
" Kau melamun?" tiba-tiba terdengar suara seorang gadis mengagetkanku. Aku menoleh ke arahnya. Oh, ternyata Ren.
" Tidak. Aku hanya sedang menikmati pesta ini." kataku berbohong.
" Benarkah?" Ren menatapku sambil tersenyum manis.
" Hhm.." aku mengangguk lalu mengambil segelas orange juice lagi dan meminumnya. "Sudah lama kau mengenal Ibby?"
" Tidak begitu lama sih. Tapi aku sudah lama mengenal kak Yuna."
" Kak Yuna?"
" Ya. Kak Yuna adalah mantan kekasih kak Key."
"Kak Key?"
" Hhm.. Kakakku." katanya lalu tersenyum menatapku.
" Ren..!!" terdengar suara seseorang memanggilnya. Lalu seorang pria datang menghampiri kita.
" Oh kakak. Kenalin ini Shin, temanku." kata Ren memperkenalkanku kepada pria tadi yang dipanggilnya kakak.
" Shin.." kataku sambil mengulurkan tanganku kepada pria tadi.
" Key.." sahutnya sambil membalas uluran tanganku. "Kau Rheu Mitzuru ketua VCPD kan?"
" Benar, Kak." aku tersenyum menatap kak Key.
" Ini pertama kali kita bertemu. Senang berjumpa denganmu, Shin." sahut kak Key sangat ramah.
" Iya, Kak." sahutku.
" Wah... Kak Key mengenal Shin?" kata Ren antusias.
" Yeap. Aku sering mendengar namanya. Apalagi setelah kasus Tokyo Tower itu." kak Key tersenyum menatapku. "Kau benar-benar sangat keren..!!" kak Key tersenyum padaku dan mengacungkan 2 jempolnya.
" Ah.. Tidak juga kok, Kak." aku tertawa kecil.
" Ren..." panggil seorang gadis. "Maaf aku terlambat. Happy Birthday ya..."
Aku mendongak dan menatap gadis itu. Betapa terkejutnya aku saat melihatnya. Ava? Apa yang sedang dia lakukan disini? Dia terlihat sangat cantik malam ini. Aku tak henti-hentinya menatapnya terus. Sepertinya Ava juga sedikit terkejut setelah mengetahui aku ada disini.
" Daijoubu ( Tidak apa-apa ), Ava." sahut Ren ramah.
" Ehm. Maaf tadi aku buru-buru datang kesini dan kadonya tertinggal di tas Nami." kata Ava dengan raut wajahnya meminta maaf. Tapi Ren malah tertawa kecil.
" Kamu bisa datang kesini saja aku sudah merasa senang sekali kok." Ren merangkul Ava. "Oh iya kenalin ini kakakku. Kak Key."
__ADS_1
" Key.." kata kak Key saat mereka berjabat tangan.
" Ava.." kata Ava.
" Dan ini Shin..." lanjut Ren memperkenalkanku kepada Ava.
Aku dan Ava sempat bertatapan beberapa saat.
" Sebenarnya.. Kita sudah saling mengenal." kataku yang masih menatap Ava.
" Benarkah itu?" tanya Ren sedikit terkejut.
Ava hanya terdiam saja lalu menatap Ren dengan senyuman.
" Iya. Kita..." kataku belum selesai berbicara karena Ava memotongnya.
" Kita belajar di sekolahan yang sama." potong Ava.
" Oh. I see..." kata Ren.
Tar...
tiba-tiba terdengar suara tembakan dari dalam rumah.
Orang-orang berteriak histeris. Dan kita segera berlari ke dalam rumah. Sepertinya ada yang tertembak. Banyak orang yang berkerumunan.
" Papa...!!" Ren berteriak histeris lalu berlari ke arah pria yang dipanggilnya papa itu. Ren segera meraih tubuh pria yang sedang terbaring lemah itu. Kak Key segera berlari mendekati mereka. Dan aku mengikutinya.
" Ma, siapa yang melakukan ini?" Ren ikut menangis bersama seorang wanita yang dia panggil Mama itu.
Wanita yang dipanggil Mama oleh Ren itu hanya bisa menangis dan menggeleng saja.
" Papa..!! Bertahanlah..!!" kata Ren sambil menangis.
Sedangkan kak Key segera menghubungi ambulans dan Polisi.
Aku memperhatikan keadaan di rumah ini. Aku mencari darimana tembakan itu berasal. Dan aku melihat ada kaca jendela atas yang pecah. Sepertinya terkena tembakan tadi. Danaku segera meraih ponselku dan menghubungi Shika.
" Hallo.." sapa Shika dari seberang.
" Shika. Bisa kau lihat dan cek rekaman CCTV sekitar perumah Omotesando? Atau dari rekaman satelit? Tolong cek darimana arah peluru yang baru saja melesat menuju sebuah rumah di perumahan sini..!" pintaku kepada Shika.
" Baik. Akan aku mencarinya dulu. Akan kukabari lagi setelah aku menemukannya."
" Oke." kataku lalu mematikan ponselku.
" Sepertinya penembak memakai snipper. Dan berasal dari arah utara." kata Ibby yang sudah disebelahku.
__ADS_1
" Yeap. Kita akan segera mengetahui darimana tembakan itu berasal." sahutku menatap tajam ke arah jendela kaca yang sudah pecah itu.
Ambulance sudah datang dan segera membawa ayah Ren. Beberapa anggota keluarga Ren ikut ke rumah sakit. Ava juga ikut me rumah sakit.
" Shin.." kata kak Key menepuk bahuku. "Aku percayakan padamu. Tangkap penembak itu!!" kata Kak Key lagi.
" Aku akan berusaha sebaik mungkin, Kak." sahutku.
Tiba-tiba ponselku berdering. Ternyata Shika yang menelpon. Dan aku segera mengangkatnya.
" Apa kau sudah temukan asal tembakan itu, Shika?" tanyaku kepada Shika.
" Yeap. Aku sudah menemukannya, Shin. Tembakan itu berasal dari arah utara. Tepatnya dari Daiwa Roynet Hotel kamar 702." jelas Shika.
" Baik. Dipahami." kataku lalu menutup telpon itu.
" Sudah ketemu asalnya?" tanya Ibby.
" Hhm. Tembakan berasal dari Daiwa Roynet Hotel kamar 702." aku menatap bangunan gedung hotel yang menjulang tinggi itu dari jendela. Ya.. Jarak rumah ini ke Hotel hanya bekisar kira-kira 900 meter saja.
" Kita harus segera pergi kesana Ibby. Atau kita akan segera kehilangan pelaku." kataku tajam.
" Hhm. Ayo kita kesana..!!" sahut Ibby.
Akhirnya aku dan Ibby segera bergegas untuk pergi Daiwa Roynet Hotel. Tapi ternyata si penembak sudah meninggalkan hotel itu sejak satu jam yang lalu. Sial..!!
Aku meminta pihak hotel untuk memperlihatkan rekaman CCTV hotel untuk melihat tersangka. Ternyata dia sudah mempertimbangkan hal itu. Bahkan dia sudah mempersiapkan agar kita tak mudah mengenalinya. Dia mengenakan sebuah topi dan masker sehingga kita tak bisa melihat dan mengenali wajahnya dengan baik.
Lalu aku meminta data si penembak itu kepada recepcionist hotel. Aku segera mencari alamat si tamu hotel kamar 207 itu dan aku menemukannya.
Aku dan Ibby segera mendatangi alamat yang tertera itu. Tetapi sepertinya dia menyertakan alamat palsu. Ya.. Alamat itu tidak ada sama sekali. Oh sungguh menyebalkan sekali, berandalan itu.!!
Aku segera menghubungi Shika kembali.
" Ya, Shin. Bagaimana?" tanya Shika dari seberang.
" Alamat yang aku dapat adalah palsu. Bisa kau lihat lagi dari rekaman satelit lagi, Shika? Seseorang yang keluar dari Daiwa Roynet Hotel kira-kira pukul 8 pm tadi. Seseorang dengan memakai topi hitam, masker hitam, jaket jeans dan membawa sebuah ransel berwarna hitam. Dan dia menaiki sebuah Lexus Silver."
" Oke. Aku akan mencari dan melihatnya dulu. Akan kukabari lagi secepatnya, Shin." sahut Shika.
" Baik, Shika. Kita sangat membutuhkan bantuanmu.."
" Baik, Shin. Aku akan berusaha sebaik mungkin."
" Oke. Aku akan kembali mengecek kamar itu. Bye.."
" Bye.."
__ADS_1
Aku mematikan telpon itu. Lalu aku menghubungi Igarashi, Aso, Lee dan Hakken. Aku meminta Igarashi, Aso dan Hakken untuk berjaga di rumah sakit. Sedangkan aku meminta Lee untuk menyusulku ke Daiwa Roynet Hotel.