
Akhirnya Christal terbukti bersalah. Pihak kepolisian Yokohama meminta maaf kepada kakek Kekaishi dan juga VCPD karena telah menuduh tanpa menyelidikinya terlebih dahulu dan asal tangkap saja. Dan akhirnya kepolisian segera melepaskan kakek dan Hakken.
Keesokan harinya aku memutuskan untuk mengunjungi Christal di tahanan. Kita duduk berhadapan.
"Ternyata kau hebat juga ya, Shin." Christal tersenyum sinis menatapku.
"Kenapa kau melakukan semua itu? Apa tujuanmu?" tanyaku tegas.
"Apakah begitu penting jawabanku?" Christal tertawa kecil lalu bertopang dagu dan tersenyum menatapku.
"Penting. Sangat penting!" aku menatapnya tajam. "Kalau cuma aku saja yang terlibat itu tak masalah bagiku. Tetapi ini menyangkut semua VCPD. Maka aku tak bisa diam saja." kataku serius.
Chistal kembali tertawa kecil. "Aku hanya ingin bermain-main denganmu saja, Shin. Karena sepertinya kau pria yang sangat menarik dan berbeda."
"Apa?" kataku hampir shock mendengar jawabannya barusan. "Kau ini hanya membuang-buang waktuku saja tau!" aku bangkit berdiri. "Lain kali kalau ingin bermain-main lagi, kau harus sedikit lebih pintar." aku mendengus kesal.
Setelah bicara begitu aku segera pergi dari tempat itu.
Sial!
Christal sudah gila!
Gila!
Dia sudah membuang-buang waktuku saja! Bahkan gara-gara dia Kakek dan Hakken ditahan beberapa saat itu.
Huh! Menyebalkan!
...***...
"Mungkin Christal memang menyukaimu, Shin." ledek Aso. "Dan dia ingin mencari perhatianmu saja. Karena saat itu kau sudah menolaknya mentah-mentah."
"Yeap. Cewek mana sih yang nggak menyukaimu, Shin?" Ibby tertawa sambil merangkulku. "Kalau saja aku seorang gadis pasti aku juga sudah jatuh cinta padamu." tambahnya lalu tertawa kecil.
"Idih!" aku mendorong tubuh Ibby gemas. Dia malah tertawa semakin kencang saja.
Menyebalkan!
Aso, Igarashi dan Shika ikut tertawa kecil.
__ADS_1
"Sudahlah! Aku mau ke kantin saja." kataku bangkit dari dudukku lalu keluar dari kelasku. Dasar! Mereka semua menyebalkan!
Aku melihat kerumunan di lapangan basket. Kali ini ada apa ya? Aku bergegas berjalan mendekat untuk melihat apa yang sedang terjadi. Ternyata Gavin sedang berkelahi dengan segerombolan cowok. Ada apa kali ini, Gavin? Aku menyipitkan mata menatap mereka dari kejauhan.
Tak jauh dari mereka ada seorang cowok anak kelas 1 yang terlihat sangat ketakutan membawa sebuah buku.
Kali ini aku hanya akan menontonnya saja. Aku sangat yakin kalau Gavin memiliki sebuah alasan untuk bertarung dengan segerombolan cowok itu. Karena dia bukan tipe orang yang mudah bertarung.
Setelah beberapa saat Gavin berhasil mengalahkan mereka telak. Dan mereka segera berlari ketakutan meninggalkan lapangan basket. Kemudian Gavin memungut sebuah ransel berwarna hitam yang ada di tanah kemudian menyerahkan pada anak kelas 1 tadi.
"Ini tas kamu." Gavin tersenyum samar kepada anak itu.
"Terima kasih, Sensei." kata anak itu sambil menerima ransel itu lalu membungkukkan badannya.
"Lain kali kalau diganggu sama mereka lagi bilang saja padaku." kata Gavin lagi.
"Iya, Sensei." anak itu mengangguk pelan.
"Ya sudah. Sekarang kamu balik ke kelasmu ya!"
"Iya, Sensei." kata anak itu sambil membungkukkan badannya lagi lalu bergegas pergi.
Aku berjalan mendekati Gavin.
Jiwa penolongnya sangat tinggi dan hebat. Dia juga jago berkelahi dan kendo. Dan aku dengar dia pernah ikut dalam sebuah organisasi semacam VCPD saat dia di Hokkaido.
Jadi menurutku dia bisa bergabung dengan VCPD.
Gavin menatapku terheran-heran.
"Bagaimana?" tanyaku lagi.
"Semudah itu kau mengajak bergabung orang asing dan bahkan kau belum mengenalnya dengan baik, Shin?" tanya Gavin mengernyitkan dahinya. "Apa kau tidak takut semisal aku ini orang jahat? Atau bisa saja aku adalah salah satu yang membenci VCPD."
"Aku sudah mempertimbangkan semuanya. Dan aku rasa kau bukan orang jahat." kataku yakin.
"Maaf, Shin. Tapi aku tak bisa." Gavin berbalik hendak pergi meninggalkanku.
"Tapi kenapa?" kataku belum menyerah.
__ADS_1
"Masih banyak yang harus aku kerjakan. Maaf." katanya lalu pergi meninggalkanku.
Huh! Sudahlah! Kenapa juga aku bisa berpikiran kalau Gavin akan menerima tawaranku begitu saja? Dia kan sangat dingin dan pendiam. Bahkan dia tak pernah benar-benar memiliki seorang teman. Dia selalu sendirian.
Huh, Lebih baik aku segera ke perpus saja deh! Mana tau disana aku bisa menemukan ketenangan.
Akhirnya aku memutuskan untuk segera pergi ke perpustakaan. Disini aku membaca sebuah buku Kimia. Kenapa Kimia? Ya, Hari ini aku ada quiz kimia. Jadi aku akan belajar terlebih dahulu. Sebenarnya semalam aku juga sudah belajar sih. Tapi, tak apalah. Hanya untuk merefresh otakku lagi.
"Shin!" sapa seseorang tiba-tiba. Dan dia segera duduk di hadapanku.
" Ya." kataku lalu menoleh ke arahnya. Oh, Ternyata Ava. "Apa kabar?" aku tersenyum menatapnya. Lumayan lama juga aku tak bertemu dengannya.
Dia terlihat sangat manis hari ini. Apa karena aku begitu merindukannya? Haisshh ... Sudahlah ... Jangan berlebihan, Shin! Atau kau akan patah hati lagi seperti sebelum-sebelumnya.
"Seperti yang sedang kau lihat." dia tersenyum manis sambil membuka sebuah buku.
"Bagaimana kalau kita kencan setelah pulang sekolah?" usulku sambil bertopang dagu menatapnya. Dia tertawa geli lalu mengangguk pelan.
Kita saling membaca buku masing-masing. Sesekali aku melirik Ava yang sedang serius membaca bukunya. Dia baca buku apa ya kira-kira? Aku melirik bukunya. Oh, Ternyata dia sedang membaca novel Divergent.
Aku mengambil sebuah buku catatan kecilku. Lalu mencoret-coret halaman yang kosong. Aku akan mengajak Ava bermain X-O. Kalian tau permainan itu?
Pertama giliranku. Aku menulis " X " pada salah satu kotak yang kosong. Lalu aku menyodorkannya kepada Ava.
Ava sempat menatapku bingung. Aku memberi isyarat kepadanya agar dia segera mengisi " O " di salah satu kotak yang kosong lainnya. Akhirnya dia nurut saja. Dia mengisinya lalu dia menyodorkan kertas itu padaku lagi.
Aku mengisi " X " di kotak kosong lainnya lagi sambil tersenyum lebar. Lalu kusodorkan lagi padanya. Tak lama Ava sudah mengisi dan menyodorkan kertas itu padaku lagi. Begitu seterusnya.
Aku sengaja kalah dari Ava.
Saat Ava menang dia berteriak kegirangan sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.
"Yes!" teriaknya riang.
Semua orang yang berada di sekitar kita melihat ke arah dia. Sedangkan aku pura-pura sedang sibuk membaca bukuku tanpa rasa bersalah sama sekali. Dalam hati aku tertawa.
Ava meringis lalu kembali duduk perlahan. Mungkin dia sangat kesal padaku saat ini. Sudah bisa kubayangkan itu.
Aku meliriknya memasang senyum manis dan mengangkat kedua alisku. Dia hanya menatapku kesal lalu kembali pura-pura membaca bukunya lagi.
__ADS_1
Ahaha, Manis sekali.
...***...