VCPD ( Virtua Cop Police Detective )

VCPD ( Virtua Cop Police Detective )
Warm Night in Kanagawa


__ADS_3

Aku menghampiri Ava yang sedang menunggu taxi di depan Kepolisian Kanagawa. Aku sengaja menunggunya sih dari tadi.


"Hai!" sapaku saat sudah di dekatnya.


"Shin ..." Dia menatapku sedikit terkejut. "Terima kasih telah menyelesaikan kasus ini. Ren sudah seperti saudaraku sendiri."


"No problem. Kau mau pulang?"


"Iya."


"Boleh kuantar?" Kataku sambil meliriknya.


"Tidak, Shin. Aku bisa sendiri." Ava berjalan beberapa langkah dan melewatiku.


"Sampai kapan kau akan seperti ini?" Aku meraih tangannya dan menahannya. "Kenapa kau selalu menghindariku? Bahkan memutuskanku begitu saja."


Sesaat suasana menjadi hening. Suasana tak sehangat saat itu. Membeku dan seperti es saja. Hanya cahaya bulan yang bersinar terang di atas langit dan lampu-lampu neon yang berkelip yang menemani kita saat ini.


Sesekali angin malam yang dingin mulai menyapu tubuh kita.


"Aku hanya ingin sendiri dulu, Shin." dia berkata dengan pelan tanpa menatapku.


"Kau bohong! Lihat aku dan katakan yang sebenarnya!" Aku mencengkeram kedua lengan Ava. Dan dia mulai mendongak menatapku. Matanya sudah berkaca-kaca seperti sedang menahan tangis.


"Katakan, Ava!" kataku pelan.


Dia malah semakin terisak tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Aku segera meraihnya pelan lalu memeluknya.


"Menangislah jika itu membuatmu lega ..." kataku pelan. Aku mendekapnya lebih dalam ke pelukanku. Hingga sampai tangisnya mulai mereda, dia mulai melepas pelukannya.


"Ayo kuantar pulang!" kataku pelan lalu meraih tangannya untuk segera mengajaknya mengambil motorku.


Tapi tiba-tiba saja Ava menahan tanganku. Dan aku berhenti lalu berbalik menatapnya.


"Shin ..." ucapnya pelan.


"Ya ..."


"Malam itu ..."


Aku menatapnya dengan seksama dan bersiap mendengarkannya.


"Malam itu aku melihatmu bersama seorang gadis memasuki sebuah penginapan." Ava kembali menunduk dan menahan air matanya. "Dan aku dengar dari orang-orang dia adalah seorang model. Dan, kalian dulu pernah memiliki sebuah ikatan."


Ava perlahan melepas tanganku dan berbalik membelakangiku.


"Aku sadar diri kok, Shin. Aku ini bukan apa-apa dibandingkan dengan dia." Ava segera mengusap air matanya dengan cepat.

__ADS_1


"Semoga kau dan dia bahagia ya. Aku pamit." Ava mulai melangkahkan kakinya meninggalkanku. Dengan cepat aku berbalik dan meraih tangannya kembali dan menariknya ke dalam pelukanku kembali.


Kini aku memeluknya dengan sangat erat.


"Akan aku simpan semua kenangan bersamamu, Shin. Terima kasih untuk semuanya. Selama ini aku sangat bahagia." Ava kembali terisak. Dan aku tak sedikitpun melepaskan dan melonggarkan pelukanku.


"Terima kasih pernah menjadi matahari dan pelangi untukku selama ini. Terima kasih telah membuatku bahagia walau hanya sekejap. Aku tak akan pernah melupakan semua itu." Ava masih terisak di dalam pelukanku. Dia menggenggam pelan lenganku.


"Tak bisakah kita tetap bersama, Ava? Karena yang aku mau adalah kamu." kataku pelan.


"Apa maksudmu, Shin?" kini Ava mendongak menatapku.


"Memang benar Norie mencariku ke Kanagawa. Dan kita memang ke penginapan bersama." kataku pelan.


"Jadi dia yang bernama Norie itu? Bahkan kau masih mengingat dia saat sedang bersamaku. Saat itu hujan turun dan kau sedang bersamaku. Tapi kau sempat menyebut namanya. Saat itu saja aku sudah menjadi gelisah. Apalagi kini aku melihatnya sendiri kau bersamanya di sebuah penginapan. Cukup, Shin! Biarkan aku yang mundur. Dia sudah jauh-jauh datang mencarimu." perlahan Ava melepas pelukanku.


"Ava!" kataku setengah berteriak. Aku tak tau lagi harus berkata apa.


"Tak bisakah kau percaya padaku kali ini saja? Bahwa aku dan Norie benar-benar sudah berakhir. Malam itu aku memang pergi ke penginapan bersama Norie. Tapi malam itu benar-benar tak terjadi apa-apa. Dia memang berharap bisa kembali padaku lagi. Tapi aku tak bisa, Va ..." kataku pelan dan aku menatap matanya dalam.


"Karena sekarang cukup kamu yang aku mau!" Aku masih menatap sepasang mata bening yang kini sedang berkaca-kaca itu. Begitu indah dan aku begitu merindukannya selama ini.


Ava kembali terisak. Dan aku segera meraih dan memeluknya kembali.


"Maafin aku ya. Aku selalu membuatmu bersedih bahkan menangis. Seharusnya aku lebih menjaga perasaanmu." aku mengelus pelan rambutnya. Wangi rambutnya begitu aku rindukan.


Ava hanya mengangguk dalam isak tangisnya. Aku mengecup pelan rambutnya. "Aku sangat merindukanmu, Ava." bisikku padanya.


...***...


...________________________________________________...


@Norie_amane98


Namamu akan selalu terukir indah di hatiku. Selamat tinggal ...


1hour ago


...________________________________________________...


"Lihat!" Aso menyodorkan ponselnya padaku.


Dan aku melihat layar di ponsel Aso. Ternyata Norie membuat sebuah status di social medianya dengan mengupload sebuah foto.


Foto sebuah gantungan ponsel berliontin bintang dan sebuah kalung berliontin bintang juga. Aku ingat, dulu aku memberikannya untuknya di hari ulang tahunnya. Dan saat itu Norie sangat menyukai yang berbau bintang. Seperti cita-citanya waktu itu yang ingin menjadi seorang bintang.


Dan sekarang impiannya telah terwujud. Kini dia adalah seorang bintang yang sangat dikenal orang-orang.

__ADS_1


Aku hanya terdiam dan menerawang jauh.


"Tak aku sangka, selama ini ternyata Norie terus mencarimu." tutur Aso setelah mendengar semua ceritaku.


"Apa aku sudah melakukan hal yang benar, Aso?" aku merebahkan tubuhku di atas kasurku. "Selama ini aku membencinya dan kecewa kepadanya. Tapi aku juga merindukannya ..."


"Percintaanmu sungguh rumit." Aso ikut berbaring di sebelahku.


"Boleh tidak kalau kau pilih keduanya sekaligus?" tiba-tiba Ibby nongol dari jendela kamarku. Lalu dia melompat dan masuk lewat jendela. "Mereka berdua sama-sama menyukaimu. Dan kau juga masih bimbang."


"Apa lebih baik aku sendiri saja ya?" ceplosku.


"Jangan, Shin!" kata Ibby cepat-cepat. "Jomblo itu nggak enak tau. Jangan jadi sepertiku deh!" Ibby merebut ponsel Aso dan melihat foto-foto Norie di Instagramnya.


"Pilihan yang sulit. Sekarang dia sangat cantik dan sangat menawan." kata Ibby yang masih melihat-lihat foto Norie melalui ponsel Aso.


"Oh, tak bisa kubayangkan. Kau bahkan tidak melakukan apa-apa saat di penginapan bersamanya." celutuk Ibby.


"Sebenarnya hampir saja sih ..." sahutku.


"Apa?" kata mereka berdua bersamaan. Aku terkekeh melihat ekspresi mereka yang sangat penasaran dan terkejut.


"Bagaimana tidak? Aku ini laki-laki normal!" kataku membela diri.


"Cepat kau ceritakan semua kejadian malam itu tanpa ada yang terlewat sedikitpun!" kata Ibby yang terlihat sangat penasaran.


Aku mulai mengambil nafas panjang dan kemudian mengeluarkannya perlahan.


"Jadi begini ..." kataku yang menatap mereka secara bergantian dengan serius.


Aso dan Ibby menatapku dengan serius dan bersiap mendengarkan ceritaku dengan seksama.


"Jadi ... Malam itu Norie mengajakku untuk menginap." kataku masih dengan ekspresi serius. Begitu pula Aso dan Ibby.


"Lalu apa yang terjadi malam itu?" tanya Aso tak sabaran.


"Kalian sungguh ingin tau?" tanyaku serius.


"Hhm!" sahut Aso.


"Cepat katakan! Aku tak akan memberitahu Ava kok!" desak Ibby.


"Jadi begini ..." kataku kembali serius, begitu juga mereka.


"Ra ...Ha ... Si ... A ..." bisikku kepada mereka berdua.


Reflek mereka langsung melempar bantal padaku. Sedangkan aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal mereka.

__ADS_1


...***...


__ADS_2