
Pagi-pagi sekali kakek sudah memanggilku ke ruangannya. Ada apa ya? Mana hari libur begini. Harusnya aku bisa bangun lebih siang deh.
"Kakek memanggilku?" tanyaku saat sudah berada di ruangan pribadinya.
"Duduklah, Shin ..." katanya pelan.
Lalu aku segera duduk di hadapan kakek.
"Ada apa, Kek? Apa ada hubungannya dengan VCPD?"
"Tidak ..." kakek diam dan menatapku dengan serius. "Sebenarnya ..."
Apa? Jangan membuatku penasaran dong, Kek!
"Sebenarnya kakek ingin menimang seorang bayi. Seorang bayi yang lucu, manis, dan menggemaskan." kata kakek sambil tertawa kecil.
Apaan sih kakek. Sudah tua ngomongnya mulai ngaco begini. Mau dapatin bayi dimana dong aku? ๐
"Tapi bayinya siapa, Kek ? Papa dan mama kan sudah meninggal."
"Kau kan bisa, Shin." kakek tertawa menatapku.
"Kakek ini apa-apaan sih? Aku kan masih SMU aja belum lulus."
"Itu dia masalahnya ..." kakek mengalihkan pandangannya. Dia menatap ke arah luar jendela.
"Hhm, Kakek ada-ada saja. Lebih baik kakek istirahat saja. Shin keluar dulu ya, Kek." aku segera bangkit dari dudukku.
"Tunggu, Shin!"
"Apa lagi, Kek? Apa kakek ingin memaksaku untuk segera menikah? Agar keinginan kakek menimang bayi terwujud? Tidak, Kek! Aku tidak mau!"
"Bukan soal itu, Shin. Duduklah dulu, ada yang ingin kakek katakan padamu."
Dengan terpaksa aku segera kembali duduk kembali.
"Kurasa kakek harus mengatakan padamu sekarang." kakek menatapku lalu mengambil nafas panjang lalu mengeluarkan perlahan.
"Sebenarnya kau ini punya seorang kakak."
"Kakak? Tidak mungkin! Aku kan anak tunggal. Lagian kalau aku punya kakak, kenapa mama dan kakek tidak pernah cerita sebelumnya?"
"Itu karena kau itu anak manja dan bandel waktu kau kecil. Kakakmu dengan terpaksa ikut dengan pamanmu Yoshimori yang tinggal di Seoul. Saat berumur 3 tahun kau sangat manja dan nakal. Dan tentu ingin menang sendiri." kata kakek.
"Itu kan wajar, Kek. Aku masih balita saat itu."๐
"Makanya mamamu kewalahan mengurus 2 anak sekaligus tanpa ayahmu. Kakakmu yang saat itu berusia 6 tahun akhirnya dititipkan pada pamanmu."
"Siapa nama kakakku? Lalu dimana dia sekarang?"
Walaupun ini sangat mengejutkanku, tetapi aku sangat penasaran dengan kakak. Aku ingin bertemu dengannya. Dari kecil aku sudah kehilangan figur seorang ayah, kakak, bahkan ibu. Mereka meninggalkanku saat aku masih anak-anak.
"Dia masih di Seoul dan sedang kuliah disana. Dia tampan sama sepertimu." kakek tertawa kecil menatapku. "Tapi dia akan pindah ke Yokohama dan tinggal bersama kita."
__ADS_1
"Benarkah?"
Kini aku akan punya seorang kakak. Senangnya! Aku akan punya teman berbagi.
"Hhm, Besok kau bisa menjemputnya di bandara, Shin?"
"Tentu saja aku bisa, Kek." sahutku bersemangat.
"Siapa nama kakakku, Kek?"
"Shu Mitzuru." sahut kakek. " Kakek tidak akan memaksamu untuk menikah, Shin. Kakek masih punya harapan pada Shu." kakek tersenyum samar.
Hah ... Dasar kakek!
Memang kak Shu bisa semudah itu disuruh menikah? Dia kan kakakku. Pasti dia punya pendirian yang kuat dan tegas sepertiku.
"Besok sepulang sekolah kau ke Bandara ya. Kau jemput Shu!"
"Tapi aku kan belum pernah bertemu dengannya sebelumnya. Bagaimana aku mengenali dan menemukannya?
"Kau itu kan cucu kakek yang cerdas." kakek tersenyum menatapku. "Baiklah kakek mau istirahat dulu."
...***...
"Kau mau bolos lagi, Wahai Leader? Besok kan kita ada quiz!" kata Ibby saat melihatku mau bolos saat jam pelajaran terakhir.
"Apa boleh buat. Aku disuruh kakek ke Bandara. Pesawat dari Seoul akan tiba 1 jam lagi. Aku juga butuh waktu untuk sampai ke Bandara." sahutku.
"Apa begitu terlihat suasana hatiku?" tanyaku sambil tertawa kecil.
"Sangat terlihat ..." Igarashi meneropongku dengan bukunya.
"Haha ... Kalau begitu aku pergi dulu ya. Bye!" sahutku lalu bergegas keluar dari kelas. Tapi kulihat Pak Hyu sudah berdiri di depan pintu.
"Pak Guru ..." kataku sedikit kaget. Gara-gara mereka ngajakin aku ngobrol nih. Aku jadi kelamaan keluar dari kelas dan kepergok ketahuan mau bolos. Huft!
"Kau mau bolos lagi?" tanya Pak Hyu retoris.
"Ehm, Begini Pak ... Ini darurat sekali ..." kataku dengan muka memohon.
"Ehm. Baiklah. Bapak juga tidak mau buang-buang waktu. Kalaupun dilarang, kau pasti juga akan nekat." sahut Pak Hyu.
"Wah, Lie doomo arigatou gozaimasu, Pak Guru!" aku membungkukkan badanku dan tersenyum lebar. "Shin, permisi ya Pak Guru ..." kataku lalu langsung ngeloyor pergi.
Wah, Pak Hyu memang benar-benar pengertian deh. Sepanjang di koridor aku terus saja tersenyum bahagia. Aku celingukan mencari Pak Kouga si satpam sekolah. Tumben dia tidak kelihatan batang hidungnya. Kemana ya dia?
Wah.. Wah..
Sepertinya ini memang hari keberuntunganku deh.
Dan hari ini aku akan bertemu kak Shu. Bahagianya aku.
Aku memanjat pagar sekolah dan melewatinya.
__ADS_1
"Kakak ..."
Tiba-tiba aku mendengar teriakan seorang gadis. Sesaat aku berhenti, tapi...
Tidak! Itu pasti aku cuma salah dengar saja. Aku kembali melangkahkan kakiku.
"Kakak ... Ada yang mau kusampaikan." kudengar teriakannya lagi.
Kenapa aku terus berhalusinasi sih? Aku tak menghiraukan dan kembali melangkah.
"Kakak,Tunggu!"
Tidak! Ini bukan halusinasiku! Aku menghentikkan langkah kakiku dan berbalik menatap pagar sekolah. Kulihat ada seorang gadis di balik pagar itu. Dia berusaha memanjat dan melewati pagar itu tapi tidak bisa.
Itu kan Ai. Aku berjalan mendekatinya.
"Apa yang kau maksud kakak itu aku?" tanyaku.
Dia mendongak menatapku dan sepertinya dia sedang menahan tangis. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Kak Rheu ..." tiba-tiba dia sudah menangis sambil memegang pagar sekolah. "Ada yang ingin aku sampaikan kepada kakak sebelum aku pergi. Hiks ..."
"Apa itu? Katakanlah!" kataku pelan.
Ai tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah berusaha menaiki pagar tapi dia kembali terjatuh.
"Aku tidak bisa melewatinya tanpa kakak. Hiks ... Waktu itu matahari begitu menyilaukan. Kakak pernah membantuku melewati pagar ini."
"Ai ..."
Dia masih berusaha naik ke pagar tapi dia kembali terjatuh.
"Naiklah perlahan tanpa melihat ke bawah. Lalu lompatlah!" kataku pelan sambil tersenyum padanya.
Dia berusaha naik lagi dan dia berhasil sampai di atas. Tapi ...
"Kakak, Aku takut melompat." katanya.
"Tidak apa-apa. Aku akan menangkapmu!"
Lalu dia memberanikan diri untuk melompat dengan mata terpejam. Dan aku menangkapnya.
"Huft, Aku bisa melewatinya. Dan itu berkat kakak ..."
"Ai. Itu semua karena keberanian di dalam dirimu!"
"Tidak, Kak! Kak ... Tolong ijinkan aku ikut dengan kakak. Aku ingin menghabiskan sisa hari ini bersama kakak." kata Ai dengan mimik wajahnya yang sedih.
"Sebenarnya ada apa?" tanyaku.
"Besok aku akan meninggalkan kota ini. Aku akan meninggalkan Yokohama. Dan aku juga akan pindah sekolah. Gara-gara papa kena PHK, dia mengajakku dan mama pindah ke kampung halaman." katanya murung. "Kak, Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini pada kakak. Saat pertama aku bertemu dengan kakak. Aku ... Aku sangat menyukai kakak." dia menunduk dan kembali terisak.
"Dulu aku tidak yakin akan mengatakannya kepada kakak. Tapi, Sebelum aku pergi aku ingin kakak mengetahui semua ini. Aku suka kakak. Aku suka sekali dengan kakak."
__ADS_1