
"Eh, labirin raksasa ..." aku melihat ke arah timur. "Kelihatannya menarik." kutatap Ava. "Mau mencoba?"
"Boleh ..." Ava tersenyum menatapku.
Lalu kita bergegas membeli tiket.
"Eh, pintu masuknya ada dua. Bagaimana kalau kita berlomba? Masing-masing masuk dari pintu yang berbeda. Bagaimana?" usul Ava.
"Oke, siapa takut!" sahutku.
Kita lekas memasuki labirin itu. Aku melewati pintu masuk sebelah kiri. Sementara Ava melewati pintu masuk sebelah kanan.
Eh, tapi sebentar saja aku sudah tersesat. Dan tiba-tiba hujan mulai turun. Oh, Ava dimana ya?
"Ava! Kamu dimana? Kau bisa mendengarku?" kataku berteriak sambil mendekat ke dinding labirin sebelah kanan.
"Shin, aku disini!" balas Ava berteriak. Suaranya berasal dari dinding di depan. Aku lekas mendekat ke dinding di depanku.
"Va! Kamu disitu?" teriakku lagi saat di dekat dinding bagian depan.
"Iya, Shin!" teriaknya.
"Tunggulah! Aku akan kesitu!" aku memanjat dinding di depanku dan aku berhasil menemukan Ava.
"Ayo kita cepat keluar dari sini! Hujan semakin deras!"
"Hhm, yah ..."
"Tapi dimana jalan keluarnya ya?"
"Tempat ini terlalu luas. Aku juga bingung."
"Oke. Aku ada ide." aku jongkok di dekat dinding.
"Naiklah! Kita akan lewat di atas dinding." kataku.
"Hmm, Iya" Ava lekas menaiki bahuku untuk memanjat ke dinding di atas. Lalu setelah dia sampai di atas, aku segera memanjat dinding itu.
Kita segera mencari jalan keluar. Dengan cara ini kita berhasil keluar dan berteduh. Kita berlari menuju ke sebuah cafe, tetapi ...
"Shin, Gelangnya terjatuh ... Aku harus segera mencarinya ..." Ava berbalik hendak mencari gelang pemberianku tadi.
"Ava, ini sudah terlalu deras. Kau bisa sakit nanti. Sudahlah, tak apa-apa gelangnya hilang."
"Tidak! Aku harus menemukannya!" Ava lekas menyusuri jalan yang telah kita lalui tadi.
"Ava!" teriakku sambil mengejarnya. "Kau bisa sakit!" aku menahan tangannya.
Hujan semakin deras dan telah mengguyur tubuh kita. Aku dan Ava sudah basah kuyup.
"Shin, gelang yang dapat mengikat kenangan berdua yang kau berikan padaku tiba-tiba hilang" tiba-tiba Ava seperti hendak mau menangis
"Pertanda apa ini, Shin? Aku takut ini pertanda buruk untuk hubungan kita."
__ADS_1
"Tidak, Ava! Kau bicara apa? Sudah, jangan mikir yang enggak-enggak!" aku memegang kedua bahunya dan sedikit menunduk membujuknya agar segera pergi berteduh.
Tetapi Ava malah semakin menunduk dan malah menangis.
"Shin ..." katanya terisak.
"Eeh ..."
Eh, Kenapa Ava malah menangis beneran? Bagaimana ini? Aku bukan seorang pria yang pandai memberi kenyamanan dan menenangkan saat seorang gadis menangis dan bersedih. Kalau dia anak kecil sih, aku bisa saja kasih permen atau es krim dan pasti dia langsung diam deh.
Oh iya, aku baru saja ingat. Aku tadi kan beli gelang dua. Sebenarnya mau kuberikan kepada Ai sih. Tapi tak apalah. Aku merogoh gelang tadi dari saku coatku.
"Ini ..." aku memasangkan kembali gelang itu di tangan kiri Ava.
"Ini?" tanya Ava menatapku bingung.
"Untung tadi aku beli 2. Hehehe ... Ayo kita berteduh!"
"Hhm, Iya ..." katanya sambil tersenyum.
Kita kembali berlari menuju sebuah cafe terdekat. Harus segera sampai. Hujan sudah sangat deras. Dan kita sudah basah kuyup. Ini benar-benar dingin sekali.
Bruuukkkkk ...
Suara apa itu? Aku menoleh ke belakang dan Ava sudah terjatuh.
"Ava!" aku berbalik dan menghampirinya yang sudah terjatuh di tanah. "Kau tidak apa-apa?"
Wajahnya terlihat sangat pucat dan tubuhnya sudah sangat dingin dan menggigil.
"Shin ... Aku ... Tidak apa-apa ..." sahutnya pelan.
"Tidak apa-apa bagaimana? Kau sepucat ini!" aku segera menggendongnya dan kubawa dia berteduh di sebuah cafe. Mungkin dia kedinginan.
"Ini ..." kuserahkan sebuah pakaian untuk berganti. Untung cafe ini juga menjual baju. "Bergantilah dulu!"
"Hhm ... " Ava menerimanya dan kemudian bangkit dan berjalan hendak ke kamar ganti. Tapi tiba-tiba tubuhnya terhuyung hendak terjatuh. Dan aku segera menangkapnya.
"Ava ... Hati-hati!"
"Ah, Maaf, Shin. Tapi tiba-tiba saja seperti bumi ini berputar ..."
Aku lekas menggendongnya menuju kamar ganti. Dia sedikit tercengang dengan sikapku. Tapi tak dapat menolaknya.
"Nah, sekarang bergantilah pakaian dulu! Aku akan menunggu diluar." aku lekas keluar dari kamar berganti.
Setelah dia berganti pakaian. Sekarang giliranku yang berganti pakaian. Setelah itu kita segera memesan teh hangat dan ramen. Sangat cocok sekali dengan suasana sore ini. Makan ramen super pedas dan minum teh hangat disaat hujan turun.
"Kau sudah tidak apa-apa?" tanyaku.
"Aku baik-baik saja kok ..."
"Ini ... Teh hangat yang bisa menghangatkan badan kita." kusodorkan dia secangkir teh yang telah kupesan tadi. Lalu Ava meminumnya.
__ADS_1
"Maaf ya. Gara-gara aku kau jadi begini." kataku sedikit menyesal.
"Tidak ...Justru aku senang sekali hari ini. Melanggar peraturan sekolah dan pergi ke taman bermain bersamamu. Itu menyenangkan sekali, Shin." Ava tersenyum manis sekali.
"Jangan berbohong! Aku tau, kau menderita gara-gara aku."
"Tidak, Shin. Aku benar-benar senang hari ini."
"Ava!" kugenggam jemarinya. "Seseorang pernah berkata padaku, kalau kau merasa dingin maka genggamlah tangan seseorang yang kau sayang. Maka kau akan merasa lebih hangat ..." kataku tanpa sadar. Itu kan yang pernah Norie katakan padaku. Kenapa aku bisa mengucapkan kata-kata dia untuk Ava? Padahal sudah kuhapus semua tentang Norie. Aku benci dia! Dia hanya mempermainkanku! Dia hanya penjilat yang mengincar hartaku! Aku harus melupakan gadis itu!
"Seseorang? Kekasihmu dulu, Shin?"
"Hhm ... " aku tersenyum menatap Ava. "Cinta monyetku dulu, Norie. Uhm, Ava. Kau sudah merasa lebih baik sekarang?"
"Iya ... Terima kasih ya, Shin." Ava tersenyum manis padaku.
"Hujan sudah reda." kataku sambil melihat keluar dari jendela. "Kita pulang yukk!"
"Hhm iya."
Ternyata sudah jam 5 sore. Aku mengantar Ava dengan motorku.
"Ava!" teriakku saat dia hendak memasuki pagar rumahnya.
"Iya ..." dia berbalik
"Masa begini saja sih?" kataku sedikit cemberut.
"Uhm, Maksud kamu, Shin?" Ava terlihat sedikit kebingungan.
Aku tersenyum lalu menjentikkan telunjukku dipipiku sambil mengangkat alisku.
Muka Ava mendadak merona melihatku.
"Uhm, Lain kali saja ya, Shin. Di dalam ada papa dan mama." katanya malu-malu.
"Yachh ... Aku ngambek nih!"
"S.. Shin ..."
"Oke deh. Nggak papa kok. Pokoknya kamu punya hutang itu padaku ya." kataku sambil tersenyum dan mengangkat satu alisku.
"Shin ... Kau ada-ada saja ..." kata Ava masih malu-malu.
"Oke deh! Pokoknya harus ditepati lho!" aku tertawa kecil. "Kalau sekarang kiss bye juga tidak apa-apa."
Dia tersenyum lalu memunduk malu.
"Itu pun juga tidak mau?!" keluhku sedikit kesal. Sebenarnya bercanda sih. Haha ... Lucu aja godain Ava.
"Shin!" katanya malu.
Aku tertawa kecil melihatnya.
__ADS_1
"Oke ... Aku pulang dulu ya, cantik. Bye ..." kukedipkan satu mataku padanya lalu memakai helmku dan bergegas pergi.
...***...