
Wanita itu sedang asyik berbincang dengan kakek. Hingga beberapa saat tiba-tiba datang seorang gadis. Seorang gadis yang sangat aku kenal. Dan aku sedikit terkejut melihatnya. Dia juga terlihat sangat terkejut saat melihatku.
Dia sudah berdandan rapi dan cantik dengan balutan dress selutut berwarna putih. Rambutnya warnanya sudah tidak merah muda lagi, tapi agak kecoklatan. Hhm, seperti inikah dunia entertaiment? Hampir setiap hari berganti penampilan?
Tapi apa yang sedang dia lakukan disini ya? Apa dia juga tinggal disini?
Wanita tadi memanggil nama anaknya Amane? Atau jangan-jangan gadis inilah yang akan menikah dengan kak Shu?
Norie Amane.
Aku terdiam menatapnya agak lama. Kenapa tiba-tiba dia mau menikah sedini ini? Dan kenapa harus dengan Kak Shu? Bahkan kemarin baru beredar berita panas tentangku dan Norie.
Apa orang tua Norie tak mengetahuinya? Dan kak Shu apakah juga tidak mengetahuinya?
"Selamat malam ..." sapa Norie ramah lalu membungkukkan badannya dan duduk disamping wanita itu.
"Norie, kenalkan ini Tuan Kekaishi." wanita itu memperkenalkan kakek kepada Norie. "Lalu ini Shu Mitzuru." kemudian dia memperkenalkan kak Shu. "Dan ini adiknya, Rheu Mitzuru." lanjut wanita itu memperkenalkanku kepada Norie.
"Salam kenal ..." kata Norie ramah.
"Wah, cantik ya ..." kata Kakek takjub.
Norie hanya tersenyum malu mendengar ucapan kakek.
"Jadi, Shu ini adalah calon suamimu." kata wanita yang ternyata adalah ibu Norie.
Norie hanya menatap kak Shu sekilas. Selebihnya dia tersenyum dan menunduk.
"Maaf. Norie ini aslinya sedikit pemalu. Tidak seperti yang terlihat di entertaiment." kata ibu Norie sambil tertawa kecil.
"Iya. Saya pernah melihatnya sekali di salah satu acara TV. Tak kusangka dia adalah putrimu." sahut kakek ikut tertawa kecil.
"Maaf. Saya boleh numpang ke kamar mandi, Tante?" kataku tiba-tiba.
"Boleh. Norie, tolong antarkan Shin dulu ..." pinta mamanya.
"Tidak usah. Saya bisa sendiri kok." kataku cepat-cepat.
"Design rumah ini tidak seperti kebanyakan rumah lainnya. Takutnya nanti kamu akan tersesat, Shin. Biarkan Norie yang mengantarmu sebentar." ķata mama Norie ramah.
"Uhm. Baiklah." kataku akhirnya.
Aku segera bangkit dari dudukku begitu juga dengan Norie. Aku mulai mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
Bagaimana ini? Kenapa jadi canggung kembali? Bukannya kemarin semuanya sudah jelas dan berakhir?
"Katakan dimana kamar mandinya! Aku akan kesana sendiri!" kataku pelan.
Norie tak mendengarku, dia masih saja berjalan pelan di depanku.
"Norie!" kataku lagi.
Dia masih saja tak menghiraukanku dan terus berjalan. Sementara aku masih mengekor di belakangnya.
"Norie!" kataku lalu meraih tangannya. Dia tertahan dan berbalik menatapku.
"Kita berpura-pura saja tak saling mengenal, Shin."
Kata-katanya sempat membuatku sangat terkejut. Padahal kemarin kita masih baik-baik saja. Ada apa?
"Tapi kenapa?" tanyaku.
"Aku rasa itu akan lebih baik untuk semuanya." Norie memalingkan pandangannya dan matanya sedikit memerah.
"Tapi bukannya kemarin kita baik-baik saja? Bahkan kita bisa berteman. Dan aku bisa menjadi sahabatmu." kataku pelan. "Kita tidak harus seperti ini, seperti orang asing dan seperti tak pernah saling mengenal, Norie."
"Maaf, Shin. Aku tidak bisa." katanya lalu berbalik membelakangiku. "Kamar mandinya ada di ujung lorong ini. Kau bisa pergi sendiri kan? Aku akan kembali bersama mereka."
Sebenarnya ada apa dengan Norie? Aku tidak mengerti dengannya.
Aku memutuskan untuk segera bergegas ke kamar mandi. Setelah menyelesaikannya, aku segera kembali bersama mereka di ruang tamu.
Terlihat mereka sedang sangat asyik berbincang dan bercanda ria. Aku segera kembali ke tempat dudukku.
"Maaf, tadi aku sedikit tersesat. Jadi agak lama ..." ucapku berbohong dan tersenyum menatap mereka.
"Norie. Kenapa meninggalkan Shin sendirian? Dia jadi tersesat kan?" ucap mamanya kepada Norie.
"Bukan salah Norie kok, Tante. Shin yang meminta dia agar segera kembali kesini saja. Shin yang sok-sok an mau pergi sendiri ..." kataku sambil nyengir kecil.
"Oh begitu ya. Oya tante dengar kau memimpin VCPD ya? Keren sekali ya semua cucu Tuan Kekaishi ..."
Aku hanya mengangguk dan tersenyum samar. Dan kakek juga tertawa kecil.
"Untuk melatih dia saja sih sebelum VCPD benar-benar diresmikan." sahut kakek. "Setelah Shin kuliah, saya akan mengurus semuanya untuk meresmikan VCPD."
"Lagian itu tidak sekeren yang tante bayangkan kok." ucapku pelan. "Kak Shu jauh lebih keren dan lebih hebat!" kini aku menatap Kak Shu sambil tersenyum padanya.
__ADS_1
"Jangan berlebihan, Shin." ujar Kak Shu sambil tertawa kecil.
"Baiklah. Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Semua sudah dipersiapkan di ruang makan." ujar ibu Norie.
"Baiklah ..." sahut kakek.
Kita semua bergegas menuju ruang makan yang letaknya berada di samping ruang keluarga.
Disana ada sebuah meja bundar yang lumayan besar, dan dikelilingi beberapa kursi yang terlihat sangat mewah. Di meja sudah banyak sekali makan yang dihidangkan. Seperti Sushi, ramen, onigiri, okonomiyaki dan masih banyak lagi.
"Silakan menikmati makan malamnya ..." kata mama Norie ramah.
Kita semua segera menyantap hidangan itu. Sangat lezat dan memanjakan lidah.
"Jadi kapan acara pertunangannya akan dilakukan?" tanya mama Norie.
"Bagaimana kalau bulan depan? Jadi masih ada waktu untuk mempersiapkan semuanya dulu dengan baik." kakek mengusulkan.
"Boleh juga." sahut mama Norie. "Rasanya tidak sabar deh ingin melihat putri kesayanganku segera bertunangan dan menikah." mama Norie tersenyum bahagia dan mengelus kepala Norie lembut. Senyumannya begitu bahagia menatap Norie.
Sementara Norie berusaha untuk tersenyum di depan kita semua. Tapi aku tau, itu hanyalah palsu. Senyuman itu adalah palsu saja.
"Kau akan segera bertunangan dan menikah dengan pria yang baik seperti Shu." kini Ibu Norie menatap kak Shu dan tersenyum bahagia.
Kakak yang sedang ditatap seperti itu juga melemparkan senyumannya.
"Iya. Kelak saya akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Norie." ucap kak Shu ramah.
"Terima kasih, Shu karena telah menerima perjodohan ini. Tante sangat beruntung sekali memiliki calon menantu sepertimu. Kau baik, tampan dan juga cerdas."
"Saya yang beruntung karena akan memiliki istri seperti Norie." sahut kak Shu ramah.
Kakek sedikit tertawa lalu meminum teh ocha-nya kembali.
"Dan kalian sangat serasi sekali. Yang satu tampan, dan yang satu cantik." imbuh kakek.
Mereka tertawa kecil lalu kembali menikmati makan malam.
Aku hanya berpura-pura sedang fokus dengan makananku saja. Sesekali aku melirik Norie yang kebetulan duduk di hadapanku. Dia juga sedang fokus menikmati makan malamnya dengan pelan dan hati-hati.
Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Sepertinya aku harus bertemu dengannya dan meluruskan semuanya kembali sebelum semua ini terlambat.
...***...
__ADS_1