
" Terima kasih ya Shin untuk hari ini." kata Norie yang menatapku lekat-lekat dan tersenyum manis. Senyumannya masih sama seperti dulu. Sangat manis dan mampu menyihirku. Senyuman yang begitu hangat seperti saat itu. Andai saja kau tidak melakukan kesalahan itu. Mungkin saja kita masih bersama saat ini, Norie.
" Tak masalah kok." aku mencoba untuk tersenyum walaupun sedikit merasa kikuk. Entah kenapa rasanya debaran ini kembali lagi. Dan kemarahanku seakan meredam begitu saja.
Aku melirik jam tanganku. Tak terasa sudah jam 9 malam saja.
" Kau mau pulang kemana? Ini sudah malam. Biar aku antar." kataku ramah.
" Tapi aku tidak mau pulang."katanya lalu berbalik dan membelakangiku. Dia menatap keindahan Enoshima Sea Candle yang sangat indah pada malam hari ini. Ya.. Sangat indah sekali. Seindah dirinya.
Aku berjalan mendekatinya dan berdiri tepat disampingnya. Aku ikut memandangi keindahan yang berada tepat di hadapanku saat ini.
" Jadi?" tanyaku sedikit bingung.
" Besok aku sudah harus kembali ke Osaka. Tapi aku masih ingin bersamamu." katanya yang terlihat sedikit sedih.
" Tidak mungkin kita berkeliaran di luar. Udara semakin dingin. Kau bisa sakit." kataku meliriknya.
" Bagaimana kalau kita menginap?" Norie berbalik dan menatapku. Matanya penuh binar menatapku.
" Menginap?" tanyaku ragu.
Aku sedikit terkejut mendengar kemauannya sih. Apa yang sedang dia pikirkan? Kenapa tiba-tiba dia mau menginap bersamaku?
" Yeap. Bagaimana, Shin?" tanyanya lagi.
Aku terdiam beberapa saat. Aku sedikit bingung harus bagaimana? Aku menatapnya datar dan dia masih menatapku dengan senyuman manisnya.
" Baiklah." kataku akhirnya. "Boleh pinjam ponselmu sebentar? Ponselku mati."
Norie segera mencari ponsel miliknya di dalam slingbagnya. Lalu memberikannya kepadaku.
Aku memencet nomor ponsel Aso, karena hanya nomor ponselnya yang aku hafal. Beberapa saat dia sudah mengangkatnya.
" Hallo. Ini siapa ya?" tanya Aso dari seberang.
" Aso, ini aku Shin." kataku.
" Ya, Shin. Ada apa?"
" Tolong kau bilang sama kakek Kekaishi ya. Hari ini aku tidak pulang. Bilang aja aku menginap di rumahmu. Oke?"
" Kau mau kemana?"
" Aku ada urusan. Udah dulu ya. Bye." aku langsung mematikan telponku dan menyerahkan ponsel itu kepada Norie.
" Kau nakal ya!" canda Norie sambil tertawa kecil.
__ADS_1
" Kau sendiri yang membuatku menjadi begini ya." timpalku bercanda.
Kita berdua tertawa bersama. Aku kembali teringat beberapa potongan kenangan masa lalu kita. Arrghh, Shin..!! Kau sungguh memalukan..!!
Semudah itu kau luluh padanya lagi..!!
Aku tak percaya semudah itu aku menuruti keinginan Norie. Dan semudah itu dia meredam amarahku dan kembali menumbuhkan kembali masa lalu kita.
Kita segera mencari sebuah penginapan. Dan ternyata cuma tersisa satu kamar. Itupun single..!! Oh My God..!!
Disaat aku mau menolak kamar single dan mau mencari di penginapan lainnya, Norie malah langsung mengambil kunci dan mengambil kamar itu. Apa yang sedang dia pikirkan?! Aku menatapnya terheran-heran.
" Ayo, Shin..!!" Norie menarik lenganku dan kita mulai menaiki lift untuk ke lantai 4.
Norie segera mencari kamar kita dan dia memasuki sebuah kamar lalu aku mengikuti di belakangnya. Sungguh rasanya kikuk sekali. Entah apa yang ada dalam pikiranku saat ini.
Norie melepaskan boothnya lalu meletakkan slingbagnya di atas meja. Kemudian dia melepas coatnya dan mengikat rambutnya.
" Shin, aku mau mandi dulu." katanya lalu menyamber handuk yang sudah mereka siapkan.
" Ah.. Oke.." jawabku berusaha bersikap santai dan cool.
Kenapa Norie bersikap biasa saja? Aku dan dia pernah memiliki sebuah hubungan. Dan bahkan kita sekarang satu kamar..!! Apa dia tidak merasa takut sama sekali padaku? Apa dia melupakan sesuatu bahwa aku ini seorang pria?
Haaiisshhh..
Kenapa aku yang pusing sendiri sih?!
Toh dia aja biasa aja kok.
Aku melepas coat dan uniformku. Aku hanya memakai kaos oblong hitam press body-ku. Lalu aku menyalakan TV dan duduk di atas sofa. Aku mengganti beberapa channel dan memutuskan untuk menonton sebuah cartoon saja.
Tak lama kemudian Norie sudah datang kembali. Dia memakai T-shirt putih dan celana pendek putih.
Ah kenapa manis sekali?
" Kau tidak mandi, Shin?" tanyanya lalu duduk disampingku. Tiba-tiba tak sengaja remote TV terpencet dan channel berubah menjadi sebuah Drama yang sedang beradegan kissing. What the h*ll. Aku segera menggantinya kembali.
Norie hanya tertawa kecil melihatnya.
" Tidak. Aku merasa kurang enak badan." sahutku berusaha sok cool. Dan berpura-pura menonton Tv.
" Oh. Maaf. Gara-gara aku ya?" kata Norie pelan.
"Bukan, Norie. Tapi aku merasa sedikit lelah saja."
" Oh.."
__ADS_1
" Norie.."
" Ya..?"
" Apa kau tidak takut sekamar denganku?" kini aku sedikit meliriknya.
" Memangnya kenapa aku harus takut? Bersama denganmu malah membuatku merasa nyaman, Shin." dia duduk menghadapku dan tersenyum menatapku.
" Aku bisa saja berbuat jahat padamu lho." kini aku juga duduk menghadap dia.
" Misalnya?" dia bertopang dagu menatapku sambil melempar senyuman manisnya.
Kau sedang menggodaku ya?!
Bagaimana kalau aku benar-benar melakukannya?!
" Ehm.. Yah.. Aku ini kan laki-laki normal. Tentu dalam situasi seperti ini akan membuatku merasa ini adalah kesempatan besar."
Norie yang mendengar ucapanku malah tertawa kecil.
" Begitukah, Shin?" tanyanya yang masih tertawa.
" Ya.. Tentu saja."
" Tapi aku tidak percaya kau bisa melakukannya." Norie berdiri dan berbalik hendak beranjak meninggalkanku. Tapi aku segera meraih tangan kirinya, sehingga dia tertahan.
Aku segera berdiri di hadapannya. Kita saling bertapatan beberapa saat.
" Orang sepertimu pasti akan berpikir 1000 kali untuk melakukan hal bodoh." kata Norie sambil tersenyum padaku.
" Oya? Kau yakin itu?" aku tersenyum menggodanya.
" Hhm..." Norie mengangguk pelan.
" Bagaimana kalau ini...?" aku sedikit menunduk untuk mengimbangi tingginya. Perlahan aku mendekati wajah cantiknya. Dan berhenti tepat 5 cm dari wajahnya. Dia memandangiku dan kemudian memejamkan matanya. Aku kembali mendekatinya dan mulai mengecup bibirnya yang lembut.
Semua kenangan masa lalu kita seakan kembali hadir dengan sangat nyata dan jelas. Kenangan-kenangan indah bersamanya kembali terlintas dan terasa sangat nyata.
Aku melingkarkan tangan kiriku di pinggangnya. Sedangkan tangan kananku menyibak rambutnya dan mengelus pipinya yang sangat lembut. Kemudian aku menahan kepala Norie untuk memperdalam ciuman kita.
Norie sama sekali tidak berusaha menghentikkanku. Malah sesekali dia membalas ciumanku dan melingkarkan kedua tangannya ke leherku.
Ciuman ini berlangsung cukup lama hingga aku menghentikannya beberapa saat. Menempelkan keningku pada kening Norie.
" Shin, Aku sangat merindukanmu." kata Norie setengah berbisik. Norie kembali mengecup bibirku berlahan dan sangat lembut. Dan aku membiarkannya saja. Bahkan aku malah membalasnya dan mendorong tubuhnya hingga dia perlahan terbaring di atas sofa.
Entah apa yang sudah aku lakukan saat ini. Kenapa aku bisa melakukan hal seperti ini kepadanya? Aku dan dia memang pernah saling mencintai. Tetapi dia juga pernah mengkhianatiku. Dan aku pernah sangat marah dan kecewa padanya. Tapi apa yang terjadi sekarang? Pada kenyataannya aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Bahwa aku juga merindukannya. Bahkan aku merindukan masa-masa indah kita dahulu.
__ADS_1