
"Kau sudah baca berita ini, Shin?" pagi-pagi Igarashi sudah menyodorkan sebuah majalah padaku. Aku menerima lalu membacanya.
...______________________________________________...
Yokohama Today
Seorang model cantik Norie Amane yang berasal dari Tokyo mengencani seorang pria. Dia tertangkap oleh kamera saat bersama dengan kekasihnya di taman Yamashita. Dan siapa sangka pria tersebut adalah Rheu ( Shin ) Mitzuru si Ketua VCPD.
Beredar rumor juga mereka pernah menjalin sebuah ikatan di masa lalu. Bahkan ada saksi teman sekelasnya saat SMP bahwa Rheu adalah cinta pertama Norie.
...______________________________________________...
"Lagian siapa sih yang akan peduli dengan berita ini?" kataku malas sambil meletakkan kepalaku di atas meja dan menggunakan majalah tadi untuk penutup kepalaku.
"Kau baik-baik saja, Shin?" tanya Shika.
"Ava mungkin akan marah besar jika membaca berita ini." sahut Igarashi.
"Tidak akan! Percaya deh padaku!" celutukku santai.
"Shin. Gavin mencarimu!" kata Ibby.
"Untuk apa dia mencariku?" aku duduk tegap dan melihat Gavin yang sudah menungguku di dekat pintu masuk kelas.
Aku segera bangun dan berjalan mendekatinya. Ada apa ya? Tumben sekali dia mencariku. Tidak seperti biasanya saja.
"Ada apa?" tanyaku setelah berdiri di hadapannya.
"Bisa kita berbicara sebentar, Shin?" tanya Gavin pelan.
"Ya ..."
Kita segera bergegas pergi dari kelas dan pergi ke tempat yang agak tenang.
"Ada apa, Gavin?"
"Apa tawaranmu kemarin masih berlaku?"
Aku terdiam sejenak dan mengingatnya.
"Tentang VCPD?" tanyaku.
" Yeap. Apa keuntungan yang aku dapat jika bergabung dengan VCPD?" tanyanya menatapku serius.
"Kau maunya apa?" aku berbalik bertanya kepadanya.
__ADS_1
"Sebenarnya ..." Gavin berbalik dan menatap lapangan basket sekolah yang masih sepi.
"Adikku harus segera dioperasi. Satu bulan yang lalu dia mengalami sebuah kecelakaan. Dia tak sadarkan diri sampai sekarang. Benturan di kepalanya sangatlah keras. Dan pihak Rumah Sakit menyarankan untuk segera operasi." Gavin mengambil nafas lalu mengeluarkannya lagi.
"Dan biayanya sangatlah besar. Uang yang selama ini aku cari dan kumpulkan dari mengajar les karate dan kendo selepas pulang sekolah hanya mencukupi untuk perawatan rumah sakit dan keperluan hidupku saja. Bahkan aku sudah mengajukan pinjaman pada bos ditempat aku bekerja. Tapi karena jumlah yang sangat besar, mereka tak bisa memberikannya." Gavin masih menerawang jauh. Dan terlihat raut wajahnya yang sedikit datar.
Jadi inilah alasan kemarin dia menolak untuk bergabung dengan VCPD. Karena dia sibuk dan harus mencari uang untuk dirinya sendiri sekaligus untuk adiknya yang sedang dirawat di rumah sakit.
Aku juga sedikit mendengar rumor tentang Gavin, kalau dia adalah seorang yatim piatu.
"Aku akan membicarakannya dengan kakekku!" aku menepuk bahu Gavin dan tersenyum padanya.
"Terima kasih, Shin." sahutnya pelan. "Aku benar-benar bingung, Shin. Aku juga sudah menghubungi kerabat-kerabat kita. Tapi nol. Mereka sama sekali tak mau membantu kita. Yang aku miliki sekarang hanyah adikku, Jiwo. Aku tak bisa kehilangan dia, Shin! Aku tak mau kehilangan dia!" kini mata Gavin sudah mulai berkaca-kaca.
Baru kali ini aku melihat Gavin yang seperti ini. Baru kali ini aku melihat sisi Gavin yang lemah seperti ini. Biasanya dia selalu terlihat dingin dan cuek. Aku menepuk bahunya lagi dan kini dia menatapku.
"Aku akan akan berusaha mendapatkan uang itu, Gavin!"
"Terima kasih, Shin." katanya tulus.
"Sama-sama, Gavin." aku menatap dan tersenyum padanya.
...***...
"Kakek. Apa aku boleh meminjam uang?" tanyaku kepada kakek saat di rumah.
"Aku tidak tau pastinya, Kek. Tapi untuk operasi adik temanku. Dia sudah koma selama satu bulan. Dan dia tak punya uang untuk biaya operasi. Aku akan ganti saat aku sudah bekerja nanti, Kek." kataku antusias.
"Temanmu yang mana?" kali ini kakek menatapku serius. "Apa kau memiliki teman baru?"
"Namanya Gavin. Dia adalah teman sekelasku, Kek. Dia sudah tidak mempunyai orang tua. Dia juga harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri dan juga adiknya. Dia juga sangat hebat berkelahi dan juga cerdas. Saat di Hokkaido dia pernah mengikuti sebuah organisasi seperti VCPD juga." kataku menceritakan tentang Gavin kepada kakek.
"Dan aku juga mengajaknya bergabung dengan VCPD, Kek."
"Baiklah. Tanyakan padanya, Di rumah sakit mana adiknya dirawat? Dan siapa namanya. Nanti kakek akan mengurus semua administrasinya."
"Serius, Kek?" tanyanku kegirangan."Baik. Nanti akan kuhubungi Gavin untuk menayakannya!"
"Hhm. Dan kau tak usah merasa berhutang kepada kakek. Dan jangan pernah mengembalikan uang itu! Karena ini kakek berikan untuknya."
Aku melotot menatap kakek. Rasanya sangat terkejut mendengar ucapan kakek barusan.
"Serius, Kek?" aku langsung jongkok di hadapan kakek dan berpegangan pada kedua paha kakek.
"Hhm ..." sahut kakek sambil tersenyum menatapku.
__ADS_1
"Kakek baik sekali! Terima kasih kakek!" kini aku memeluk kedua kaki kakek karena aku masih jongkok di hadapan kakek.
Kakek hanya tertawa melihat tingkahku.
"Kakek bangga sekali padamu, Shin!" kakek menepuk bahuku dan tersenyum menatapku. "Kau bahkan bisa berbuat sampai sejauh ini untuk membantu temanmu itu! Saat adiknya sudah sembuh nanti, ajak mereka makan bersama disini!"
"Tentu saja, Kakek!" aku tersenyum lebar dan kembali memeluk kaki kakek.
"Kali ini dia sedang merengek untuk dibelikan apa, Kek?" tiba-tiba terdengar suara seorang pria.
Aku menoleh ke arahnya, ternyata Kak Shu yang datang. Dia segera duduk di sofa. Tapi kenapa dia rapi sekali ya? Dia mengenakan setelan jaz dan rambutnya yang disisir rapi sedikit kesamping atas. Dan dia juga sangat harum.
"Aku tidak minta dibelikan apa-apa!" kataku dingin.
"Benarkah? Lalu apa yang kau minta?" tanya Kak Shu lagi.
"Bukan urusanmu!"
"Wah, adikku sepertinya sangat membenciku deh ..."
Kakek hanya tertawa melihat tingkah kita berdua.
"Shu. Apa kau sudah siap?" tanya kakek kepada Kak Shu.
"Sudah, Kek. Apa kita akan berangkat sekarang?" jawab kak Shu.
"Kakek dan kak Shu mau pergi kemana?" tanyaku pada kakek.
"Kakek ada janji dengan seseorang. Untuk membicarakan perjodohan kakakmu." kata Kakek pelan.
"Perjodohan kak Shu?" tanyaku sedikit terkejut.
"Iya. Paling-paling hanya akan tunangan dulu kok. Sampai Shu menyelesaikan kuliahnya, baru mereka akan menikah." sahut kakek.
Aku menatap kak Shu bingung. Kenapa kak Shu mau dijodohin begitu saja ya? Aneh!
"Siapa gadis itu?" tanyaku penasaran.
"Kau boleh ikut bersama kami kalau kau penasaran!" sahut kak Shu.
"Benar. Kebetulan kau juga sudah pulang, Shin. Jadi kau bisa ikut. Segeralah berganti baju! Kita akan menunggumu disini." kata Kakek.
"Tapi, Kek ..." sergahku.
"Cepat ganti baju ya. Jangan lama-lama ..." kakek sedikit mendorong tubuhku agar segera bergegas.
__ADS_1
Dengan malas aku segera pergi ke kamarku untuk berganti baju. Aku mengenakan setelan jaz untuk ke acara ini.
...***...