VCPD ( Virtua Cop Police Detective )

VCPD ( Virtua Cop Police Detective )
Hutan Aokigahara


__ADS_3

Aku merebahkan tubuhku di atas ranjangku. Memejamkan mataku sesaat. Hufftt ... Lelah sekali hari ini.


Drtt.. Drtt.. Drrt..


Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku mengambilnya dan ternyata ada sebuah pesan dari nomor baru.


📱 Datanglah ke Hutan Aokigahara malam ini. Nyawa temanmu ada ditanganmu !


Hah pesan apaan ini? Dan nomor siapa ini? Mau menantangku ya? Hmm, Oke. Aku ladeni deh. Tapi ngomong-ngomong ada temanku yang mereka culik. Siapa ya?


Aku mencari kontak Aso, lalu menelponnya. Dan ternyata dia baik-baik saja di rumah.


Lalu kuhubungi Igarashi, dan dia sedang les biola.


Selanjutnya aku menghubungi Shika, dan ternyata dia sedang asyik di Lab pribadinya membuat percobaan barunya.


Lalu aku menghubungi Lee, dan dia sedang di rumahnya masih lembur mengerjakan tugas rumahnya.


Lalu aku menghubungi Hakken, dan dia sedang di bioskop bersama seorang cewek.


Next, aku menghubungi Ibby, dan ternyata dia sedang di luar jendela kamarku. Lalu dia masuk ke dalam kamarku melewati jendela.


"Ibby, kau baik-baik saja?" tanyaku setelah dia berhasil masuk.


"Yeap. Memang ada apa, Shin?" tanyanya bingung. Lalu kutunjukkan SMS misterius itu kepadanya.


"Aso, Igarashi, Shika, Lee, dan Hakken baik-baik saja.." kataku. "Lalu siapa ya?"


"Jangan-jangan ..."


"Siapa?"


"Yuko?"


"Kenapa Yuko?"


"Yach ... Mungkin saja kan. Coba kau hubungi dia!"


Akhirnya kutelpon Yuko. Setelah beberapa saat dia mengangkatnya.


"Hallo ..." sapanya dari seberang.


"Yuko. Apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja. Memang ada apa, Kak?"


"Oh, tidak papa. Ya sudah kalau begitu ya. Bye ..." kataku langsung mematikan teleponnya.


"Jadi bukan Yuko ya?" kata Ibby lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjangku.


Apa jangan-jangan Ava? Aku mencoba menghubungi Ava, tetapi nomornya tidak aktif. Akhirnya aku menghubungi Nami.


"Hallo ..." kata Nami dari seberang.


"Nami, apa Ava bersamamu?"


"Iya. Tadi kita pulang sekolah bareng. Tapi tiba-tiba dia mau pergi ke toko buku. Katanya sih ada buku yang harus dia beli."

__ADS_1


"Lalu sekarang?"


"Barusan dia nelpon aku, katanya dia sekalian mau les kendo."


"Oh begitu. Terima kasih ya."


"Iya, Shin."


Jadi Ava juga baik-baik saja ya. Lalu siapa yang mereka culik? Kulihat Ibby memencet nomor seseorang di ponselnya.


"Sidho, kau dimana?"katanya. "Oh begitu. Kau bersama Yama dan Ichi juga?" katanya lagi. "Oh begitu. Ya sudah thanks ya. Cuma nanya aja kok. Bye." kata Ibby lalu mematikan teleponnya.


"Bukan juga Sidho, Yama maupun Ichi." katanya.


"Arrgghh, Merepotkan saja." dengusku kesal.


"Mungkin dia cuma mau ngerjain kamu saja." Ibby menyimpulkan.


"Begitu ya ... Hhmm, Dasar kurang kerjaan!" Lalu aku merebahkan tubuhku disebelah Ibby. " Kau ada apa kesini? Tumben ..."


"Pingin main aja kok." kata Ibby. "Shin, maaf ya waktu itu kau banyak terluka gara-gara aku."


"No problem. Bukannya sahabat yang baik harus bisa menghentikkan temannya saat berbuat jahat?"


"Maaf ... Saat itu aku merasa kasihan dengan Sidho. Hidupnya sangat berubah sejak orang-orang yang dia sayangi pergi meninggalkannya satu persatu..."


"Begitu ya?" aku menerawang jauh. Apakah orang yang disayanginya itu, termasuk Ava? Apakah dia masih mencintai Ava?


"Apa rencanamu untuk nanti malam? Apa kau akan tetap datang?"


"Entahlah. Mungkin dia cuma mau mempermainkanku saja."


Akhirnya malam ini aku tak datang ke hutan itu. Tetapi tengah malam ponselku kembali berdering. Dan ternyata nomor yang tadi mengirimiku pesan menelponku.


"Hallo. Siapa sih ini?!" kataku sedikit kesal.


"Kau akan menyesal karena tidak datang! Kau akan menyesal karena pacar kesayanganmu akan segera mati ditanganku!"


"Apa? Kau ini siapa sebenarnya?!" kataku lalu duduk di atas kasurku.


"Kulitnya halus sekali ya. Claire Ava Mackenzie. Kira-kira gadis ini aku apakan ya? Hhm ..."


"Hei! Aku tidak percaya padamu!" Aku tidak percaya, karena Ava kan baik-baik saja. Eh, tapi kata Nami tadi sore dia les kendo dan aku belum tau apakah dia sudah pulang atau belum? Jangan-jangan pria ini tidak main-main.


"Benarkah? Kalau begitu baiklah. Maka kau akan segera menemukan mayanya. Ahahahah ..."


"Omong kosong! Sory aku tak punya banyak waktu untuk meladenimu!" aku berniat untuk menutup ponselku, tapi tiba-tiba aku mendengar sesuatu dari seberang...


"Akh ..." terdengar rintihan suara seorang gadis yang seperti sedang kesakitan.


"Hei bangun kau!" teriak pria tadi. "Bangun! Ada yang mau kau sampaikan kepada kekasihmu sebelum kau kubunuh?"


Hening ...Tak terdengar suara lagi.


"Cepat sampaikan salam perpisahan kepada kekasihmu!" kata pria tadi lalu melakukan sesuatu hingga membuat gadis itu merintih kesakitan.


"S .. Shin ... Jangan pedulikan aku." kata seorang gadis dari seberang. Ini suara Ava! Ya, ini suaranya!

__ADS_1


"Ava ... Ini kamu?"


"I.. Iya Shin ..."


"Ava, tunggu aku! Aku akan segera kesana."


"Shin ..." teriak Ava.


"Ava!" teriakku sedikit panik.


"Bagaimana? Aku tidak main-main bukan? Sekarang terserah kau. Kau hanya punya waktu 2 jam untuk segera sampai kesini. Jika tidak, maka kau akan hanya menemukan mayatnya saja. Tapi sebelum kubunuh. Aku apakan dulu ya? Sayang sekali aku melewatkan yang secantik ini."


Darahku seakan mendidih mendengar ucapan pria itu.


"Heh! Awas saja kalau sampai lecet sedikit. Kau tidak akan kumaafkan!"


"Jangan banyak bicara. Coba buktikan!"


Tut ... Tut ... Tut ...


Pria tadi mematikan teleponnya.


Sial! Aku harus segera kesana! Aku hanya punya waktu 2 jam! Aku harus cepat!


Aku segera memakai sweeater dan jumper hitamku. Dan tak lupa kubawa pistol kesayanganku.


"Kau mau kemana, Shin?" tanya Ibby. "Dari tadi kau telpon sambil teriak-teriak. Hoaamm ..."


"Aku mau ke hutan Aokigahara."


"Hah? Mau kesana sendirian? Tidak boleh!"


"Lalu?"


"Aku akan ikut bersamamu! Aku tidak akan membiarkan sahabatku menghadapi kesulitan sendirian. Kita ini VCPD! Harus kompak!"


Aku tersenyum menatap Ibby, sahabatku.


"Oke ..."


Kita berdua menuju ke hutan Aokigahara dengan mengendarai motorku. Aku mengemudikannya dengan secepat mungkin. Karena waktu kita sangat mepet sekali.


Hutan Aokigahara adalah tempat yang sangat populer untuk bunuh diri. Hutan ini mempunyai pepohonan yang rata-rata memiliki tinggi sepuluh kaki. Pepohonan tersebut juga mempunyai daun-daun yang rimbun dan padat sehingga seperti membentuk kanopi pada hutan.


Oleh karena itu, cahaya matahari tak sepenuhnya dapat menyinari area hutan. Alhasil hutan Aokigahara selalu erat dengan nuansa yang kelam dan damai.


Kemudian jarang sekali ditemukan hewan liar yang berkeliaran di dalam hutan. Mungkin karena tak banyak sumber makanan di sana, para hewan menjauhi hutan tersebut. Dibalik itu, hutan Aokigahara juga dianggap sebagai hutan yang sangat sunyi.


Bahkan bagi para pejalan kaki, munculnya suara burung merupakan pemandangan yang jarang ditemui, sehingga dapat membuat mereka terkejut ketika mendengarnya. Karena kesunyian dari hutan tersebut, dikabarkan suara-suara hantu yang merintih dan menangis bisa terdengar dari jarak yang jauh.


Aokigahara yang sunyi merupakan tempat sunyi dan damai. Mungkin banyak orang berpikir bahwa hutan ini merupakan tempat yang tepat untuk peristirahatan terakhir mereka.


Sehingga memungkinkan bagi sejumlah orang pergi ke Aokigahara hanya untuk mengakhiri hidup mereka dengan secara tenang tanpa adanya gangguan.


Oleh karenanya, hutan ini dianggap sebagai situs bunuh diri terpopuler setelah Golden Gate Bridge.


Tak heran jika di sana kamu bisa menemukan papan peringatan untuk tidak bunuh diri. Biasanya papan tersebut bertuliskan pesan menggugah seperti "Hidupmu merupakan anugrah berharga bagi orangtuamu" atau "Pikirkan tentang keluargamu!".

__ADS_1




__ADS_2