VCPD ( Virtua Cop Police Detective )

VCPD ( Virtua Cop Police Detective )
Menjemput Kakak


__ADS_3

"Dulu aku tidak yakin akan mengatakannya kepada kakak. Tapi, sebelum aku pergi aku ingin kakak mengetahui semua ini. Aku suka kakak. Aku suka sekali dengan kakak." katanya yang sudah kembali terisak.


"Ai ..." Aku tidak tau apa yang harus aku perbuat sekarang ini. Dia sangat baik. Tapi aku tak akan mungkin membalas perasaannya. Karena selama ini aku sudah menganggap dia sebagai adikku sendiri. Tapi aku tak tega melihatnya seperti ini.


Melihat Ai membuatku kembali teringat dengan Yuko. Yuko yang pernah aku sukai. Ah tidak! Kini aku sudah tidak menyukainya lagi. Bahkan aku sudah melupakannya dengan baik.


Aku mengulurkan tanganku dan tersenyum padanya.


"Kak Rheu ..." Ai mendongak menatapku.


"Ayo! Katanya mau bersamaku hari ini."


"Hhm, Iya." dia segera mengusap air matanya lalu menerima uluran tanganku.


Aku segera mengambil mobil VCPD yang kutitipkan di Cafe belakang sekolah, kebetulan hari ini aku membawa mobil.


"Hari ini aku mau menjemput kakakku di Bandara. Kau tidak keberatan kan?" tanyaku saat di dalam mobil.


"Tidak, Kak. Bersama kakak saja aku sudah merasa sangat senang." katanya sambil tersenyum.


"Benarkah? Tapi janji padaku ya. Saat kau sudah pergi nanti. Jangan pernah nangis lagi ya! Karena kalau Ai tidak menangis, maka akan tambah manis deh." kataku sambil tersenyum padanya.


"Hhm. Aku janji kak." sahutnya sambil tersenyum lebar.


Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku melihat layar ponselku, ternyata Ava yang menelponku. Aku segera mengangkat telepon dari Ava.


"Hallo, Ada apa, Va?"


"Kau bolos lagi ya, Shin?" kata Ava dari seberang.


"Ehm, Habis aku disuruh kakek untuk menjemput kakak."


"Kakak? Kau kan tidak punya kakak!" katanya sedikit curiga. "Jangan-jangan saat ini kau sedang berkencan dengan gadis lain ya?" tuduhnya.


"Ava! Ngomong apaan sih kamu ini. Mana mungkin aku melakukannya."


"Awas saja kalau berani membohongiku ya!"


Tutt ... Tutt ... Tutt ...


Aduh ... Malah ditutup lagi. Gawat nih kalau sampai ketahuan Ava aku sedang bersama Ai. Bisa salah sangka nanti dia. Bagaimana ya? Hhm ...


Para gadis ini terkadang sungguh membingungkan.


Sesuka hatinya saja main tuduh orang.


"Kak Rheu kenapa?" tanya Ai yang membuyarkan anganku.

__ADS_1


"Eh, Ehm. Tidak apa-apa kok."


Aku mulai mengemudikan mobilku dan akhirnya sampai di Bandara tepat waktu. Yah karena aku tiba di bandara 15 menit sebelum pesawat kakak landing.


Aku membawa sebuah sebuah kertas berukuran kira-kira 30 cm x 30cm bertuliskan Shu Mitzuru. Habis aku kan belum pernah bertemu kak Shu sebelumnya. Jadi aku tidak tau orangnya seperti apa. Aku menunggu bersama Ai di Kedatangan.


Sudah 1 jam aku dan Ai disini, tapi tidak ada penumpang dari Seoul yang menghampiriku. Dimana kak Shu ya?


Tiba-tiba ada yang menabrakku dari arah belakang. Dan akupun terjatuh.


"Hei, kau pikir bandara ini punya nenek moyangmu yang bisa kau pakai untuk lari maraton ya!" kataku sangat kesal.


"Maaf tapi aku buru-buru." kata pria yang menabrakku tadi, lalu dia kembali berlari.


Ai mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.


"Dasar!" kataku lalu kuambil kertas besarku yang tadi terjatuh.


"Kak Rheu tidak apa-apa?" tanya Ai.


"Tidak kok. Ayo kita cari kearah sana!" aku menunjuk arah selatan dan hendak pergi bersama Ai tapi tiba-tiba ...


"Tolong! Tolong! Ada yang mencopet dompetku!" teriak seorang ibu-ibu.


"Ke arah mana pencopet itu, Nyonya?" tanyaku padanya.


"Ai, kau tunggu disini dulu ya. Aku akan mengejar pencopet itu!!" kataku kepada Ai.


"Hmm, Iya kak." Ai mengangguk.


Tapi belum sempat aku pergi untuk mengejar pencopet itu, tiba-tiba cowok yang menabrakku tadi datang lagi.


"Ini milik anda, Nyonya?" katanya sambil memberikan sebuah dompet kepada Ibu tadi.


"Pencopetnya sudah ditangkap oleh pihak keamanan sini."


"Oh, Anak muda. Terima kasih banyak." kata Ibu tadi sambil menerima dompetnya kembali. "Ini untukmu. Ini adalah semacam jimat keberuntungan." Ibu tadi memberikan sebuah jimat seperti gantungan kunci kepada pria tadi.


"Terima kasih banyak, Nyonya." pria tadi menerima jimat itu dan membungkukkan badannya.


Setelah itu ibu-ibu tadi pergi. Entah kenapa aku merasa sangat kesal melihat ini semua.


Dasar! Siapa sih pria ini l? Menyebalkan sekali dia.


Pria tadi kini menatapku lalu melihat kertas yang aku bawa tadi. Dan dia membacanya mungkin.


"Lebih baik kau segera pulang!" kata pria tadi lalu dia pergi meninggalkanku.

__ADS_1


"Hei! Apa maksudmu?" teriakku tapi dia tidak menghiraukanku sama sekali.


Aku dan Ai kembali mencari kak Shu. Sebenarnya dia dimana sih? Apa pesawatnya delay? Atau dia tidak jadi terbang ke Jepang hari ini?


Hah ... Sial! Ini sudah jam 4 pm. Tapi aku juga tidak menemukan kak Shu.


"Ai, kita pulang yuk! Mungkin kak Shu tidak jadi ke Jepang." kataku sedikit putus asa.


"Ehm, Apa tidak apa-apa kita pulang, Kak?"


"Tidak apa-apa kok." Aku melepas gelang kesayanganku. "Ini untukmu. Yah, meskipun tidak seberapa. Tapi anggap sebagai kenang-kenangan dariku."


"Hhm, Iya kak. Terima kasih banyak ya kak." dia menerima gelang itu dengan senyuman lebar. Tampaknya dia sangat senang sekali. Lalu dia mencari sesuatu di dalam ranselnya.


"Ini untuk kakak." dia memberiku sebuah bingkisan.


"Apa ini?"


"Syall. Aku merajutnya sendiri kak."


"Wah, Terima kasih ya. Aku akan memakainya saat musim dingin nanti." aku menunduk dan mengelus kepalanya sambil tersenyum. "Ai, kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Jaga dirimu baik-baik ya saat disana! Jangan bandel dan nyusahin orang tua ya. Oke?"


"Adik ya?" katanya pelan, tapi dia tiba-tiba tersenyum. "Iya kak. Aku akan selalu ingat pesan kakak itu. Tapi sebelum aku berpisah dengan kakak. Apa boleh aku meminta sesuatu?"


"Ehm, Tentu saja!" aku masih menunduk dan menatapnya bak seorang kakak yang menyayangi adiknya. "Katakan saja!"


"Aku ingin dipeluk kakak ..." katanya pelan, lalu tiba-tiba dia seperti mau menangis.


Memang permintaanya yang satu ini sempat membuatku sedikit kaget.


Tapi akhirnya ...


Aku memeluknya.


"Kau kan sudah janji tadi tidak akan menangis lagi."


"Iya kak. Maaf. Aku tidak akan pernah melupakan hari ini." kata Ai pelan. "Aku akan selalu merindukan kakak. Aku sayang kakak."


Ai... Andai ada yang bisa aku perbuat. Maafkan aku, Ai. Tapi aku tidak bisa. Kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri.


"Ini sudah sangat sore." aku melepas pelukanku.


"Kuantar kau pulang ya. Nanti malah orang tuamu cemas kau belum pulang sekolah." aku tersenyum hangat padanya.


"Hmm, Iya kak." Ai mengangguk dan tersenyum manis.


Aku segera mengantarkan Ai pulang. Setelah mengantarnya, aku memutuskan untuk segera pulang ke rumah.

__ADS_1


...***...


__ADS_2