
Setelah pulang sekolah aku bersama yang lainnya segera menuju ke cafe yang terletak di depan sekolahan. Aku juga memaksa Gavin untuk ikut bersama kita.
Sebenarnya awalnya dia sempat menolak ajakanku dan mengatakan akan mengajar les kendo. Tapi aku berbohong dan mengancamnya, jika dia tidak ikut maka kakekku akan segera meminta dia untuk segera melunasi biaya rumah sakit adiknya itu. Akhirnya Gavin ikut juga deh. Ahahaha ... Maafkan aku, Gavin.
Setelah sampai disana kita segera memesan beberapa makanan.
"Sebenarnya ini ada acara apaan sih? Tumben kau mentraktir kita sekaligus seperti ini." tanya Sidho penasaran.
"Merayakan hubungan Shin dan Ava yang kembali rujuk nih. Ahahaha ..." sahut Ibby terkekeh.
"Memang sebelumnya mereka pernah berpisah ya?" tanya Ichi penasaran.
"Ya. Leader kita yang tampan ini diputusin Ava gara-gara ketahuan selingkuh dengan seorang model cantik ..." sahut Hakken terkekeh.
"Apaan sih, Hakken! Jangan bicara asal ya! Aku tidak pernah selingkuh ya!" sahutku sedikit sewot.
"Model yang mana, Shin? Apa dia cantik?" tanya Yama yang ikut penasaran.
"Uh ... Cantik dan anggun sekali! Sangat sempurna pokoknya!" komentar Lee.
"Mana-mana lihat fotonya!" sahut Ichi cepat-cepat.
"Lihat saja instagr*m dia Norie Amane!" sahut Igarashi.
Dengan cepat Ichi segera membuka ponselnya dan mencari tau tentang Norie. Diikuti Yama dan Sidho yang sedang berada disampingnya.
"Serius model cantik ini selingkuhanmu, Shin?" celutuk Ichi. "Aduh. Cantik sekali ..."
"Sudah aku bilang aku tidak selingkuh!" tegasku lalu meminum minuman dinginku. "Jangan percaya deh sama omongan mereka! Berita itu tidak benar ..." sahutku.
Sementara aku sempat melirik Sidho dan dia hanya terdiam menatapku saja. Terkadang dia tersenyum samar.
"Shin bukan orang seperti itu ..." kata Sidho akhirnya. "Dia tidak akan mudah tergoda. Lihat saja saat di Barely Shibuya Cafe. Beberapa wanita yang aduhai sudah menggodanya, dan dia sama sekali tidak tertarik. Benar begitu, Shin?" Sidho tersenyum menatapku.
"Ahahaha .... Kau benar sekali, Sidho." sahutku tartawa kecil.
"Sebenarnya dia adalah cinta pertama Shin." sahut Shika.
"Apa?" sahut Yama dan Ichi bersamaan.
__ADS_1
"Ya. Dia adalah mantan kekasih Shin." sahut Aso.
"Jadi itu artinya kau memang mengenal model ini? Dan kalian memang ada sesuatu sampai Ava memutuskanmu? Begitu?" tanya Yama yang kini menatapku serius.
"Argh ... Sudah deh jangan ngomongin soal ini lagi! Kalau nggak aku nggak jadi traktir kalian deh! Aku pulang nih ..." ancamku agar mereka menyudahi obrolan tentang Norie.
"Ah. Oke-oke! Kita tak akan membicarakan ini lagi!" sahut Ichi.
"Ehm. Maaf, aku angkat telpon dulu ya. " kata Gavin lalu pergi meninggalkan kita.
Siapa yang menghubunginya ya?
Tak lama kemudian 3 orang waitress datang membawakan beberapa makanan kita. Hingga akhirnya meja kita penuh dengan makanan. Ada Sushi, Ramen, Okonomiyaki, Yakiniku, Takoyaki, Takiyaki, Salad, Chicken Katsu, Onigiri dan masih banyak lagi lainnya.
"Whoa ... Sepertinya lezat sekali!" Hakken menatap makanan-makanan di meja itu.
"Cacing-cacingku juga sudah mulai konser nih!" celutuk Ichi.
"Ya sudah. Kita sudah boleh menyantapnya kok." sahutku tersenyum menatap mereka.
"itadakimasu! ( mari makan)" kata mereka serempak.
"Siapa yang menelponmu?" tanyaku.
"Pihak rumah sakit." sahutnya ramah.
"Oh iya. Apa kata mereka? Apa operasi kemarin berjalan lancar?" tanyaku padanya.
"Hhm. Operasinya berjalan lancar. Dan baru saja pihak rumah sakit bilang adikku sudah mulai membaik. Bahkan dia sudah bisa menggerakkan jemarinya walaupun dia belum bangun." aku melihat sudut-sudut bibir Gavin menyunggingkan sebuah senyuman. "Terima kasih ya, Shin." dia menatapku dan tersenyum tulus.
"Hhm ..." aku tersenyum padanya. "Ayo makanlah dulu! Setelah ini kita akan akan ke rumah sakit. Aku ingin menjenguk adikmu juga."
"Kau mau ke rumah sakit bersamaku?" tanya Gavin sedikit tak percaya.
"Hhm. Iya ..." sahutku tersenyum padanya.
"Terima kasih, Shin."
"Berhenti berterima kasih padaku, Gavin! Aku tidak benar-benar melakukan sesuatu hal besar. Ya sudah ayo kita makan dulu selagi masih hangat!" aku mulai mengambil sumpitku untuk menikmati makanan.
__ADS_1
Gavin juga mulai menikmati makanannya. Aku sungguh tidak menyangkan kini aku berteman dengan Gavin. Seseorang yang sangat dingin dan dia tak pernah dekat dengan siapapun sebelumnya.
Kita semua menikmati makanan ini bersama-sama.
"Iga, aku akan ke rumah sakit dulu bersama Gavin. Setelah itu aku akan pergi ke rumahmu. Kau harus mengajariku malam ini, karena besok aku akan bertemu dengannya." kataku kepada Igarashi sebelum dia pulang.
"Oke. Aku akan menunggumu di rumahku." sahut Igarashi.
Setelah itu aku dan Gavin mengendarai motorku dan menuju ke sebuah rumah sakit dimana Jiwo, adik Gavin dirawat. Aku segera memarkir motorku lalu memasuki rumah sakit itu bersama Gavin.
Aku mengikuti Gavin yang berjalan sedikit di depanku. Dia menuju ke sebuah ruangan di lantai 3.
Hingga akhirnya kita sampai pada sebuah kamar dimana Jiwo dirawat. Gavin mulai memasuki kamar itu dan aku mengikutinya dari belakang.
Terlihat sesosok gadis yang kira-kira berusia 14 tahun terbaring lemah di atas ranjang. Dia terlilit banyak selang dan sangat pucat.
"Apa dia sama sekali belum membuka matanya setelah operasi itu?" tanyaku pelan.
Gavin menggeleng pelan. "Tapi sudah ada sedikit kemajuan. Dia bisa menggerakkan beberapa jemarinya."
"Syukurlah. Semoga saja dia akan segera sadar." ucapku pelan. "Karena aku ingin mengundang kalian untuk makan malam di rumahku."
Kini Gavin sedikit melirikku dan mimik wajahnya terlihat sedikit bahagia.
"Terima kasih, Shin." ucapnya pelan. Gavin mulai menatap adiknya kembali. "Selama ini kita selalu sendirian. Hanya saling memiliki satu sama lain. Dan aku tak pernah percaya dengan orang lain. Karena mereka semua adalah pembohong. Apalagi orang dewasa. Hanya bisa berjanji tanpa bisa membuktikanya. Aku dan Jiwo hanya hidup berdua setelah orang tuaku pergi. Ayahku meninggal saat aku masih kecil. Ibu ku yang merawatku dan Jiwo saat itu. Tapi saat aku berusia 12 tahun, Ibuku menikah kembali. Dia meninggalkanku bersama Jiwo. Padahal sebelum bertemu dengan pria itu dia sangat menyayangi kita. Dia berkata kalau aku dan Jiwo adalah dunianya. Dan dia tak akan bisa hidup tanpa kita. Dan dia berjanji tak akan meninggalkan kita. Tapi pada kenyataannya dia malah meninggalkan kita demi pria itu. Dia pergi tanpa memikirkan kita sedikitpun. Dia mengingkari bahkan melupakan janji-janjinya itu." kata Gavin penuh dengan amarah.
"Saat itu Jiwo masih kecil. Dan aku yang masih kecil juga harus mulai bekerja apapun untuk menghasilkan uang. Bahkan aku sering dipergunakan untuk berkelahi karena aku pandai berkelahi." tanpa sadar kini mata Gavin sudah berkaca-kaca.
Aku menepuk-nepuk pelan bahunya.
"Mulai sekarang kau bisa berbagi semuanya padaku. Dan aku juga akan berbagi semuanya kepadamu." kataku sambil menatapnya lurus-lurus.
Dan dia juga menatapku dengan tatapan haru.
"Terima kasih, Shin! Aku berjanji atas nama Jiwo, aku akan selalu berpihak padamu! Dan aku juga akan rela melakukan apapun sekalipun mempertaruhkan nyawaku untukmu!" katanya serius. Matanya sangat tajam, kedua alisnya juga sangat tegas.
"Tidak, Kawan. Aku tidak mau kau melakukan janji-janji itu. Aku hanya ingin kita berteman!"
Tatapan haru darinya bisa sangat aku rasakan. Dan dia langsung memelukku.
__ADS_1
...***...