
Setelah mengantar Ai pulang, aku memutuskan untuk segera bergegas pulang ke rumah. Capek juga 3 jam berkeliling di bandara mencari kak Shu.
Ngomong-ngomong kenapa dia tidak jadi datang ke Jepang ya? Apa telah terjadi sesuatu dengan kakak ya? Kenapa aku tidak meminta nomor ponselnya saja pada kakek kemarin ya? Ah, tidak kepikiran sama sekali deh kemarin. Pikiranku entah kemana-mana saat ini.
Aku segera memarkir mobil VCPD di halaman rumahku. Aku segera turun dari mobil, lalu bergegas memasuki rumah.
Sampai di rumah, aku benar-benar sangat terkejut. Pria yang aku jumpai di bandara tadi sedang berada di ruang tengah bersama kakek.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Siapa sebenarnya pria itu?
Kenapa dia berada di dalam rumahku dan kelihatan sangat akrab sekali dengan kakek?
Aku sempat menatapnya lama dan bingung.
Atau jangan-jangan ... Dia itu adalah kak Shu?
Kalau memang dia adalah kak Shu, mengapa tadi saat di bandara dia diam saja saat melihatku? Aku kan menulis namanya dengan sangat besar di kertas itu!
"Shin pulang ..." kataku. "Kakek, maaf ya Shin baru pulang." kataku sedikit lesu.
"Tidak apa-apa. Biasanya kau malah pulang lebih sore lagi. Bahkan sampai malam." sahut kakek sedikit terkekeh. "Apa kau tidak bertemu dengannya saat di bandara? Dia ini adalah kakakmu, Shin." lanjut kakek.
Tuh benar kan seperti perkiraanku. Tapi kenapa saat dia membaca namanya di kertas itu dia diam saja dan tidak bilang kalau dia adalah kak Shu?
Dasar! Aku benar-benar kesal sekali!
Dan sepertinya kakak bukan seperti orang yang kubayangkan deh.
"Benarkah itu?" tanyaku berpura-pura, lalu duduk di sofa dan bergabung dengan mereka.
"Sudah lama kalian tidak bertemu. Jadi kalian ngobrol-ngobrol saja dulu. Kakek sedang ada keperluan." kata kakek lalu pergi meninggalkan kita berdua.
Kita berdua saling menatap beberapa saat. Dan aku menatapnya dengan sangat tajam!
"Terakhir aku bertemu denganmu kau masih bayi berusia 3 tahun yang nakal." katanya dengan nada bicara yang sedikit tak enak.
"Saat itu kan aku masih kecil. Jadi wajar saja kalau aku nakal dong." sahutku membela diri.
Kenapa dia terlihat seperti tidak menyenangkan ya?
Dari cara bicaranya itu lo.
Ditambah sikapnya saat di bandara.
Benar-benar tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya deh.
๐
__ADS_1
"Iya! Gara-gara kau ibu telah mentelantarkanku! Tapi sekarang sepertinya kau yang akan ditelantarkan." dia tersenyum misterius.
Aku sedikit tercengang mendengar ucapannya itu.
Seperti apakah dia yang sesungguhnya? Apakah dia pria jahat yang sangat mengerikan dan berbahaya? Wah ... Wah ... Aku harus super waspada terhadapnya.
Bisa saja dia punya rencana buruk untukku dan kakek. Aku tidak akan membiarkanmu bertindak semaumu, Shu! Aku tidak boleh lengah sedikitpun!
Aku menatapnya sangat tajam.
"Hah ... Tidak juga. Aku bahagia kok disini." sahutku dengan menatap tajam ke arahnya.
"Benarkah situasinya tidak akan berubah setelah aku bergabung disini?" dia bersandar di sofa dan menyedakepkan kedua tangannya. Lagi-lagi dia tersenyum. Dan senyumannya itu sangat membuatku kesal.
"Hei! Apa maksudmu? Bukannya kau disini cuma sementara?"
"Tidak! Kakek Kekaishi memintaku untuk tinggal disini dan pindah kuliah di Tokyo. Lagipula disana aku sudah sendirian. Paman Yoshimori sudah berada di rumah sakit jiwa."
"Paman di rumah sakit jiwa?" tanyaku tak percaya.
"Ya, Paman adalah orang yang sangat kompeten. Dia selalu sibuk dengan bisnis-bisnisnya. Tak lama ini, dia melakukan bisnis ilegal. Perusahaan besarnya kini bangkrut dan dia stress. Dan sekarang dia dirawat di rumah sakit jiwa." kata kak Shu melirikku.
"Makanya, aku menerima tawaran kakek untuk pindah kesini. Aku bosan sendirian." dia kembali tersenyum menatapku.
"Lalu, kenapa tadi saat di bandara saat kau tau aku sedang mencarimu kau diam saja? Kau bahkan tak bilang kalau kau itu Shu! Padahal jelas-jelas kau membacanya bukan? Kau tau berapa lama aku menunggu dan mencarimu?" kataku sedikit kesal.
"Caramu itu sangat kuno! Aku lebih suka mencari rumah kakek sendirian." jawabnya santai.
"Jangan menyalahkanku! Bukannya tadi aku sudah menyuruhmu pulang?"
"Heh? Justru itu malah membuatku mengiramu seperti pria aneh!"
"Ternyata kau tidak berubah ya."
"Hah? Apa maksudmu?"
"Kau masih keras dan egois. Suka ngambek, brutal."
"Ah, Sudah! Jangan sok memahamiku! Kau tak tau siapa aku!" kataku emosi.
"Jelas saja aku tau. Aku seorang psikolog. Aku kuliah mengambil jurusan itu. Aku bisa menilai dan memahamimu dari style dan cara bicaramu.."
"Ah! Sudah! Aku tak butuh komentarmu!"
Ternyata Shu adalah kakak yang menyebalkan. Tak seperti yang aku bayangkan. Seorang kakak yang hangat dan bisa diajak berbagi. Aku salah besar mengiranya. Salah besar!
Kesal sekali rasanya!
Tiba-tiba saja kakek sudah datang lagi. Dan dia kembali duduk bersama kita.
__ADS_1
"Kakek tidak jadi pergi?" tanyaku.
"Tidak ..." sahutnya. "Bagaimana? Apa kalian sudah menjadi lebih akrab sekarang?" kakek menatapku dan kak Shu secara bergantian. "Ternyata, Alis kalian berdua sama ya." kakek tertawa kecil.
"Cucu kakek ganteng-ganteng sekali ya."
Dasar kakek!
"Shu, kau mau bergabung dengan VCPD ?" tanya kakek tiba-tiba.
What?
Apa-apaan kakek itu?
Kata-katanya barusan sangat membuatku sedikit kesal. Untuk bergabung dengan VCPD kan tidak semudah itu.
Dulu saja Lee dan Hakken bisa masuk ke VCPD dengan berbagai tes. Dan tentunya mereka benar-benar berjuang untuk menjadi bagian dari VCPD.
"VCPD yang dipimpin oleh adik kecilku ini?" tanya Shu sambil melirikku.
"Hei, jangan bilang begitu!" kataku kesal.
Tapi kakek malah tertawa melihat kita.
"Iya. Selama ini Shin yang memimpin organisasi VCPD. Kalau kau mau kau bisa bergabung, Shu. Pasti VCPD akan lebih hebat." kata kakek.
"Apa maksud kakek? Ada atau tidak adanya kak Shu itu tidak akan mempengaruhi VCPD!" kataku sedikit kesal.
Memangnya siapa Shu itu? Heh! Menyebalkan!
"Bukan begitu, Shin. Maksud kakek, Kalau kalian bersatu, maka VCPD akan lebih kuat kan." kata kakek.
"Tampaknya Shin sedikit keberatan kalau aku bergabung." kata kak Shu yang mirikku. "Lagian aku juga lebih suka berusaha sendiri."
"Hah, Baguslah kau begitu." sahutku sangat lega. Dasar orang aneh! Makiku dalam hati.
"Aku percaya dengan kemampuanku. Dan aku tidak suka bekerja satu team dengan orang yang keras kepala." kata kak Shu lagi.
"Eh, Hei! Apa maksudmu?" kataku kembali emosi lagi.
"Lihatlah dia sangat keras kepala, Kakek."
"Kak Shu! Diamlah!"
Kakek yang melihat tingkah kita malah tertawa kecil.
"Kalian benar-benar akrab sekali ya." kata kakek yang masih terkekeh.
...***...
__ADS_1