
"Jadi yang akan menjadi calon istri kak Shu adalah Norie?" tanya Aso sedikit tak percaya.
Aku mengangguk tanpa ekspresi. Aku membuka-buka sebuah buku yang sedang berada dihadapanku saat ini, tanpa membacanya.
"Tapi kenapa bisa?" tanya Ibby bingung.
"Mama Norie dan kakek Kekaishi menjodohkan Norie dan Kak Shu begitu saja? Apa mereka sama sekali tidak mengetahui berita yang kemarin beredar itu?" tanya Igarashi bingung.
"Entahlah. Tapi sepertinya Norie masih marah padaku ..." kataku pelan.
"Bukannya masalah kalian sudah selesai?" tanya Aso.
"Aku juga berpikir seperti itu awalnya. Tapi malam itu aku masih bisa merasakan kemarahan dan kekecewaan Norie padaku. Aku tak mau merusak perjodohan mereka. Kalau Norie seperti ini terus, aku khawatir perjodohan ini akan berantakan." kataku pelan.
"Kalau begitu temuilah dia! Bereskan semua masalah kalian!" kata Shika menyarankan.
"Aku juga berpikiran seperti itu, Shika. Tapi harus bicara apa lagi padanya? Aku sudah mengeluarkan semua uneg-unegku malam itu padanya." sahutku.
"Aku tau pasti Norie masih terpukul dengan keputusanmu saat itu. Ditambah lagi tiba-tiba saja dia dijodohkan dengan kakakmu. Dan harus sering bertemu denganmu juga. Bagaimana mau melupakan coba?" gerutu Igarashi.
"Aku tidak menyuruh dia untuk melupakanku, Iga. Aku malah menawarkan pertemanan dan persahabatan dengannya." kataku.
"Tidak semudah itu, Shin. Pria dan wanita adalah dua makhluk yang sangat berbeda. Jika pria mengandalkan logika, maka wanita akan lebih mengandalkan perasaannya." sahut Igarashi.
"Itulah ribetnya wanita ..." celutuk Ibby.
"Memang pada dasarnya seperti itu, Ibby!" sahut Igarashi.
"Hhm. Baiklah! Aku akan mengajaknya bertemu kembali dan meluruskan semuanya." sahutku.
Aku segera meraih ponselku tanpa pikir panjang. Aku mulai mencari nomor Norie di dalam kontakku lalu menelponnya. Tapi dia tidak mengangkatnya.
"Hubungi dia lagi!" kata Shika merintah.
Aku nurut saja dan kembali menghubungi Norie. Kali ini dia juga tidak mengangkatnya.
"Percuma. Dia tak akan mengangkatnya ..." kataku putus asa sambil melempar ponselku di atas meja. Igarashi segera mengambil ponselku dan berusaha menghubungi nomor Norie kembali.
Setelah berapa saat menunggu, mata Igarashi membulat dan segera memberikan ponsel itu padaku.
"Dia mengangkatnya!" bisiknya padaku.
Aku segera meraih ponselku dan berbicara pada Norie.
"Hallo ..." sapaku.
"Ada apa, Shin?" tanya Norie dari seberang.
"Hari ini apa kau ada waktu? Aku ingin bertemu denganmu." kataku pelan. Sementara Igarashi, Aso dan Ibby saling mendekat untuk menguping percakapan kita.
"Hari ini aku sangat sibuk. Akan ada pemotretan sampai malam."
__ADS_1
"Aku akan menunggunya ..." kataku pelan.
"Kau yakin akan menungguku?"
"Iya. Hubungi aku saat kau sudah selesai."
"Tidak, Shin. Itu akan sangat malam sekali. Bahkan jarak tempuh Kanagawa ke Tokyo tidaklah dekat."
"Tapi, Norie ..."
"Kita akan bertemu besok saja. Bagaimana? Besok aku ada pemotretan di Kanagawa. Aku akan mampir sebentar."
"Baiklah." kataku sedikit lega. "Kabari aku besok kalau kau sudah luang ya ..."
"Hhm. Aku harus segera kembali, Shin. Manager sudah memanggilku ..."
"Baiklah. Sampai jumpa besok ..."
"Yeap ..."
Setelah itu Norie mematikan telponnya. Dan aku merasa sedikit lega.
"Syukurlah ..." kata Igarashi sedikit lega. "Aku kira dia nggak akan mau lagi menerima ajakan untuk bertemu denganmu, Shin."
"Iga. Kau kan seorang gadis. Dan tentu pasti tau gimana yang Norie mau. Coba katakan dan ajari aku dong aku harus bagaimana besok?" kataku menatap Igarashi serius.
"Hhm ..." Igarashi memutar bola matanya dan terlihat sedang berpikir. "Oke, aku akan mengajarimu. Tapi aku mau kau traktir aku di cafe depan sekolah!"
"Oke, Deal!" kataku cepat.
"Jadi Igarashi aja nih yang kau traktir? Bahkan kita juga ikut mengkhawatirkan masalahmu lho ..." celutuk Ibby dengan mengkerutkan keningnya.
"Kalian semua akan aku traktir deh! Ajak Hakken dan Lee juga ya. Pulang sekolah kita ke sana!" kataku lalu bergegas pergi dari kelas.
"Siap, Leader!" sahut mereka yang masih tertawa.
Gavin dimana ya? Setelah istirahat dia langsung ngeloyor pergi saja. Eh, Memang iya ya? Namanya juga istirahat. Ahahaha ...
Aku berjalan menyusuri lorong sekolah menuju kantin. Lapar juga nih, kenapa aku tidak mengajak salah satu dari mereka sih tadi. Jadi sendirian deh!
Saat di kantin aku melihat Sidho, Yama dan Ichi yang sedang menikmati ramen mereka. Aku segera bergabung dengan mereka.
"Bi, ramen satu ya!" teriakku kepada bibi kantin.
"Shin. Kau tumben sendirian. Mana yang lain?" tanya Sidho yang menyadari kedatanganku.
"Mereka di kelas. Tumben nggak pada pergi ke kantin ..." celutukku.
"Oya, akhir pekan jadi kan kita ke Kyoto?" tanya Sidho lagi.
"Jadi dong!" sahutku.
__ADS_1
"Igarashi juga ikut kan, Shin?" tanya Yama antusias.
"Yeap. Dia ikut kok."
Tak lama kemudian bibi kantin datang membawakan semangkok ramen untukku.
"Minumnya apa, Shin?"
"Nanti saja aku akan ambil sendiri di lemari es, Bi." sahutku.
"Oke deh ..." katanya lalu pergi meninggalkan kita. Aku mulai menikmati ramenku.
"Kita juga akan ke pantai kan, Shin?" tanya Yama antusias.
"Yeap ..." sahutku sambil menyeduh ramenku.
"Aku tak sabar melihat Igarashi yang cantik dengan bikininya ..." kata Yama konyol. Dan dia mulai membayangkan sesuatu dan tersenyum sendiri.
"Dasar otak mesum kau!" celutuk Ichi yang sedikit terkekeh.
"Jadi kau beneran jatuh cinta dengan Igarashi ya, Yama?" godaku pada Yama.
"Tentu saja. Bahkan kita sudah berciuman saat itu ..." sahut Yama konyol. "Dia sangat manis dan menggoda. Bahkan bibirnya sangat lembut sekali seperti kapas ..."
"Uhukkk ..." aku tersedak. "Panas sekali ramen ini!" kataku lalu cepat-cepat mengambil air minum Sidho karena aku belum mengambil minumanku.
"Pelan-pelan, Shin. Jangan kau dengarkan Yama! Makan saja dulu atau selanjutnya kau akan tersedak lagi. Dia memang konyol!" kata Ichi.
"Dih ... Kau ini sedang di mabuk cinta!" sahut Sidho lalu melempar Yama dengan bukunya.
"Kaya nggak pernah jatuh cinta aja kalian ini!" celutuk Yama.
"Nggak pernah tuh!" sahut Ichi lalu meneguk minumannya.
"Iyalah. Kau kan belum pernah pacaran!" sahut Yama.
"Kau juga belum pernah pun pacaran!" kata Ichi tak mau kalah.
"Aku pernah ya! Tapi dulu sekali!"
"Benarkah? Kenapa tak pernah kau ceritakan kepada kita, Yama?"
"Ah. Ngapain cerita soal masa lalu! Yang terpenting adalah masa depan. Igarashi-ku ..." celutuk Yama sambil tersenyum lebar.
"Ni anak beneran sedang mabuk!" kata Sidho lalu tertawa terkekeh. Aku ikut tertawa lalu bangkit untuk mengambil minuman dingin di vending mesin.
"Kau suka Cola ya?" kata seseorang yang sedang berdiri disampingku. Aku menatapnya. Dan ternyata dia adalah Gavin.
"Kau mau?" tanyaku ramah dan tersenyum padanya.
"Boleh ..." sahutnya ramah dan tersenyum padaku.
__ADS_1
Setelah itu aku mengajak Gavin untuk bergabung denganku bersama Sidho, Yama dan Ichi.
...***...