
Di sebuah ruangan rawat inap yang kosong.
"Lepas bajumu, Shin ..." perintah Ava sambil menyiapkan air hangat di dalam sebuah baskom.
Tanpa banyak pertanyaan, aku segera melepas pakaianku. Wah ternyata badanku juga ada beberapa lebam yang memerah.
Beberapa saat, Ava sudah datang kembali dengan membawa sebuah baskom berukuran sedang. Dia mencelupkan sebuah handuk kecil lalu memerasnya.
Perlahan dia mulai mengelap pelipisku lalu sudut bibirku. Dia terlihat sangat konsentrasi melakukannya. Sementara aku hanya terus menatapnya saja. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Dan aku juga sedikit merindukannya.
"Cantik ..." ucapku tak sadar.
"Hhm?" wajah Ava kini sedikit memerah, lucu. Sehingga aku tertawa kecil melihatnya. Dia masih berusaha untuk fokus kembali mengompres beberapa luka pada bagian wajahku.
"Apa tidak terasa perih sama sekali? Wajahmu banyak terluka, Shin." ucap Ava yang sesekali melirikku namun dia segera berkonsentrasi kembali.
"Tidak ... Luka seperti ini, aku juga sudah terbiasa kok." jawabku santai.
"Huft ... Bahkan luka tusukpun kau bilang sudah biasa saat itu!" kata Ava sedikit mendengus kesal.
"Memang iya kok. Paling hanya menurunkan tingkat kegantenganku saja." candaku lalu tertawa kecil.
Ava hanya melirikku dan sedikit memelototiku, kemudian di mencelupkan handuk itu lagi dan memerasnya kembali.
Kali ini dia menyuruhku berbalik karena akan membersihkan dan mengompres bagian punggungku.
"Kenapa kau begitu mudah tertipu dan terjebak dalam rumah itu, Shin? Apa kau lupa kau sedang menghadapi siapa? Key itu sangat berbahaya! Kau hampir saja terbunuh tadi!" celutuk Ava panjang lebar.
"Iya, aku juga tidak tau. Tapi memang aku sedikit curiga sebelumnya karena bartender itu dengan mudahnya memberikan alamat itu kepada kita ..." jawabku seadanya.
"Sekarang bartender itu juga sudah ditahan kok. Karena ternyata dia adalah kaki tangan Key."
"Hmm ... Sudah aku duga." sahutku pelan.
"Shin ... Ini luka apa?" tanya Ava tiba-tiba sambil memegang pelan bahu kiriku. Pada bahu kiriku terdapat sebuah bekas sayatan sebuah samurai yang cukup dalam. Dan aku mendapatkan bekas itu saat perampokan di toko berlian jawelry sakura 2 tahun yang lalu.
"Hhm?" kini aku sedikit melirik ke belakang, "Oh, itu luka saat ada perampokan di toko berlian jawelry sakura. Seorang perampok menyerangku dengan memakai samurai. Dan aku tidak sempat menghindarinya saat itu." imbuhku lagi menjelaskan.
"Shin ... Ternyata duniamu selalu dipenuhi dengan bahaya ya ... Bahkan beberapa saat yang lalu, nyawamu juga dalam bahaya." ucap Ava begitu pelan.
Kini aku berbalik dan menatapnya. Wajahnya terlihat begitu murung saat ini.
"Va ... Aku akan selalu baik-baik saja, kok! Menjadi seorang polisi handal adalah impianku! Dan aku harus mempersiapkan jauh-jauh hari." ucapku menghiburnya dan aku tersenyum padanya.
"Tetap saja bahaya akan selalu mengancam dirimu, Shin ..." ucap Ava lagi.
"Ini adalah resiko yang harus aku terima. Dan tentu saja aku tidak bisa menghindarinya!" jawabku masih dengan senyum tipis menatapnya.
__ADS_1
"Hhm ... Aku sangat khawatir." ucap Ava begitu pelan. Wajahnya menatapku dengan penuh kekhawatiran.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, Sayang." kataku menggodanya. "Percayalah. Aku akan baik-baik saja kok." imbuhku meyakinkannya.
"Baiklah. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati! Jangan mudah mempercayai orang lagi!" ucap Ava dengan sedikit tegas.
"Baiklah ..." kataku dengan senyum tipis.
Kini Ava mulai mengompress bagian tubuh depanku.
"Kenapa begitu banyak luka memarnya?" keluh Ava lagi.
"Entahlah. Aku sendiri juga lupa terkena apa saja tadi ..." sahutku dengan santai.
"Makasih ya, Va sudah mengkhawatirkan aku ..." ucapku dengan tulus.
"Hhm ... Tidak usah berlebihan, Shin. Ini tak sebanding dengan apa yang telah aku lakukan padamu dulu."
"Hhm? Memang kamu melakukan apa padaku?" ucapku sedikit bingung dan mengkerutkan keningku.
"Aku sudah banyak melukaimu saat aku diperalat Sidho dulu ..." ucap Ava sedikit cemberut.
Aku menanggapinya dengan tawa kecil, "Itu sudah cukup lama, Ava. Bahkan Sidho saja kini sudah berubah. Sudahlah ... Jangan pikirkan itu lagi ..." jawabku dengan ringan.
"Walaupun tidak dipikirkan, tapi itu akan selalu terekam olehku, Shin. Aku sudah banyak melukaimu saat itu." kini Ava meletakkan handuk dan baskom itu ke meja lainnya, menandakan sudah selesai merawatku.
Setelah itu dia memasangkan plaster pada beberapa lulaku.
"Hhm ..."
Ava mulai mengambil sesuatu di dalam ranselnya dan memberikan sebuah pakaian bersih padaku. Aroma parfum khasnya menyeruak pada pakaian itu.
"Sekarang pakailah ini ..." ucapnya sambil menyodorkan pakaian itu padaku.
Tanpa jawaban aku segera menerimanya dan segera memakainya. Sebuah Sweater hitam yang cukup hangat untuk dipakai di malam hari. Aku meraih jemarinya yang terasa begitu hangat.
"Terima kasih ya ..." ucapku dengan tulus.
"Hhm ... Sama-sama." sahutnya dengan senyum manis. "Kau pasti belum makan kak?"
Aku hanya menggeleng menandakan aku memang belum mengisi perutku dari sore tadi.
Ava tersenyum tipis lalu melepas genggamanku perlahan. Dia segera meraih sesuatu di dalam sebuah totebagnya. Lalu mengeluarkan sebuah kotak di dalamnya. Sebuah kotak kecil seperti sebuah bento.
Perlahan dia membuka kotak itu, terlihat chicken yakiniku di dalamnya. Aromanya begitu menggiurkan saliva dan memang aku juga sudah merasa sedikit lapar.
Ava mulai mengambil sepasang sumpitnya lalu mengambil sepotong ayam kemudian menyuapiku perlahan.
__ADS_1
Tanpa banyak protes aku segera membuka mulutku dan menerima suapan darinya.
"Hhm ... Ini enak sekali! Kau sangat pandai memasak ya!" ucapku sangat takjub.
"Tidak, Shin! Ini bukan aku yang memasak ... Tapi Nami yang memasak..." ucap Ava sambil menyuapiku lagi.
Apa? Ah niat hati ingin memujinya tapi ternyata aku salah sasaran. Jadi malu sendiri rasanya ...
"Ah ... Oh ... Aku kirain kamu, Va." ucapku sambil mengusap tengkukku karena salah sasaran. Dan aku sedikit meringis karena malu.
"Hhm. Lain kali aku akan memasak untukmu deh." sahutnya dengan seulas senyum yang begitu manis.
"Ah, Iya ... Aku akan menantikan itu ..." sahutku seadanya dengan senyum tipis.
"Kau sukanya makanan apa? Nanti aku akan memasaknya untukmu."
"Aku suka semuanya yang kau masak ..."
"Aku serius, Shin ..." katanya dengan nada sedikit kesal.
"Aku juga serius! Aku suka semua makanan!" jawabku dengan santai.
"Hhm ... Baiklah ..."
...***...
...Hallo sahabat Virtua Cop Police Detective. Ijinkan Author kece ini menyapa sebentar. Apa kabar kalian semua? Semoga dalam keadaan sehat selalu ya ......
...Author juga mengucapkan banyak terima kasih karena selalu setia menemani VCPD....
...Jangan lupa untuk terus mendukung Shin dan teman-temannya ya ... Dengan :...
...Like...
...Comment...
...Klik " Favourite "...
...Vote...
...Gift...
...Sambil nunggu VCPD up, bisa mampir ke karya Author yang lainnya yuk. Di novel My Little Prince. Menceritakan perjuangan seorang gadis untuk meraih kembali cintanya yang pernah hilang....
...Kisahnya sangat manis, bikin baper dan selalu bikin nagih. Karena memang manis banget....
...Jangan lupa mampir ya ......
__ADS_1
...♡♡♡...