VCPD ( Virtua Cop Police Detective )

VCPD ( Virtua Cop Police Detective )
Bersamamu


__ADS_3

Aku sedang tertidur dikelas saat pelajaran Sejarah. Tapi tiba-tiba ada yang melempariku segumpalan kertas. Ah, Siapa sih? Ganggu orang tidur saja!


Aku menoleh ke belakang dan kulihat Ibby sedang memberi isyarat kepadaku untuk membaca isi kertas tadi. Lalu aku memungut kertas tadi yang terjatuh.


Bu Kaoru meminta alasan padaku mengapa aku lama tidak masuk sekolah ? Coba pikirkan alasan apa yang tepat. Oke!


Alasan tidak masuk sekolah ya ? Hhm.. Apa ya ??


Soal itu serahkan saja padaku. Nanti istirahat kita ke ruangan dia ya.


Aku menulis sesuatu dikertas itu lalu melempar kembali pada Ibby.


Pelajaran kedua berakhir. Lalu aku dan Ibby ke ruangan guru BP, Bu Kaoru. Aku mengetuk pintunya beberapa kali.


"Masuk!" katanya.


Aku dan Ibby memasuki ruangannya.


"Oh, Kalian ... Duduklah ..."


"Begini bu. Saya ingin menjelaskan mengapa Ibby tidak masuk sekolah selama ini. Ehm, Sebenarnya dulu kita mengira Ibby yang terbakar bersama Mamoru Takuma. Tapi ternyata dia diselamatkan sahabatnya dan masih hidup. Kalau tidak percaya ibu bisa memanggil Sidho Jargensen, anak baru di kelas 3F. Dia yang menyelamatkan Ibby." kataku.


"Baik. Ibu akan panggil dia." bu Kaoru menghubungi seseorang. "Suruh Sidho ke ruangan saya!"


Beberapa saat Sidho pun datang. Dia sempat kaget melihatku dan Ibby yang sedang berada di ruangan ini juga.


"Ibu memanggil saya?" tanya Sidho.


"Ya. Duduklah!"


Sidho duduk disampingku.


"Kau yang menyelamatkan Ibby dari Mamoru Takuma? Lalu kenapa tidak masuk sekolah sampai 1 bulan?" tanya Bu Kaoru tegas.


Sidho melirikku. Dan aku mengisyaratkan untuk berbohong.


"Ehm, Saat itu Ibby terluka parah. Dan Ibby tak ingin membuat teman-teman dan keluarganya khawatir. Jadi saya tidak menghubungi Shin maupun keluarganya. Maaf mungkin tindakanku salah."


"Baiklah. Ibu percaya. Kalian bertiga bisa keluar sekarang."


"Baik, kalau begitu kita permisi." kataku lalu keluar dari ruangan bersama Ibby dan Sidho.


"Hei, bagaimana hari pertamamu sekolah disini?" tanyaku pada Sidho saat kita berjalan di koridor.


"Hah, Membosankan! Biasanya aku yang berkuasa di luar. Tapi tadi pagi baru terlambat 1 jam saja sudah kena marah bu guru!" keluh Sidho.


"Baru 1 jam kau bilang?! Hah, Gila kau!" kata Ibby. "Kalau kau bukan murid baru pasti kau sudah dihukum bersihin halaman sekolah atau mungkin mungutin daun yang gugur yang ada di halaman sekolah."


"Sekolahanku dulu tidak seberat ini." keluh Sidho.


"Hidup itu penuh tantangan. Hidup yang biasa-biasa saja bukannya akan membuat kita bosan." candaku lalu kurangkul Sidho dan Ibby.


"Kau benar, Shin." sahut Ibby. "Bagaimana dengan Yuko?"

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanyaku sedikit bingung.


"Bukannya berita tentangmu dan Yuko sedang menjadi bahan pembicaraan anak-anak sini?" sahut Ibby.


Oh iya. Aku baru ingat. Ava! Aku belum bertemu dengannya sejak kemarin.


"Ehm, Kalian duluan saja. Aku ada urusan. Bye ..." aku berbalik untuk pergi ke kelas Ava. Ternyata dia sedang ada kelas ya. Aku mengetok pintu kelasnya.


"Ehm, Maaf mengganggu." kataku.


"Rheu, ada apa?" tanya bu guru Matzuzuki.


"Bu, saya ada perlu dengan Ava untuk rapat Osis."


Jelas saja bu Matzuzuki langsung percaya begitu saja denganku karena ketua Osis di sekolahan ini adalah aku.


"Ava, Kau boleh keluar." kata bu Matzuzuki. Lalu aku dan Ava bergegas keluar dari kelas 3F.


"Ada apa, Shin?" tanyanya agak cuek.


"Kangen aja sama kamu." aku tersenyum padanya. "Ava, kau ada kelas apa lagi?"


"Habis ini ada Aljabar. Tapi sebenarnya aku agak kurang suka dengan bidang itu."


"Wow, Aku juga kurang suka. Ternyata kita sehati ya." candaku. "Kita bolos yuk!" ajakku. Aku menatapnya untuk meminta persetujuannya.


"Bolos? Jangan bercanda deh!"


"Tidak!"


"Lalu kenapa kau berbeda dari biasanya?"


"Aku sama seperti biasa kok. Dan aku tidak marah."


"Ah, Yang bener ?" godaku.


"Aku percaya padamu, Shin." dia menatapku dan tersenyum manis.


"Oh ya ? Wah, Makasih ya, sayang. Kamu baik dan pengertian banget deh. Aku beruntung punya kamu." aku langsung memeluknya gemas.


"Shin. Kau apa-apaan sih? Bagaimana kalau ada yang melihat kita?"


"Ya sudah. Kita pergi saja yuk! Kita kencan saja ya." kugandeng dia, lalu kita melewati pagar sekolah bersama.


Seperti kejadian dulu gara-gara ada Pak Kouga, Ava kaget dan hendak terpeleset jatuh saat mau melompat keluar. Tapi aku segera menangkapnya.


Aku masih menggendong Ava dan membawa Ava berlari.


Pandangan kita saling bertemu membuat kita saling tertawa kecil.


"Kau ingat ini seperti Dejavu saja." kata Ava yang masih tertawa kecil.


"Yeap. Tetapi saat itu kau sungguh membuatku sangat kesal !!" aku pura-pura ngambek.

__ADS_1


"Ah, Maaf. Saat itu kan kita belum saling mengenal dengan baik."


"Permintaan maaf diterima." aku menaikkan satu alisku dan masih terus memandanginya.


"Uhm, Shin ..."


"Ya ..."


"Kau sudah boleh menurunkanku kok ..."


"Ahh, Aku masih kuat kok menggendongmu. Bahkan sampai ketempat tujuan kita aku kuat." candaku.


"Tapi bagaimana kalau mereka membuat berita yang nggak-nggak lagi tentangmu? Dan lagi aku merasa tak nyaman orang-orang jadi melihat kita terus." kata Ava pelan.


"Baik kalau itu kemauanmu." Aku menurunkan Ava pelan.


"Kita ke Sky Building ya." kata Ava.


"Oke, manis. Habis dari Sky Building kita ke Taman bermain yang baru ya."


"Iya ..."


Ternyata bolos saat jam pelajaran itu menyenangkan ya. Daripada aku tidur di kelas. Lebih baik aku pergi jalan-jalan saja. Ahahaha.


"Eh lihat! Bukannya ini gelang yang sedang marak?" aku melihat sebuah cantik berwarna navy blue. Ava mendekat dan ikut melihatnya.


"Kata Igarashi, gelang ini dapat mengikat kenangan berdua selamanya."


"Wah, Cantik sekali ..." kata Ava yang masih melihat gelang itu.


"Kau mau memakainya?"


"Eh? Boleh ..." kata Ava yang menatapku sambil tersenyum.


"Oke, aku ambil 2 ya." kataku kepada paman penjual gelang itu. Kuberikan satu untuk Ava dan yang satunya kusimpan.


Aku berniat untuk memberikannya pada Ai. Soalnya selama ini Ai sudah baik banget sama aku. Dia sering membawakan bekal makan siang untukku. Yah, Meskipun langsung diserbu Igarashi, Aso, dan Shika selama ini.


"Terima kasih ya, Shin ..." kata Ava sambil memandangi gelang tadi yang sudah kupakaikan di tangan kirinya. "Ini cantik sekali ..."


"Yeap. Kita naik bungee jumping yuk!" ajakku.


"Oke, siapa takut." sahut Ava.


Kita segera membeli tiket untuk menaiki wahana bungee jumping.


Wah, Sungguh ini seru sekali. Dan Ava juga terlihat bahagia sekali.


Setelah itu kita membeli Ice cream dan duduk di bangku taman.


"Eh, ada labirin raksasa ..." aku melihat ke arah timur. "Kelihatannya menarik." kutatap Ava. "Mau mencoba?"


"Boleh ..." sahutnya.

__ADS_1


__ADS_2