VCPD ( Virtua Cop Police Detective )

VCPD ( Virtua Cop Police Detective )
Sebuah Alamat


__ADS_3

"Can i ask you something?" tanyaku kepada seorang bartender yang berwajah kebulean itu lagi.


Bartender yang memiliki banyak tato di lengannya itu menatapku dan tersenyum lebar. Dan dia terlihat sangat ramah.


"Tentu saja. Mau menanyakan tentang hal apa ya?" ucapnya lalu berjalan dan berdiri tepat di hadapanku. Hanya ada meja panjang yang membatasi kita.


"Apa aku bisa melihat daftar member VIP disini?" ucapku sambil mengernyitkan dahi menatap bartender itu.


"Wah ... Sebenarnya itu sangat privasi. Dan itu semua diluar kendaliku." ucapnya dengan santai lalu meneguk minumannya. "Kau sedang mencari siapa?" imbuhnya lagi sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Uhm ... Tidak ada. Aku hanya ingin melihat-lihat. Siapa tau ada temanku yang menjadi member VIP disini. Ahahaha ..." ucapku berbohong.


"Brother ..." kini Gavin mulai memanggil bartender itu. Dan bartender itu kini sedikit melengos ke arah Gavin.


"Ya. Apa kau mau memesan sesuatu?" ucap bartender itu dengan ramah.


"Sebenarnya aku sedang mencari sebuah obat. Dan aku mendengar kalau disini ada seseorang yang menjual obat seperti itu." ucap Gavin.


"Kau mencari Key?"


"Key? Apa dia yang menjual obat-obatan hasil buatannya sendiri itu? Aku sudah lama sekali mencarinya dan ingin membeli beberapa. Apa kau bisa hantarkan aku untuk menemuinya" ucap Gavin seadanya.


"Hhm ... Tentu saja! Tapi malam ini dia tidak datang."


"Lalu bagaimana aku harus menemuinya?" pancing Gavin lagi. Sementara aku masih pura-pura tidak mendengar dan menikmati minuman pelangiku.


"Aku tidak tau markas resmi mereka sih. Tapi aku mengetahui salah satu kediaman Key. Kau bisa pergi kesana, dan jika beruntung kau akan menemukannya disana."


"Boleh aku meminta alamatnya? Aku sudah sangat ingin membeli obat itu!" kata Gavin sedikit berakting.


"Tentu saja!" jawab si bartender dengan seulas senyum misterius.


Hhm ... Apa ini? Mengapa dia begitu mudah memberikan informasi sepenting itu? Ada yang sedikit tidak beres. Sepertinya kita juga harus lebih berhati-hati.


Beberapa saat bartender itu menulis sesuatu dalam secarik kertas lalu memberikan kertas itu kepada Gavin.


"Thanks a lot ..." sahut Gavin dengan seulas senyum. "Kalau begitu aku harus segera pergi! Bye!" ucap Gavin lalu segera beranjak meninggalkan tempat itu.


"Sama-sama." sahut bartender itu.


Sebelum dia pergi dia mengedipkan matanya padaku dan aku segera paham.


"Aku juga harus segera pulang atau kekasihku akan segera membunuhku!" ucapku cepat-cepat lalu merogoh uang dalam dompetku untuk membayar beberapa minuman yang sudah aku pesan.


"Well, Okay. Datanglah kesini lagi kapan-kapan!" ucap bartender itu dengan ramah.


"Tentu saja!" sahutku lalu bergegas pergi.


Gavin sudah menungguku di luar cafe. Dan tak lama kita menunggu di dalam mobil, Ibby segera datang menyusul kita. Dia duduk di kursi kemudi lalu mulai memakai seatbeltnya.


"Bagaimana? Kapan kita akan datang ke alamat ini?" ucap Gavin sambil melihat secarik kertas yang telah diberikan oleh bartender tadi padanya.


"Besok saja sepulang sekolah kita kesana. Ini juga sudah terlalu malam." ucapku sambil mengutak atik ponselku.

__ADS_1


"Baiklah ..." sahut Ibby yang mulai menyetir mobil. Dia mengemudikan mobil ini dengan kecepatan standar. Jalanan malam ini terlihat sedikit lenggang dan sudah sangat sepi.


Gavin meminta diantar ke rumah sakit, karena dia akan bermalam di sana. Karena adiknya sudah mulai sadar.


Sedangkan malam ini Ibby memutuskan untuk menginap di rumahku.


Sesampai di rumah, aku dan Ibby segera membersihkan diri secara bergantian.


"Huuft ..." aku melempar tubuhku di atas ranjangku dan mulai mengutak atik ponselku. Ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari Ava.


Dengan cepat aku segera menghubunginya.


Tut ... Tut ... Tut ...


"Hallo, Shin." sapa Ava dari seberang.


"Ava maaf. Aku baru saja pulang dan tadi masih mandi ketika kau menelponku!" ucapku menjelaskan.


"Kau darimana, Shin?" tanya Ava dari seberang.


"Hhm ... Biasa ... Ada sebuah kasus yang harus dipecahkan, Ava." sahutku dengan malas.


"Lalu apakah sudah beres?"


"Belum. Besok kita masih harus menyelidiki sesuatu. Kita akan pergi ke daerah Shinjuku." ucapku lagi.


"Wah. Semangat ya, Shin!"


"Hhm ... Thanks, Ava!" sahutku seadanya. "Va ..." panggilku pelan.


"Kau sedang apa?"


"Tiduran saja di kamar. Kalau kamu?"


"Sama. Aku juga sedang tiduran. Va ..."


"Ya, Shin?"


"Aku kangen ... Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama. Huft ..." kataku sedikit mendengus.


"Uhm ... Sebentar lagi kan akan liburan musim panas. Bukannya kita akan pergi ke Kyoto bersama yang lainnya?"


"Itu beda donk, Sayang. Yang aku maksud hanya kita berdua."


"Ah ... Oh ... Begitu ya ..." ucapnya yang terdengar sedikit malu.


"Hhm, akhir pekan kita bertemu ya! Dan aku mau kamu memakai gaun yang akan aku berikan nanti."


"Gaun? Gaun yang mana?"


"Gaun yang kau pakai saat penyamaran."


"Ah ... Jangan bercanda, Shin! Aku tidak mau semua orang melihatku dengan penampilan seperti itu lagi!" ucapnya yang terdengar sedikit malu.

__ADS_1


"Memang kenapa? Kau sangat cantik kok memakai gaun itu ..."


Ava tidak menjawab ucapanku. Dia hanya terdiam untuk beberapa saat.


"Va ... Kau dengar aku?" apa dia ketiduran?


"Uhm ... Ah ... Iya, Shin."


"Aku kira kamu ketiduran."


"Tidak kok."


"Oke ya. Kau mau kan, Ava?" tanyaku lagi. Karena jujur saja aku merasa Ava sangat cantik sekali ketika memakai gaun itu. Dan aku ingin melihatnya lagi ...


"Tapi, Shin ... Aku malu ..."


"Hanya aku kok yang lihat. Aku janji deh!"


"Tapi bagaimana caranya?"


"Aku akan mengajakmu ke villa Mitzuru akhir pekan. Anggap saja kita sedang berlibur dan berkencan.


"Villa Mitzuru?"


"Yeap. Tempatnya nggak terlalu jauh kok dari sini."


"Hanya kita berdua?"


"Hhm. Kau mau?"


"Oh, Baiklah."


"Okay. Sekarang tidurlah. Dan jangan tidur terlalu larut."


"Hhm. Okay. Kau juga segera istirahatlah ..."


"Okay, Sayang. Bye ..."


"Bye ..."


Setelah mematikan panggilan itu aku memejamkan mataku dan membayangkan Ava sedang memakai gaun itu. Wah ... Cantik sekali! Tidak seperti Ava yang biasanya hanya memakai pakaian casual dan santai. Rok saja dia hanya punya beberapa, dan itupun hanya rok uniform sekolahnya saja.


Huft ... Lucu juga dia. Ahahaha ...


Tak lama kemudian, Ibby sudah datang dan segera berbaring di sebelahku.


"Kau lagi mikirin apa, Shin? Kenapa senyum-senyum seperti itu?" ucapnya sedikit kebingungan melihat diriku.


"Mau tau aja!" tandasku menggodanya. "Kau lama sekali mandinya! Udah mirip seperti gadis saja." imbuhku menggodanya.


"Hehe ... Segar sekali sih!" sahutnya seadanya lalu menyamber ponselnya dan Ibby mulai membuka sosial medianya.


"Wah ... Haku makin lengket saja sama Yuko!" ucap Ibby tiba-tiba.

__ADS_1


Aku sedikit bingung mendengar ucapan Ibby. Haku? Yuko? Bukankah selama ini Yuko sudah menjalin ikatan bersama Aso? Lalu siapa pria yang bernama Haku itu? Apakah Yuko sudah putus dengan Aso? Lalu kenapa Aso tidak menceritakannya kepadaku?


...***...


__ADS_2