VCPD ( Virtua Cop Police Detective )

VCPD ( Virtua Cop Police Detective )
Pertemuan di Pantai Enoshima


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit aku segera menuju ke rumah Igarashi. Di rumahnya ada orang tua dan juga kakak laki-lakinya yang bernama Yosuke.


"Dia di kamarnya. Masuk saja, Shin!" ujar kak Yosuke padaku.


"Baik, Kak." sahutku lalu bergegas untuk ke kamar Igarashi yang berada di lantai 2. Aku mulai mengetuk pintu kamarnya. Tapi tak ada sahutan sama sekali.


Duh, kemana sih dia?


Aku kembali mengetuk pintu kamarnya, dan berusaha membukanya. Ternyata tidak dikunci.


"Iga, aku masuk ya ..." ucapku sambil memasuki kamar Igarashi.


Kamarnya masih sama seperti saat aku datang kesini dulu sekali. Semua tertata begitu rapi dan penuh nuansa biru.


"Iga ..." panggilku lagi sambil melihat-lihat kamarnya. Aku melihat sebuah foto di meja belajarnya, Foto VCPD. Aku tersenyum menatapnya. Foto ini diambil saat kita masih kelas X.


Dimana sih Igarashi? Kenapa dia tidak ada di kamarnya? Aku mengambil sebuah buku Igarashi dan membacanya. Kini aku duduk di meja riasanya.


"Shin ... Kau sudah lama?" tanya seseorang tiba-tiba yang baru keluar dari kamar mandi di kamarnya.


"Lama banget! Kau kemana saja sih?" kataku sambil meletakkan buku itu kembali.


"Maaf, aku baru selesai mandi." ucapnya sambil merapikan rambutnya yang terlihat baru keramas.


"Yuk ah. Buruan!" desakku padanya.


"Iya, bentar deh!" ucap Igarashi lalu meletakkan handukknya kembali di gantungan.


Igarashi datang dan menggeser kursi di sebelahku.


"Jadi darimana nih aku ngajarinya?" tanyanya sambil menyisir rambut hitamnya.


"Ya langsung ke inti saja, Iga. Aku kan besok mengajaknya bertemu untuk mengakhiri semuanya."


"Hhm ... Oke deh!"


...***...


Ponselku berdering saat aku sudah pulang sekolah. Dan ternyata Norie yang menghubungiku. Dan aku segera mengangkatnya.


"Ya, Norie." sapaku sambil berjalan ke arah parkiran.


"Kau sudah pulang, Shin?" tanya Norie dari seberang.


"Iya. Baru saja keluar dari kelas nih. Kau sudah selesai pemotretan?" aku mengobrol sambil terus berjalan menuju parkiran.

__ADS_1


"Sudah kok. Kita bertemu dimana?"


"Terserah kamu saja. Share saja lokasinya padaku. Dan aku akan segera kesana."


"Oke. Aku akan mengirim alamatnya padamu."


"Oke ..." kataku lalu mematikan ponselku.


Paling-paling dia mengajakku ke sebuah restoran. Dia kan suka sekali ngemil. Tanpa sadar aku sedikit tertawa geli mengingat salah satu hobi dia.


Setelah beberapa saat Norie sudah mengirim alamat tempat untuk kita bertemu. Ternyata tebakanku salah. Dia mengirimiku sebuah alamat pantai di Kanagawa. Ya, Pantai Enoshima.


Aku segera memakai helm ku dan segera mengendarai motorku. Aku segera melajukannya menuju pantai Enoshima.


Setelah beberapa saat aku sudah sampai di pantai Enoshima. Dan aku segera menghubungi Norie kembali.


"Norie, Aku sudah sampai. Kau dimana?" tanyaku sambil menebarkan pandanganku untuk mencari sosoknya.


"Baik. Sebentar. Aku akan segera kesana. Kau di pantainya kan, Shin?"


"Iya ..."


"Ok, Wait. Lima menit lagi aku sampai."


Aku kembali mematikan ponselku dan berjalan menyusuri bibir pantai Enoshima.


Sudah lama sekali aku tidak pergi ke pantai. Pantai ini sungguh indah, airnya juga sangat jernih. Hamparan pasir yang luas ini, sangat menakjubkan. Pasir putih dan air hijau zambrud benar-benar pemandangan yang tak boleh dilewatkan. Dan pemandangan laut yang membentang indah menuju cakrawala ini sungguh menakjubkan.


Angin yang berhembus juga terasa sangat segar dan hangat. Musim panas memang cocok sekali untuk memanjakan diri ke pantai.


Well, saat ke Kyoto harus ada Pantai yang harus kita kunjungi. Aku sudah tidak sabar.


"Hai, Shin ..." sapa seseorang tiba-tiba. Aku segera menoleh ke arah sang pemilik suara. Dan ternyata Norie sudah berdiri tepat di sampingku.


Dia sudah mengenakan sebuah pakaian santai. Dengan atasan T-Shirt dan celana santai pendeknya. Dia memakai kacamata dan topi agar orang-orang tidak langsung mengenalinya. Sementara aku hanya berpakaian biasa saja. Masih mengenakan uniform sekolahku dan membalutnya dengan sebuah coat.


"Hai ..." aku tersenyum menatapnya.


"Sudah lama menunggu, Shin?" tanyanya lalu melepas kacamatanya.


"Tidak. Aku baru saja sampai kok. Kita mengobrol dimana?" tanyaku sambil menatap sekelilingku.


"Bagaimana kalau sambil makan?"


Tawaku sedikit terlepas mendengar ajakan makannya. Dia masih sama ternyata. Gadis yang suka mengemil dan makan tetapi tetap tidak bisa gemuk.

__ADS_1


"Kenapa tertawa?" tanya Norie sedikit kebingungan.


"Ah, Bukan apa-apa kok." kataku sambil mengibaskan tanganku dan masih tersenyum lebar.


Akhirnya kita berdua segera menuju ke sebuah cafe yang tak jauh dari situ. Kita memesan beberapa makanan dan minuman.


"Kau sendirian saja?" tanyaku membuka pembicaraan kembali.


"Tidak. Managerku dan yang lainnya masih di resort." sahutnya lalu meminum orange juicenya.


"Oh, Begitu ..."


"Apa yang mau kau bicarakan denganku, Shin?" kini dia tersenyum samar dan menatapku.


"Ehm, Itu ..."


"Ya, Katakan saja." ucapnya ramah. Tidak seperti malam itu yang terlihat begitu kesal dan dingin padaku.


"Aku mengajakmu bertemu itu karena ... Ehm ..."


"Aku tau maksudmu kok, Shin." potong Norie tiba-tiba. Dia mengambil nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan. "Jangan khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan bersama. Tapi jangan khawatir, Shin. Aku tidak akan mengecewakan kak Shu." ucapnya pelan dan memandang ke arah lautan lepas.


Aku sempat sangat terkejut dengan apa yang barusan dia katakan. Apa dia sudah benar-benar melupakanku? Tapi malam itu ... Ah sudahlah! Baguslah dong jika memang seperti itu. Aku tidak bersusah payah lagi membujuknya dong. Sia-sia saja aku berguru dengan Igarashi semalam deh. Huft ...


"Kau mau membicarakan tentang itu bukan?" kini Norie menatapku dan sedikit menyunggingkan senyuman manisnya.


"Uhm, Iya. Maaf jika selama ini aku pernah berbuat salah padamu. Dan aku harap kelak kau bisa hidup bahagia dengan Kak Shu. Aku hanya ingin melihat kalian bahagia." ucapku hati-hati. "Aku juga ingin kau melupakan semua tentangku ..."


Norie tersenyum tapi aku sempat melihat matanya yang sedikit berkaca-kaca.


"Tenang saja, Shin. Aku akan menjadi istri dari kakakmu. Mana mungkin aku masih mengingat pria lainnya lagi?" katanya sedikit tertawa kecil. Namun matanya saat ini sedang berkaca-kaca.


Mengapa aku berpikir seperti dia sedang berbohong. Aku hanya menatapnya dengan sedih.


"Benarkah itu, Norie?" tanyaku hati-hati.


"Hhm. Aku tidak akan mengecewakan kak Shu. Dan aku juga tidak akan mengecewakan mamaku. Dia adalah pilihan dari mama. Dan aku harus memenuhi permintaannya. Aku akan menjadi seorang istri yang baik untuknya kelak."


"Aku lega sekali mendengar semua itu. Dan tenang saja. Meskipun aku baru mengenal kak Shu, tapi aku sangat yakin dia adalah orang yang baik. Dia akan selalu menjagamu kelak." kataku pelan dan tersenyum menatap Norie.


"Hhm. Aku beruntung sekali ya ..." Norie menunduk dan tertawa kecil.


"Benar sekali, Kakak Ipar ..." kataku sedikit menggodanya. Dan sesaat sempat tertawa kecil mendengarnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2