VCPD ( Virtua Cop Police Detective )

VCPD ( Virtua Cop Police Detective )
Sebuah Kericuhan


__ADS_3

"Mau tambah lagi?" tanyaku menawari Ava.


"Tidak, Shin. Ini saja sudah cukup!" Ava mengibaskan kedua tangannya dengan cepat dan matanya sedikit membulat menatapku.


'Serius? Padahal tidak perlu segan kepadaku lo ..." ucapku menggodanya dengan tawa kecil.


"Serius! Biasanya aku malah jarang makan terlalu larut kok!" ucapnya sambil memakan ramen hangatnya.


"Kenapa?" tanyaku sedikit penasaran.


"Hehe ... Ya karena aku menjaga berat badanku ..." ucapnya malu-malu.


"Badanmu sudah bagus kok!"


"Eh? Maksudku, aku ini adalah type orang yang mudah gemuk. Hanya dengan makan sedikit saja berat badanku bisa bertambah lho ..."


"Begitu ya? Kalau begitu kau juga harus rajin berolahraga. Mau gym bersama?"


"Hhm? Biasanya aku selalu pergi sendirian sih selama ini ..."


"Kau pergi ke tempat gym sendirian?" ucapku tak percaya. Padahal disana tentu akan banyak sekali pria-pria.


"Hhm. Daridulu kemanapun aku pergi aku selalu sendirian . Les Kendo, Judo, Taekwondo, sekolah, pergi kemanapun itu ... Aku selalu sendirian. Paling hanya Nami yang menemaniku, itu pun hanya kalau dia memiliki waktu luang."


Braakkk ...


Tiba-tiba saja terdengar sebuah meja yang di gebrak dari salah satu meja pengunjung. Dan sontak saja semua perhatian mengarah pada mereka.


Sepasang kekasih terlihat seperti sedang melakukan komplain kepada bibi pemilik cafe yang sudah tidak muda lagi itu.


"Makanan apa ini? Sudah dibilang jangan dikasih sayuran karena aku nggak bisa makan sayur!" hardik gadis itu dengan suara menggelegar.


"Maaf saya lupa, karena pelanggan yang cukup banyak sehingga saya lupa. Biarkan saya menggantinya." ucap bibi pemilik kios cafe dengan ramah lalu mengambil semangkok ramen itu.


"Sok sibuk sekali!" hardik si pria sambil menghempaskan semangkok ramen itu lalu terjatuh begitu saja. "Baru juga cafe kecil tapi sombongnya minta ampun! Masa kau mau memberikan makanan sampah kepada tunanganku?"


"Mulutmu itu yang sampah!" geramku dengan tegas dan begitu kesal. Karena aku tidak bisa diam saja menyaksikan semua ini.


Yeap pasangan ini sudah bersikap sangat keterlaluan kepada orang tua. Hanya karena lupa memberikan sayuran saja, marahnya minta ampun! Tinggal ganti saja apa susahnya sih?!

__ADS_1


"Siapa kau tiang listrik berani ikut campur?!" celutuk pria itu lalu berdiri mendongak menatapku tajam.


"Memang kenapa kalau aku tiang listrik? Daripada kau jelek!" ucapku sedikit emosi.


"Beraninya kau, Bocah!" pria itu melayangkan tinjunya padaku dan aku menangkapnya.


"Aku sedang tidak dalam keadaan hati yang baik. Jika kau terus memancingku aku bisa membuatmu babak belur!" ucapku menatap pria itu dengan tajam.


"Hahaha ... Merasa jagoan rupanya ya!" pria itu terkekeh lagi dan tiba-tiba melayangkan tinjunya lagi ke arah wajahku. Namun aku bisa menghindarinya.


"Cukup minta maaf kepada bibi pemilik cafe! Maka aku akan memaafkanmu!" ucapku dengan pelan namun tegas.


"Mimpi saja! Aku tidak akan pernah meminta maaf!" katanya kekeh.


"Baiklah kalau memang seperti itu! Tidak ada pilihan lain kecuali melayanimu ... Terima kasih karena hadir disaat suasana hatiku yang kurang baik." aku menyeringai manis menatap pria itu.


Pria itu berusaha kembali melayangkan tinjunya, namun dengan cepat aku berputar dan menyerang wajahnya dengan sikuku.


Buugghh ...


Aku meraih salah satu tangannya dan menarik kerah bajunya, lalu aku menganggkat tubuhnya lalu menghempaskan tubuhnya hingga tubuh itu menabrak beberapa meja dan kursi.


Brruukk ...


"Ah, Sialan! Berani sekali kau padaku!" ucap pria itu berusaha untuk bangun dan berdiri kembali.


"Minta maaflah dan aku akan melepaskanmu!" ucapku dengan penuh penekanan dan berjalan menghampirinya yang masih terduduk.


"Aku tidak akan pernah meminta maaf!" ucap pria itu dengan kekeh.


Kini aku mulai sangat kesal dibuatnya, aku mendorong dadanya dengan telapak kakiku lalu menginjaknya dengan santai.


"Kau mau aku bikin cedera? Atau kau mau aku memborgolmu dan membawamu ke kepolisian karena telah membuat kiricuhan di sini serta berusaha menyerang polisi? Sekarang pilih saja kau mau yang mana!" ucapku lalu memperkuat injakanku.


"Akh ..." pekiknya sedikit menahan. "Jadi kau seorang polisi?"


"Menurutmu?"


"Jangan banyak omong kosong dan hanya bisa menggertak!"

__ADS_1


"Well okay." ucapku sambil mencari sesuatu pada pakaianku, sementara aku masih menginjak dada pria yang masih terbaring itu dengan satu kakiku. Ternyata aku sama sekali tidak membawa borgol maupun pistol, karena aku tadi keluar dengan terburu-buru.


"Karena aku lupa membawanya. Maka aku akan memberikan pelajaran saja untukmu!" ucapku akhirnya.


Namun pria itu kini malah tertawa terbahak-bahak, "Pembohong! Bilangnya polisi! Tapi tak bawa pistol atau apapun!"


Kini aku menurunkan kakiku dari atas dadanya lalu berpindah untuk menginjak jemarinya. Aku menekan dengan kuat dan memlintirnya menggunakan kakiku.


Kreteeeekkkk ...


Terdengar seperti ada sesuatu yang patah dan seketika pria itu berteriak melengking karena menahan rasa sakit, "Akhhhh ..."


Aku menyeringai menatap pria menyebalkan itu. Namun tiba-tiba saja tunangan dari pria itu segera datang menghampiri kita.


"Tolong lepaskan tunanganku! Kita akan meminta maaf. Tolong maafkan kami!" ucap gadis itu memohon kepadaku.


"Kau mau minta maaf?!" tanyaku dengan tajam dan sedikit menunduk menatap pria yang berbaring itu.


"Ah ... Baiklah ... Baiklah ... Aku akan meminta maaf pada bibi itu!" ucapnya akhirnya.


Huftt ... Aku segera melepaskannya dan gadis itu segera membantu pria itu untuk berdiri kembali.


"Maafkan kami ..." ucap gadis itu kepadaku lalu dia segera menarik tunangannya itu untuk menghampiri bibi pemilik cafe ini.


"Maafkan atas kericuhan yang sudah kami timbulkan, Bibi. Kami akan menggantinya ..." gadis itu segera mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkan kepada pemilik cafe itu. Namun bibi pemilik cafe itu segera menolaknya dengan sopan.


"Tidak apa-apa. Simpan saja, Nak!" ucap bibi pemilik cafe dengan ramah. "Lain kali jangan berbuat seperti ini lagi." imbuhnya dengan ramah.


"Terima kasih banyak. " seteleh itu pasangan itu segera meninggalkan cafe ini. Pria itu berjalan tertatih-tatih meninggalkan tempat ini, sementara gadis itu membantunya untuk berjalan.


"Shin. Kau baik-baik saja kan?" kini Ava sudah berdiri di sampingku saja.


"Aku tidak apa-apa kok."


"Nak, Terima kasih banyak." ucap bibi pemilik cafe kepadaku dengan ramah. "Makanlah sepuasnya dan tidak usah membayarnya."


"Oh! Tidak perlu seperti itu, Bibi! Aku melakukannya dengan ikhlas kok. Yang seperti itu memang sekali-kali harus diberi pelajaran." sahutku dengan santai.


"Tunggu dulu ... Sepertinya bibi pernah melihatmu sebelumnya." ucap bibi pemilik cafe yang sudah tidak muda lagi itu mengkerutkan sedikit keningnya. "Apakah kamu cucu dari Tuan Kekaishi? Pemilik dari Ryokan Mitzuru Villa?"

__ADS_1


Aku tersenyum lebar dan mengangguk pelan, "Benar sekali. Sudah lama sekali aku tidak datang kesini."


"Kalau begitu makanlah sepuasnya! tuan Kekaishi sudah sangat baik selama ini ..." ucap bibi pemilik cafe dengan senyum yang mengembang dan terlihat sangat tulus. "Tidak bibi sangka, kebaikannya menurun pada cucunya." imbuhnya lagi menatapku dengan senyum hangat.


__ADS_2