrak meja.
"Jangan bermain-main dan bertele-tele!" kata Polisi itu.
"Aku sungguh tak begitu mengenalnya. Tapi aku tau sedikit tentang dia. Dia adalah pemilik dari Heaven Bar." kata pria tadi beringsut.
"Heaven Bar?"
"I.. Iya.."
"Baik. Kami akan menyeledikinya dahulu. Awas saja kalau berani mempermainkan kami." kata salah satu Polisi dan langsung keluar dari ruangan itu.
Tak lama kemudian Polisi itu muncul di hadapanku.
"Shin. Kita harus mencari tau dan menangkap pemilik Heaven Bar." kata Polisi yang baru keluar dari ruang introgasi itu.
__ADS_1
"Serahkan kepada kami, Pak." kataku serius. "Kita akan segera menangkapnya."
...***...
"Shika. Tolong cari tau tentang Satoru si pemilik Heaven Bar! Sedidiki dia!" perintahku kepada Shika.
"Baik, Shin." sahut Shika yang mulai sibuk dengan miny computernya.
"Bagaimana kalau kita pergi ke Heaven Bar? Dan menyamar sebagai tamu?" usul Ibby.
"Ide bagus." sahut Lee.
"Tidak semudah itu." sahut Aso. "Kudengar Satoru itu sangat sulit untuk ditemui."
"Kau benar, Aso. Untuk bertemu dengannya itu adalah sesuatu yang sangat sulit." sahut Shika.
"Aku ada ide!" sahut Hakken berbinar.
"Katakan idemu, Hakken!" sahutku.
Hakken tersenyum memperlihatkan susunan giginya yang putih dan rapi sambil memberi kode kepada kita untuk mendekat padanya.
Kita semua mendekat ke arah Hakken.
"Apa idemu?" tanya Lee tak sabar.
"Aku sedikit tau tentang yang begituan. Biasanya mereka selalu mengundang wanita untuk melayani mereka. Sebuah undangan spesial." sahut Hakken sambil mengangkat salah satu alisnya.
"Maksudmu?" todong Igarashi.
"Tapi siapa yang akan menyamar?" tanya Aso.
Hakken menatap Igarashi dan tersenyum misterius.
"Hei! Maksudmu aku?" Igarashi menerka.
"Yeap. Karena kau satu-satunya wanita tulen disini." sahut Hakken.
"Tidak mungkin kita membiarkan Igarashi pergi kesana sendirian. Itu akan sangat berbahaya." sahut Aso.
"Hhm, beberapa dari kita akan ikut menyamar. Tapi tidak semua, atau mereka akan curiga." sahutku.
"Menyamar menjadi seorang gadis?" sahut Ibby sedikit shock dan membulatkan matanya.
"Tentu saja." sahut Hakken menjentikkan tangannya.
"Mereka punya relasi kuat dengan Madam Gee. Bahkan wanita-wanita yang pernah didatangkan untuk Satoru si CEO Heaven Club adalah berasal dari Madam Gee." sahut Shika yang masih sibuk dengan miny computernya.
"Madam Gee?" celutuk Ibby.
"Kau tau sesuatu, Ibby?" tanyaku.
"Ya. Kak Yuna sangat mengenal baik Madam Gee. Dia pernah mengatakan padaku kalau Madam Gee adalah seniornya dulu saat kuliah." sahut Ibby.
__ADS_1
"Oke. Kita akan menemui kak Yuna secepatnya!" sahutku.
...***...
Setelah menceritakan semua kepada Kak Yuna, kakak Ibby dia bersedia membantu kita. Malam ini kita akan melakukan pertemuan khusus untuk bertemu dengan Madam Gee.
Malam ini aku datang bersama Kak Yuna, Igarashi dan Aso.
Ya, akhirnya aku, Igarashi dan Aso lah yang akan menyamar menjadi seorang gadis untuk menjadi wanita-wanita panggilan itu.
Aku sempat sangat keberatan untuk penyamaran kali ini. Bayangkan saja seorang Rheu Mitzuru berdandan dan mengenakan pakaian wanita? Oh, Tidak! ๐
Kita berempat memasuki sebuah club milik Madam Gee. Dan betapa terkejutnya aku disana aku melihat Ava sedang duduk di sebuah bangku.
"Sory kita sedikit terlambat." kata kak Yuna kepada Ava.
"Ava. Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku akan ikut bersama kalian!" Ava menatapku lurus-lurus.
"Apa maksudmu?" tanyaku tak mengerti.
"Shin. Maaf kakak lupa untuk memberitahumu. Jadi, Ava akan ikut melakukan penyamaran bersama kalian." jelas kak Yuna yang membuatku sangat terkejut.
"Tapi kenapa kau mau melakukannya? Pulang dan serahkan semua ini pada kita!" kataku memintanya untuk segera pergi. Ini akan sangat berbahaya untuknya. Dan sebenarnya aku sedikit khawatir padanya.
"Tidak, Shin. Aku akan menemukan orang yang membunuh Om!" kata Ava menatapku tajam.
"Tapi ini sangat berbahaya untukmu." kataku.
"Jangan pikirkan aku!" katanya tajam. "Kak, ayo masuk!" Ava menatap kak Yuna untuk segera memasuki Club itu. Kak Yuna sempat melirikku tapi dia hanya tersenyum padaku. Mereka mulai memasuki Club itu dan dengan terpaksa aku segera mengikutinya.
Kita mendapatkan sambutan hangat dari mereka. Gadis-gadis yang berpakaian sangat sexy yang sepertinya pekerja mereka menyambut kita dengan baik.
Beberapa gadis mulai menarikku untuk mengikutinya. Aku hanya bisa mengikutinya saja.
Mereka menggiring kita menuju suatu tempat. Tempat yang seperti sebuah panggung yang sangat gemerlapan.
Gadis-gadis itu memaksaku untuk duduk di sebuah bangku bersamanya. Sesekali mereka menggodaku. Sementara Aso, Igarashi, Ava dan kak Yuna juga mendapat perlakuan yang sama sepertiku. Tetapi kita saling terpisah dan duduk di bangku yang berbeda.
"Kau pria tertampan yang pernah aku temui." kata salah satu dari mereka. Gadis itu memeluk dan menarik lengan kananku.
"Benar sekali, kau juga sangat imut." sahut gadis lainnya yang juga sedang memeluk lengan kiriku.
"Siapa tadi namamu, tampan?" sahut gadis lainnya yang sedang memeluk leherku dari arah belakang.
"Kalian diamlah! Aku pusing sekali!" kataku sedikit kesal. Sesekali aku berusaha melepas jeratan dari para gadis itu.
"Ah. Kau sangat dingin rupanya." kata salah satu dari mereka sambil tertawa kecil.
"Kau semakin menggoda dan membuatku penasaran." sahut gadis yang berada di sisi kananku. Dia malah semakin kuat memeluk lenganku.
"Oh, Sial!" kataku kesal.
__ADS_1
Mereka bertiga tertawa kecil melihatku.
"Sangat menggemaskan.." kata yang sedang memelukku dari belakang.