VCPD ( Virtua Cop Police Detective )

VCPD ( Virtua Cop Police Detective )
Janjiku


__ADS_3

"Hei! Kenapa kalian bisa dikeluarkan dari kelas secara bersamaan?" todong Igarashi saat di kantin.


Yeap, saat ini sedang istirahat. Igarashi dan Shika menyusul kita di kantin. Tak lama Lee datang ke meja kita juga.


"Jangan-jangan tadi malam kalian piknik ya? Curang! Kenapa aku tidak diajak?" Igarashi duduk di sebelah Aso.


"Iya. Kita semalam piknik." sahut Aso.


"Piknik ke Hutan Aokigahara!" sambung Lee.


"Hah? Ngapain malam-malam pergi kesana?" tanya Igarashi bingung. "Kalian tak sedang ingin bunuh diri kan?"


"Hanya orang bodoh yang berfikiran untuk menghabisi hidupnya sendiri."sahut Sidho.


"Jadi kalian ngapain kesana malam-malam? Berburu hantu?" tanya Igarashi sambil memakan sandwichnya.


"Ceritanya panjang ..." sahutku.


"Heh! Ya sudah kalau tidak mau cerita!" kata Igarashi agak manyun.


"Aduh! Saat ngambek pun tetap manis ya." kata Yama menatap Igarashi sambil bertopang dagu.


"Ah, Yama! Hentikkan!" kata Igarashi kesal.


"Eh, by the way kemarin kamu bolos lagi ya, Shin?" tanya Shika. "Kau juga menghilang begitu saja saat jam ke-4."


"Ava juga menghilang mulai jam ke-4." sahut Ichi sedikit curiga.


"Jangan-jangan kalian kencan ya?" celutuk Aso yang tiba-tiba dan membuatku tersedak. Shika lekas memberiku minum.


"Apa? Shin dan Ava berkencan?" tanya Sidho.


"Ah, Ehm ... Tidak kok. Aku kemarin main ke Sky Building aja kok. Habis itu aku nyari game keluaran terbaru itu." kataku berbohong.


"Ah, Kukira kalian benar-benar pacaran." sahut Sidho.


...***...


Sepulang sekolah kita semua berniat menjenguk Ibby dan Ava. Yeap kita ke rumah Ibby dulu.


Ternyata dia sudah sehat. Saat kita pergi ke rumahnya dia sedang asyik bermain game.


"Ibby, kau sudah baikan?" tanyaku ketika tiba di rumah Ibby.


"Sebenarnya luka seperti itu tak akan membuatnya sangat kesakitan sih." sindir Sidho. "Dia sedang menyari-nyari kesempatan agar tidak masuk sekolah dan bersantai di rumah." Sidho membisikiku.


"Woi! Aku dengar lho." sahut Ibby.


"Maafin aku ya, Ibby. Aku malah melukaimu malam itu. Aku tidak becus membidik!" kataku menyesal. "Apa aku mengundurkan diri saja dari VCPD ya?"


"Ah, Apa yang kau katakan?" kata Igarashi tiba-tiba. "Kalau kau mengundurkan diri, siapa yang akan memimpin VCPD nanti?"

__ADS_1


"Sepertinya aku memang bukan pemimpin yang baik. Salah satu dari kalian bisa menggantikanku." kataku sambil menatap mereka satu per satu.


"Shin! Lihat aku! Aku tidak apa-apa kok. Aku sudah sehat." Ibby menunjukkan otot lengannya. "Aku sudah terbiasa dengan luka seperti itu. Dan seperti yang Sidho katakan. Aku hanya sedang mencari kesempatan untuk bersantai di rumah. Jadi jangan bicara omong kosong lagi!"


"Dan asal kau tau, salah satu diantara kita tak akan bisa menggantikan posisimu." kata Aso tegas.


Aku mengambil nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.


"Tapi aku sudah melakukan kesalahan yang sama." kataku menerawang jauh. "Yang pertama aku telah menembak kakek Sidho dan yang kedua aku juga telah menembakmu. Aku sungguh tidak becus! Polisi macam apa aku ini."


"Di dalam medan perang ini memang sering terjadi. Tapi bukan berarti kau yang salah. Ini adalah kesalahan mereka karena telah menjadikan Ibby maupun kakek Sidho sebagai tameng. Ini murni kesalahan mereka!" kata Lee bijak.


"Kalau kau mengundurkan diri. Maka kita semua juga akan mundur." kata Shika yang sedikit membuatku tercengang.


"Shika benar. VCPD akan berakhir kalau kau mundur. Karena kita juga akan mundur." tambah Hakken.


Suasana hening beberapa saat. Tanpa ada yang berbicara lagi.


"Jadi apa kau tetap akan mengundurkan diri?" tanya Aso memecah keheningan sore itu.


Aku menarik nafas dalam lalu kembali mengeluarkannya perlahan.


"Baiklah. Aku tidak akan mengundurkan diri. Tapi kalau sampai aku membuat kesalahan yang sama lagi, saat itu aku akan benar-benar mundur dari VCPD." kataku akhirnya.


"Nah, Gitu donk!" Ibby langsung merangkulku.


"Dan jika kelak kau terpaksa keluar dari VCPD, maka aku akan membuat organisasi baru denganmu, Shin." sahut Sidho bercanda.


"Jangan bilang organisasi preman ya!" kata Igarashi mengancam Sidho.


"Sidho! Jangan kau lakukan lagi deh!" kata Ibby ikut kesal.


Aku tersenyum menatap mereka semua. Ah senangnya dikelilingi teman yang baik.


...***...


Setelah itu kita pergi ke rumah Ava untuk menjenguknya. Tapi kali ini Hakken dan Lee sudah pulang duluan dan tidak ikut. Sedangkan Ibby malah ikut bersama kita.


"Teman-teman, maafkan aku. Aku memang tidak berguna. Aku hanya bisa menyusahkan kalian. Gara-gara aku kalian semua menderita. Aku bahkan merasa tidak pantas berteman dengan kalian." kata Ava pelan saat kita sudah sampai di rumahnya.


"Apa yang kau katakan, Ava ?" kata Igarashi.


"Aku hanya menyusahkan kalian. Aku tidak berguna!!" kata Ava menunduk.


"Tidak penting seberapa bergunanya teman untuk kita, Ava. Tapi yang kita inginkan adalah kau apa adanya." tutur Sidho.


"Iya itu menurut kalian! Tapi menurutku tidak!" bantah Ava.


"Teman adalah saling melindungi dan menjaga satu sama lain. Kami tidak akan membiarkan salah satu dari kita disakiti dan dilukai orang lain. Tak peduli seberapa bergunanya dia untuk kita." kataku sambil menatap Ava lurus-lurus.


"Iya, Ava." Igarashi melangkah mendekati Ava lalu memeluknya. "Kau adalah teman kita."

__ADS_1


"Teman-teman. Terima kasih ..." kata Ava terharu. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Ava, aku juga udah kangen banget sama kamu!" tiba-tiba Yama ikut bergabung berpelukan dengan Igarashi dan Ava. Dan ini sangat membuatku tidak nyaman.


"Heh! Jangan mencari kesempatan ya!" kataku sambil menarik Yama.


"Shin, kau kenapa? Kenapa kau yang marah?" tanya Yama. "Jangan-jangan ..."


"Jangan-jangan apa?" potongku. "Aku cuma nggak suka kau berbuat seenak jidatmu sendiri!"


"Masa sih?" goda Yama.


"Bilang saja kau mau memeluk Igarashi." kataku mengalihkan pembicaraan.


"Ah, Bukan soal itu. Tapi soal kau dan Ava." sahut Yama sambil tersenyum menggodaku.


Aduh! Dasar Yama!


Aku kan jadi tidak enak dengan Sidho. Aku melirik kearah Sidho dan Sidho sedang melirikku juga. Mata kami saling bertemu, sangat membuatku tidak nyaman.


"Sidho, ada yang ingin aku bicarakan. Bisa keluar denganku sebentar?" tanyaku akhirnya.


"Oke ..." sahut Sidho.


Akhirnya aku dan Sidho keluar. Kita menuju ke taman depan di halaman rumah Ava.


"Ada apa, Shin ?" tanyanya saat kita diluar. Dia duduk di sebuah kursi.


"Ada yang ingin kutanyakan padamu, Sidho." kataku lalu duduk di sebelahnya. "Apa perampokan dan pembunuhan yang terjadi di keluargamu ada hubungannya dengan Victor?"


"Iya, perampok-perampok itu adalah teman-temannya."


"Mengapa dia bisa sekejam itu?"


"Karena dia gila! Hanya kata-kata itu yang tepat untuknya." kata Sidho lalu menatapku. "Apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya, Shin?"


"Eh, Ya itu tadi." sahutku berbohong.


"Tidak. Aku tau kau sedang menyembunyikan sesuatu."


Aneh. Kenapa dia bisa tau? Sebenarnya aku ingin membicarakan tentang Ava.


"Baiklah kalau kau tidak mau bilang." kata Sidho.


"Jaga dia baik-baik ya!" dia tersenyum menatapku. "Aku percaya padamu, Shin. Karena kau adalah temanku."


Bagaimana Sidho bisa tau?


"Sidho ..."


"Aku memang salah telah menyia-nyiakannya dulu. Tapi aku sudah sedikit merasa lega karena sekarang dia bersamamu. Kau adalah cowok yang baik..." Sidho tersenyum dan menepuk bahuku.

__ADS_1


"Sidho ..." darimana dia tau semua ini?


...***...


__ADS_2