
"Kita harus segera menyelesaikan masalah ini, Shin!" kata Ibby.
"Kak Shu mengirimkan video padaku." kata Shika serius.
Aku langsung bangkit dan berdiri di samping Shika yang masih sibuk mengutak-atik miny computernya. Lalu menyusul Ibby, Aso, Igarashi, Lee, dan Sidho. Kebetulan Sidho sedang meminjamkam markasnya untuk kita. Jadi dia juga ikut disini.
Shika memulai memutar video tersebut. Terlihat seorang gadis memakai seragam VCPD dan memakai coat hitam memasuki Tokyo Tower dini hari. Dia memakai topi dan masker sehingga tak terlihat dengan jelas wajahnya.
Siapa ya gadis ini?
Dan coat yang dia pakai adalah coat ku! Ya, Itu adalah milikku. Aku sangat yakin karena coat itu sangat limited edition di Jepang. Cuma ada 3 coat dengan design seperti itu di Jepang.
Dan aku tau dengan pasti siapa saja pemilik coat itu! Tidak ada seorang gadispun yang memilikinya. Semua pemiliknya adalah pria.
Tak lama kemudian gadis itu keluar dari Tokyo Tower dan dalam hitungan detik terjadi ledakan di Tokyo Tower.
"Hei! Itu bukan aku!" teriak Igarashi.
"Kita tau itu." sahut Ibby. "Karena gadis itu sedikit lebih sexy daripada kamu." Ibby tertawa terbahak-bahak.
"Cuma sedikit diatasku saja!" sahut Igarashi sewot.
"Coba putar lagi dan lambatkan saat dia keluar dari Tokyo Tower!" perintah Aso.
Shika segera memutar ulang video itu. Dan kita menyaksikan dengan seksama.
"Stop!" perintah Aso. "Coba zoom bagian tangannya sebelah kiri!"
Shika nurut saja dan menjalankan perintah Aso. Kita semua memperhatikan dengan seksama.
"Apa itu? Apa itu semacam tato?" tanya Lee.
"Benar. Itu adalah sebuah tato." sahutku.
Ada sebuah tato bergambar peri kecil dengan sayap berwarna hijau gelap di punggung telapak tangan sebelah kiri gadis itu.
Tato itu. Sepertinya aku pernah melihatnya.
Tapi dimana ya?
Aku berpikir keras mencoba mengingat sesuatu.
"Shin, kau ingat sesuatu?" tanya Igarashi menatapku.
"Aku pernah melihat tato seperti itu." kataku yang masih mengamati gambar di miny computer Shika.
"Benarkah?" tanya Aso. "Kalau memang iya, berarti pelakunya kenal dengan kita."
"Atau setidaknya pernah bertemu dengan kita." sahut Shika.
"Bisa jadi dia punya dendam dengan VCPD." sahut Sidho.
"Coba kau ingat baik-baik gadis itu, Shin! Pasti kau pernah bertemu dengannya!" perintah Ibby.
"Apa iya dia salah satu dari mantanku?" celutukku.
"Bisa jadi." sahut Lee menatapku.
"Coba kau ingat baik-baik, Shin. Siapa gadis itu." tekan Igarashi.
Aduh! Sepertinya tak ada deh mantanku yang bertato seperti itu.
"Tidak ada." sahutku.
__ADS_1
"Hhmm, Coba ingat baik-baik. Apa kita pernah berurusan dengan seorang gadis yang mungkin kita rugikan ?" kata Aso.
Kita semua terdiam berpikir. Suasana hening beberapa saat.
"Coat yang dia pakai adalah coatku." sahutku.
"Dan kemungkinan lencana yang sengaja dia jatuhkan di Tokyo Tower adalah lencanaku." kataku.
"Tapi bagaimana bisa coat dan lencanamu bisa ditangan gadis itu?" tanya Aso.
"Entahlah, Aku tidak tau." sahutku.
Aku kembali berusaha mengingat kapan aku melihat tato itu? Dan kapan aku terakhir memakai coat itu dan kenapa bisa sampai hilang?
Aku terdiam beberapa saat. Dan akhirnya aku mengingat sesuatu.
Ya, Waktu itu saat di Barely Cafe aku memakai coat itu. Saat pergi ke VIP lantai 2 bersama seorang gadis. Dan gadis itu telah melepas coat dan berusaha melepas pakaianku saat itu.
Ya, Setelah semua berhasil diamankan aku kembali memakai dan merapikan pakaianku. Tapi tidak dengan coatku. Sepertinya aku melupakan dan meninggalkannya di kamar itu. Lalu siapa yang memungutnya dan menjadikan sebagai alat untuk menjebak VCPD?
Aku berusaha mengingat kembali yang terjadi di Barely Cafe saat itu. Tato itu? Bukan tato gadis yang pergi ke ruang VIP bersamaku. Lalu siapa lagi? Hhm, Ayolah ingatlah sesuatu, Shin!
"Aku ingat!" kataku yang tiba-tiba sehingga mengagetkan mereka semua.
"Apa dia beneran salah satu mantanmu, Shin?" tanya Igarashi.
"Bukan!" kataku. "Kalian ingat tidak dengan gadis yang merayuku malam itu di Barely Cafe?"
"Barely Cafe yang terlihat sederhana dari luar tetapi sangat mewah di dalamnya itu?" tanya Aso memastikan.
"Gadis berambut blonde itu?" tanya Ibby.
"Yeap. Gadis yang kemudian saat kepolisian menangkap seluruh pengunjung tapi dia sama sekali tak ditemukan. Yah gadis itu!"
"Tepat sekali." sahutku. "Dan malam itu tak sengaja Coatku tertinggal di Cafe itu."
"Tapi kenapa dia melakukan semua itu?" tanya Igarashi bingung.
"Mungkin karena malam itu kau menolak ajakannya untuk tidur dengannya." sahut Ibby meledekku.
Sidho dan Igarashi membulatkan matanya menatapku.
"Kau diajak tidur dengan seorang gadis, Shin?" Igarashi menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Dan kau menolaknya?" tanya Sidho. " Wah. Kawanku ini keren sekali." Sidho tertawa sambil menepuk bahuku.
"Mana mau aku tidur dengannya!" kataku. " Aku hanya akan tidur dengan gadis pilihanku." candaku lalu tertawa kecil.
"Wah, Gadis itu benar-benar berani sekali bermain-main sampai sejauh ini!" kata Lee serius.
"Tapi menurutku dia melakukan semua ini karena ada alasan lain." kata Aso tenang tapi mimik wajahnya terlihat sangat serius.
"Pantas saja saat itu dia tidak tertangkap sama kepolisian." sahutku.
"Jadi, Bagaimana kita mencari dan menemukan dia? Nama saja tak tau." kata Ibby.
"Tunggu! Sepertinya dulu dia pernah menyebutkan namanya." kataku.
Aku berusaha mengingat-ingat kembali.
"Chriss ... Ehmn ... Chrissa ..." kataku ragu.
"Chistin?" tebak Igarashi.
__ADS_1
"Bukan!" kataku.
"Christina?" tebak Lee.
"Bukan!" kataku.
"Chrisya?" tebak Lee.
"Bukan! Aduh! Siapa ya?" kataku kehabisan akal.
"Christa?" tebak Aso.
"Bukan!" kataku hampir putus asa. "Ayolah, saat itu kan kalian juga sedang ada bersamaku. Masa lupa juga sih?" ketusku.
"Tapi kan dia ngobrolnya sama kamu, Shin." celutuk Ibby.
"Christal ..." potong Shika.
"Christal?" aku berpikir sejenak. "Iya. Itu dia namanya!" kataku dengan mata berbinar.
"Okay. Kalian istirahatlah! Aku akan cari tau tentang dia." kata Shika lalu kembali sibuk dengan miny computernya.
Tiba-tiba ada suara ponsel berdering.
"Siapa yang menghidupkan ponsel?" tanyaku sedikit geram. Karena aku meminta mereka untuk mematikan ponsel agar pihak kepolisian tidak bisa melacak kita.
"Tenang saja, Shin. Nomor ponselku yang satu ini hanya diketahui orang-orang tertentu saja kok." sahut Sidho santai.
Sidho segera mengangkat telepon itu.
"Ya, Ava ... Ada apa?" sapa Sidho.
Ava yang sedang menelpon? Dia menelpon Sidho?
" Ya. Aku sedang bersama Shin dan yang lainnya." kata Sidho lagi. "Oh, mau bicara dengan Shin? Okey." Sidho segera menyerahkan ponselnya kepadaku.
"Ava ingin berbicara denganmu." kata Sidho sambil memberikan ponselnya kepadaku.
"Halo!" sapaku.
"Shin, Apa kau baik-baik saja? Kepolisian Yokohama sedang mencari VCPD. Bahkan kakek Kekaishi dan Hakken sedang diamankan." kata Ava sedikit panik.
"Aku dan yang lainnya baik-baik saja. Aku hanya butuh waktu untuk mengungkap kebenaran."
"Iya, Shin. Semoga kebenaran segera terungkap. Sekarang kalian ada dimana?" tanya Ava.
"Aku berada di tempat yang aman kok. Ava, sudah dulu ya. Mungkin beberapa saat ini aku tak akan bisa menghubungimu. Kau baik-baik disana ya."
"Iya, Shin."
"Oke. Bye!"
"Bye."
Aku mengakhiri panggilan itu dan mengembalikan ponsel Sidho.
"Oke teman-teman. Mari kita istirahat dulu. Biar Shika mencari tau dulu tentang Christal."
"Oke!"
...***...
__ADS_1