VCPD ( Virtua Cop Police Detective )

VCPD ( Virtua Cop Police Detective )
Kereta Tak Akan Pernah Berjalan Mundur


__ADS_3

Aku sudah menindih tubuh Norie. Kita berdua sudah tenggelam bersama di dalam kenangan dan masa lalu kita kembali.


Namun tiba-tiba saja bayangan Ava datang. Dan aku perlahan mulai menghentikkan hal gila itu.


" Ada apa, Shin?" bisik Norie yang masih berbaring di atas sofa. Sedangkan aku masih di atasnya. Aku terdiam saja menatapnya datar. Perlahan Norie merangkulku kembali dan menciumku kembali.


Tapi aku sedikit mendorong tubuhnya sehingga ciuman itu berakhir.


Aku segera duduk di atas sofa. Dan Norie juga ikut merubah posisinya dan duduk di sampingku.


" Ada apa, Shin?" tanya Norie lagi sambil memegang salah satu pipiku dan menghadapkan ke wajahnya.


" Maaf, Norie." kataku pelan. "Ini adalah sebuah kesalahan."


" Apa maksudmu, Shin?"


" Dan berada disini adalah sebuah kesalahan." aku bangkit dari dudukku lalu mengambil coat dan ranselku. "Aku harus pergi!" aku memandang Norie lurus-lurus.


" Shin..." Norie menarik lengan kananku.


" Maaf. Besok tak bisa mengantarmu pulang. Untuk kejadian hari ini anggap saja tak pernah terjadi. Anggap saja kau tak pernah bertemu denganku lagi."


" Tap.. Tapi kenapa?" tanya Norie yang masih memegang lengan kananku. "Apa itu artinya kita tidak bisa bersama lagi?"


Aku terdiam beberapa saat. Lalu memandangnya lurus-lurus. Aku memegang kedua bahunya dan sedikit menunduk.


" Norie, dengarkan aku..!" kataku pelan. "Kamu itu sangat sempurna dan cantik. Banyak di luar sana pria yang ingin bersamamu dan ingin mendampingimu. Banyak di luar sana pria yang lebih baik dari aku."


" Tapi aku maunya kamu, Shin." Norie menatapku dan matanya sudah berkaca-kaca. "Selama ini aku sudah berusaha mencoba dengan yang lain. Tapi itu tak pernah berhasil. Aku masih selalu mengingat dan mengharapkanmu. Bahkan aku sudah sangat lama mencarimu."


" Norie. Maaf. Tapi aku tak bisa."


Dia menunduk menahan tangis. Dan aku merasa tak tega melihatnya. Aku segera meraih dan kemudian memeluknya.


" Maaf untuk kejadian dulu. Aku menyesal." katanya pelan.


" Bukan gara-gara itu. Tapi kini jalan kita sudah berbeda. Aku tak bisa lagi kembali ke masa lalu. Maafkan aku." aku membelai pelan rambutnya yang sangat harum itu.


" Tapi kenapa, Shin? Kita bahkan bisa memulainya kembali." katanya pelan. "Aku tau kau juga masih belum bisa melupakanku kan, Shin."


" Maaf, Norie. Aku tidak bisa."


Kudengar Norie yang semakin terisak.


" Tapi aku berjanji akan selalu ada untukmu. Dan aku akan menjadi sahabatmu."


Dia memberanikan diri mendongak menatapku.

__ADS_1


" Begitukah? Seorang sahabat..?"


" Yeap. Aku rasa itu lebih baik." perlahan aku mengusap air matanya. "Tersenyumlah, Norie..!! Karena kau akan terlihat sangat cantik saat tersenyum." hiburku.


Norie berusaha untuk tersenyum walaupun terlihat sedikit memaksakan sih. Dia kembali memelukmu dengan sangat erat. Yah.. Sangat erat sekali.


" Dan sekarang aku harus segera pergi. Kamu hati-hati yah." kataku pelan.


" Kumohon tetaplah disini, Shin. Tinggallah bersamaku sampai pagi tiba. Setelah itu aku janji tidak akan merepotkanmu lagi. Aku hanya ingin bersamamu saat ini, Shin." katanya lalu kembali terisak.


" Tapi, Norie."


" Kumohon, Shin. Sekali ini saja. Please!" kali ini dia mempererat pelukannya.


" Norie.."


" Please..." dia semakin erat memelukku. Wanita ini kuat sekali memelukku sih?


" Ehm.. Baiklah. Aku akan tetap disini." kataku akhirnya.


Akhirnya aku tetap tinggal bersamanya sampai pagi tiba.


Aku menemaninya hingga dia akhirnya tertidur. Aku memberikannya selimut lalu aku membaringkan tubuhku di atas sofa. Ya.. Malam ini aku akan tidur di sofa saja.


...***...


Pagi hari setelah mengantar Norie ke station, aku segera pergi ke sekolahan.


Karena kereta yang sudah melaju,


tak akan pernah berjalan mundur lagi untuk menjemput penumpangnya yang tertinggal.


Kereta itu akan terus melaju dan hanya melaju ke depan.


Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan di luar sana walaupun tanpaku.


...***...


" Hai, Shin. Kau kenapa? Tak biasanya kau sangat pendiam?" tanya Igarashi yang sudah duduk disampingku. Diikuti Aso dan Ibby di depanku, dan Shika disebelahku.


Aku hanya tersenyum samar menatap mereka lalu membuka sebuah buku Matematikaku.


" Aku baik-baik saja kok." kataku akhirnya.


" Kau sudah bertemu dengan Norie?" tanya Aso.


Aku mengangguk saja sambil pura-pura membaca buku Matematikaku.

__ADS_1


" Lalu?" tanya mereka serempak.


" Wow.. Tumben kalian kompak.."candaku tersenyum menatap para sahabatku. "Jadi senang aku melihatnya deh..."


" Shin. Jangan bercanda deh!" kata Igarashi serius.


" Hhm.. Aku dan dia bertemu kemarin sore." kataku datar.


" Lalu bagaimana? Kau tak jatuh cinta padanya lagi, Shin?" selidik Ibby.


" Jatuh cinta? Gyahahaha.." aku tertawa terbahak-bahak. "Kau bercanda, Ibby? Setiap pria yang bertemu dengannya pasti akan jatuh hati padanya. Dia sangat sempurna."


" Benarkah itu?" tanya Ibby lagi penuh minat.


" Yeap." kataku sambil menyedakepkan kedua tanganku. "Sudahlah. Biar bagaimanapun dia tetap masa laluku. Aku tak ingin berjalan mundur." kataku sambil menatap ke luar kelas.


" Shin." Igarashi menepuk bahuku.


" Hhm.."


" Aku tau perasaanmu. Dan kau tak bisa berbohong." Igarashi tersenyum menatapku. "Kau masih menyukainya kan?"


Aku yang mendengar ucapan Igarashi reflek tertawa kecil.


" Sudahlah. Jangan bahas ini lagi teman-teman. Cinta hanya membuatku terlihat bodoh." sahutku.


" Tapi cinta itu sangat ajaib, Shin." sahut Hakken yang tiba-tiba datang bersama Lee. " Cinta bisa saling menguatkan."


" Ah mana tau kau soal cinta, Hakken..!!" timpal Ibby. "Kau saja playboy kelas kakap..!!"


" Walaupun aku begini. Tapi aku tetap pernah jatuh cinta yang sebenarnya ya." sahut Hakken lalu duduk di sebelah Shika.


" Jatuh cinta yang sebenarnya?" tanya Aso.


" Ya. Aku pernah mencintai seorang gadis. Bahkan dia duluan yang mengutarakan perasaannya saat itu padaku." kata Hakken. " Tapi ternyata dia dan teman-temannya hanya sedang mempertaruhkanku saat itu."


" Jadi itulah kenapa kau sekarang menjadi seperti ini? Tak pernah berniat serius kepada seorang gadis. Dan hanya suka menggoda dan tebar pesona saja kepada mereka, tapi tak mau punya ikatan? Ah.. Hakken kau sungguh membuatku kesal." dengus Igarashi.


" Aku tidak seburuk itu kok, Iga. Aku hanya sedang menunggu dia yang benar-benar tepat. Karena aku tak akan membuka hatiku lagi untuk sembarang gadis." sahut Hakken sambil menaikkan kedua alisnya.


" Wow.. Si Hakken keren juga ternyata!" Lee menggoda Hakken.


" Aku hanya tak ingin terpuruk seperti saat itu lagi. Rasanya sangat memalukan sekali. Sampai rasanya aku ingin pindah sekolah saat itu." sahut Hakken.


" Kau keren Hakken..!!" kata Ibby sambil menonjok pelan lengan Hakken.


" Di dalam percintaan kita semua tak ada yang benar-benar ahli dan berhasil ternyata ya. Kita semua ternyata payah di dalam percintaan." Ibby tertawa renyah.

__ADS_1


" Benar juga ya. Ahahaha..." aku ikut tertawa bersama mereka.


...***...


__ADS_2