
Ava mulai membereskan kotak bento itu, dan memasukkan kembali pada totebagnya.
"Kita kembali lihat Sidho yuk!" ajak Ava lalu menggendong ranselnya.
"Va ..." ucapku lalu meraih tangannya. Dia tertahan dan menatapku dengan bingung.
"Ya, Shin ..."
Beberapa saat kita hanya saling bertatapan saja, namun aku segera menarik tangannya dan membuatnya terlempar pada pelukanku.
"Shin ..." ucap Ava sedikit terkejut.
"Sebentar saja! Aku lelah sekali ..." aku menyandarkan kepalaku pada pundak Ava sebentar. Mengistirahatkan sebentar karena aku benar-benar sangat lelah. Aku memejamkan mataku beberapa saat.
"Kalau lelah kenapa tidak pulang saja, Shin? Masih ada yang lainnya yang bisa menjaga Sidho ..." ucap Ava begitu pelan.
"Hhm ... Aku tidak bisa meninggalkan Sidho setelah apa yang terjadi barusan." ucapku pelan dan masih memejamkan mataku. Aroma parfum Ava yang lembut menyeruak dan sangat lembut.
"Baiklah ... Aku juga akan menemanimu." ucap Ava sangat pelan.
"Hhm ..." kataku denga berat. Rasanya lelah dan ngantuk sekali.
Hingga akhirnya aku malah ketiduran begitu saja. Entah berapa lama aku tertidur. Namun ketika aku terbangun aku sudah terbaring berada di atas brankar yang tadi aku duduki. Sementara Ava tertidur di kursi sebelahku dengan posisi kedua tangannya dan kepalanya di atas brankar.
Aku segera melihat ponselku dan ternyata ini sudah jam 2 dini hari. Aku segera turun dan berusaha mengangkat Ava untuk menidurkannya di atas brankar itu, namun dia malah terbangun.
"Shin ... Kau sudah bangun?" ucapnya sedikit terkejut.
"Uhm ... Iya, maaf aku tadi ketiduran. Sekarang tidurlah dulu. Aku akan melihat Sidho sebentar."
"Aku ikut!" ucap Ava cepat-cepat.
"Kamu istirahatlah. Pagi-pagi masih harus pergi sekolah bukan?"
"Aku tidak peduli. Aku akan menemanimu!" ucap Ava bersikeras.
Aku tersenyum hangat padanya. Lalu meraih jemarinya, "Baiklah. Ayo!"
Akhirnya aku dan Ava kembali ke ruangan UGD. Ternyata Sidho sudah dipindahkan ke ruanga yang lainnya.
"Oprasi sudah berjalan dengan lancar. Namun Sidho masih tertidur di dalam." ucap Yama menjelaskan padaku.
"Aku akan masuk untuk melihatnya." ucapku lalu segera memasuki ruangan itu. Dan Ava mengikutiku juga.
Aku melihat seorang pria.terbaring di atas brankar. Dia tidak mengenakan baju. Pada badannya masih terlilit beberapa perban. Dan matanya masih terpejam dengan rapat.
"Sidho ..." ucapku pelan sekali lalu aku berjalan mendekati brankar dan kini aku berdiri di sampingnya. Ava segera mengikutiku dan kini berdiri di sampingku.
__ADS_1
Aku menarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjangnya.
"Syukurlah, kondisinya baik-baik saja." ucapku sedikit lega.
"Sekarang istirahatlah juga, Shin ... Tidurlah dulu ..." ucap Ava dengan memohon.
"Hhm. Iya ..." jawabku singkat. "Kamu juga tidurlah di sofa itu." ucapku sambil melihat sebuah sofa yang berada dalam ruangan ini. "Aku akan tidur disini." imbuhku lagi dengan tersenyum menatapnya.
Ava hanya mengangguk dan berusaha untuk tersenyum, lalu dia segera pergi ke sofa yang aku tunjuk tadi.
...***...
"Shin ..." panggil seseorang tiba-tiba. Dan aku mulai mendongak menatapnya. Tenyata Sidho sudah bangun.
"Sidho ... Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja kan?" tanyaku tak sabaran dan mulai mengangkat kepalaku.
"Aku baik-baik saja kok." sahutnya dengan seulas senyum.
"Syukurlah ..." kataku sangat lega.
"Kau semalaman disini, Shin?" tanya Sidho yang berusaha mau duduk. Lalu aku segera membantunya.
"Iya. Ada juga Yama dan Ichi di luar." sahutku seadanya.
Sidho melirik ke arah sofa dan melihat Ava yang masih tertidur di sana dengan posisi miring.
"Kalian bukannya harus pergi ke sekolah sebentar lagi?"
"Iya. Setelah pulang sekolah aku akan datang mengunjungimu lagi. Kau mau aku bawakan apa?"
"Aku sedang ingin makan takoyaki!"
"Baiklah. Aku akan bawakan untukmu nanti." jawabku dengan senyum lebar.
"Terima kasih ya, Shin. Dan maaf sudah merepotkanmu ..."
"Kau bicara apa, Sidho? Justru aku yang sangat merepotkanmu! Maaf ya, gara-gara membantuku kau malah jadi seperti ini. Dan lagi, aku sungguh tidak menyangka Key akan berbuat seperti itu padamu ..." ucapku menyesal. "Akh .... Sungguh tidak menyangka!" imbuhku sedikit kesal.
"Tenang saja, Shin! Aku sudah memberinya pelajaran! Untung saja miliknya tidak sampai putus!" ucap Sidho dengan santai lalu terbahak-bahak.
"Aku sungguh minta maaf ..." ucapku mengernyitkan keningku menatap Sidho. Rasanya sungguh tak enak sekali padanya. Dia sampai mengalami hal seperti itu. Aku banyak berhutang budi padanya!
"Sekali lagi kau meminta maaf, maka aku akan benar-benar menjebakmu di dalam jurus ilusiku!" ancam Sidho padaku.
Aku hanya memasang wajah muram menatapnya.
"Sekarang pulang dan bersiaplah untuk pergi ke sekolah! Kau jangan sering bolos lagi. Selain kau adalah leader VCPD, kau kan panutan anak-anak di sekolah kita. Berilah contoh yang baik untuk para juniormu!" ucap Sidho dengan seulas senyum.
__ADS_1
"Hhm ... Baiklah." aku menyauti dengan tersenyum tipis. "Kalau begitu aku pamit dulu ya. Nanti sore aku akan datang lagi." imbuhku.
"Okay. Aku akan menunggu takoyaki darimu!" Sidho tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Well, Okay!" sahutku lalu bangkit dan menghampiri Ava dan berusaha membangunkannya.
"Ava ..." ucapku begitu pelan dan sedikit mengguncangkan bahunya. "Ava, Bangunlah ... Kita harus segera pulang untuk bersiap ke sekolah ..." imbuhku dengan pelan.
Perlahan Ava mulai membuka matanya lalu duduk.
"Shin ... Jam berapa sekarang?"
"Masih jam 6 Am. Ayo kita pulang dulu!" ajakku padanya.
Ava segera melihat ke arah Sidho, mungkin untuk mengetahui keadaan Sidho. Sedangkan Sidho hanya tersenyum lebar menatap Ava.
"Kalian pulanglah dan bersiaplah untuk pergi ke sekolah dulu." ucap Sidho lagi.
"Hhm ... Iya. Aku akan datang lagi bersama Shin nanti ..." sahut Ava sambil beranjak dari sofa.
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik, Sidho. Kita akan pulang dulu." ucapku pamit.
"Okay ..."
...***...
Kegiatan belajar hari ini berlangsung seperti biasanya. Dan terasa begitu cepat. Jam istirahat aku menghabiskan waktuku di kantin bersama teman-teman.
Anehnya hanya aku yang paling parah babak belur wajahku. Yang lainnya paling hanya sedikit lebam di satu tempat. Apakah aku kurang latihan selama ini? Hhm ... Sepertinya memang begitu. Aku harus sering berlatih lagi! Kalau tidak kemampuanku akan menurun bahkan akan terasa begitu kaku.
"Shin. Tumben sekali banyak plaster pada wajahmu." ujar Igarashi menggodaku dengan tawa kecil. Sedangkan aku hanya nyengir saja. Malu sih sebenarnya ... Mereka sampai membuat wajahku banyak luka.
Ya ... Sekitar ada 3 plaster yang menempel pada wajahku. Pada pelipis kanan, tulang pipi kiri, dan tulang rahang.
"Iya. Tak biasanya kau seperti ini." timpal Aso sambil meneguk minuman kalengnya.
"Tingkat kegantengan auto menurun donk!" tambah Ibby dengan tertawa terkekeh.
"Mungkin aku hanya kurang berlatih akhir-akhir ini." sahutku santai.
"Kau mau berlatih bersamaku, Shin?" Gavin tiba-tiba saja menawarkannya padaku.
Aku tersenyum lebar menatapnya, "Boleh. Kita akan berlatih bersama kelak!"
"Okay ..."
...***...
__ADS_1