
"Hiathh ..." dua pria itu berusaha melakukan punch dan tendangannya untukku namun aku masih bisa menghindarinya dengan baik.
Aku menghindari serangannya lalu menjegal salah satu dari mereka dan segera menyerang balik pria yang satunya. Aku sengaja mengincar ulu hatinya agar seranganku memberi damage yang kuat untuk mereka.
Buugghh ...
Pria itu terpental dan terjatuh tersungkur ke tanah. Pria yang satunya sudah mulai bangkit dan bersiap untuk menyerangku.
Dia datang dengan melayangkan punch lagi untukku. Namun aku masih bisa menghindarinya. Tapi dia menganggkat kaki kanannya bersiap untuk menendang bagian dadaku, dan memang mengenainya. Namun aku segera membalasnya dengan menghamtam bagian wajahnya hingga darah segar mengalir dari hidungngnya.
Aku sedikit melompat lalu mendorongnya hingga pria itu terjatuh. Aku tepat duduk di atas tubuhnya lalu aku menarik.kerah bajunya bersiap melayangkan tinjuku lagi.
"Katakan dimana Key!" tanyaku memaksanya.
"Aku tidak tau ..." jawabnya dengan santai.
"Katakan atau kau akan mati!" ancamku lagi.
Namun dia malah menyeringai menyebalkan. Karena sedikit kesal, aku benar-benar melayangkan tinjuku lagi dan menghantam wajahnya.
Buugghh ...
Lagi-lagi pria itu hanya menanggapinya dengan menyeringai menyebalkan. Sial!
Bugghh ...
"Percuma saja kau mencarinya. Kau tak akan pernah menemukannya." ucap pria itu dengan wajah yang sudah cukup memar.
"Apa kau mau mati sekarang?" kataku sangat kesal.
"Ya. Bunuh saja aku!" tantangnya masih menyeringai.
"Sial. Baiklah ..." aku tidak menghajarnya lagi, namun kini aku memborgol tangannya.
Beberapa saat pihak kepolisian sudah datang saja. Tapi siapa yang melapor ya? Apakah salah satu dari VCPD?
Setelah itu mereka memborgoli semua berandalan itu dan segera membawanya ke kantor polisi Shinjuku.
Ternyata ada masyarakat yang menghubungi kepolisian karena melihat ledakan itu. Syukurlah kalau begitu.
...***...
__ADS_1
"Sial! Ternyata memang jebakan seperti dugaanku! ucapku sedikit kesal.
"Aku juga sedikit curiga sih. Kenapa bartender itu dengan mudahnya memberikan alamat Key? Ternyata memang mau menjebak kita." sahut Ibby.
"Lalu bagaimana untuk selanjutnya, Shin?" tanya Lee.
"Aku juga belum tau harus bagaimana. Tidak ada yang tau tempat persembunyian Key!" sahutku sedikit putus asa.
"Hei kalian! Apa kalian melupakan sesuatu?" ucap Igarashi tiba-tiba. "Bukankah kak Yuna mengenal dengan baik Pemilik Madam Gee Cafe? Kenapa kita tidak meminta bantuan padanya saja?" imbuh Igarashi lagi.
"Benar sekali ya! Kenapa aku tidak berfikiran sampai kesana ya ..." celutuk Ibby.
"Dan kenapa kamu baru bilang sekarang, Iga? Shin dan Gavin bahkan hampir saja terbunuh!" celutuk Aso sedikit kesal.
"Kau sendiri kenapa tidak berfikir sampai kesana?!" ujar Igarashi tak mau kalah.
"Sudah, sudah! Kalian tenanglah!" ucap Hakken menengahi.
"Baiklah. Aku akan berbicara dengan kak Yuna. Semoga saja kak Yuna mengetahui sesuatu ..." ucap Ibby dengan mimik wajah yang serius.
"Baiklah. Segera hubungi aku kembali jika kau mendapatkan informasi, Ibby!" kataku sambil menepuk bahunya.
"Hai, wakarimashita!" sahutnya.
"Benar juga ya." sahutku. "Wajah-wajah kita pasti sudah sangat dia kenali sekarang. Hhm ..." aku menyandarkan tubuhku pada kursi dan menyilangkan kedua tanganku di depan dada.
"Bagaimana kalau kita meminta bantuan Sidho, Yama, atau Ichi?" Igarashi mengusulkan.
Mendengar usulan Ifmgarashi membuat mataku sedikit berbinar. Ah ... Benar juga. Kita masih memiliki teman yang begitu hebat dan keren dalam bertarung. Well ... Kali ini aku akan meminta bantuan dari mereka.
"Good idea, Iga!" kataku dengan tersenyum lebar menatap Igarashi.
"Ibby, cari tau tentang Key melalui kak Yuna. Dan aku akan meminta Sidho dan yang lainnya untuk segera datang ke sini." perintahku.
"Okay. Kalau begitu aku pulang dulu ya. Jam segini kak Yuna biasanya sedang di rumah." sahut Ibby lalu bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi.
"Okay ..."
...***...
Keesokan harinya kita segera mendatangi sebuah cabang Madam Gee Coffe di daerah Kanagawa juga. Menurut informasi yang di dapat Ibby dari kak Yuna, akhir-akhir ini Key sering menghabiskan waktunya di cafe itu.
__ADS_1
Dan kali ini Sidho yang memasuki cafe itu bersama Yama dan Ichi. Sementara VCPD menunggu di luar cafe. Untuk antisipasi saja, agar kali ini tidak ketahuan.
Sidho, Yama, dan Ichi sudah mengaktifkan sebuah miny microphone, sehingga kita akan mendengarkan apa saja yang sedang mereka bicarakan saat mereka di dalam. Dan Sidho juga menyelipkan sebuah miny camera pada salah satu kancing bajunya.
Well, Okay. Seharusnya begini saja sudah cukup sih. Semoga saja kali ini kita bisa menemukan Key.
Beberapa saat mereka hanya masih bersenang-senang saja saat di dalam cafe.
Ichi yang malah asyik menggoda para gadis, sedangkan Yama dan Sidho malah masih minum saja. Namun beberapa saat Sidho mulai berjalan ke suatu tempat menuju lantai dansa lalj melewatinya begitu saja.
Namun dia tertahan, sepertinya ada yang sedang mengajaknya berbicara saat ini. Dan aku mendengarkannya dengan seksama.
"Hai, rambut kuning yang tampan!" terdengar suara seorang gadis, dan saat camera pada kancing Sidho mengarah padanya, aku hanya melihat dagu gadis itu sampai pada bagian dada saja. Menandakan gadis itu hanya memiliki tinggi kira-kira 160 centi meter saja.
"Duh ..." aku tepuk jidat karena melihat pemandangan itu, mana pakaian gadis itu sedikit terbuka pada bagian dada.
"Hhmpptt ..." Hakken yang sedang di sebelahku menahan tawa saat ini. "Kenapa malah seperti ini pemandangannya?" imbuhnya lagi yang masih menahan tawa.
"Entahlah, sepertinya Sidho salah tempat memasang cameranya." celutukku asal.
"Nggak apa-apa kali, Shin! Bonus!" celutuk Ibby dengan sedikit tawa.
"Ah dasar kau ini otak mesum!" sahutku menggodanya.
"Kalian diamlah! Tetaplah fokus!" tutur Aso dengan eksoresi serius dan masih berusaha mendengar percakapan Sidho dan gadis itu.
"Wah Aso hebat. Masih bisa fokus saat dihadapkan beginian ya ..." celutuk Lee.
"Dia hanya akan tergoda dengan Yuko!" timpal Ibby.
"Apaan sih!" sahut Aso sedikit kesal.
"Sudah, Sudah! Tenang dulu kalian!" perintah Shika kali ini.
Kita semua kembali terdiam dan mulai fokus kembali mendengarkan percakapan mereka.
"Siapa namamu, rambut kuning?" tanya gadis itu lagi.
"Kau bisa memanggilku seperti itu saja." jawab Sidho pelan.
"Hhm ... Baiklah jika itu yang kau mau. Kau sedang mencari seseorang ya?"
__ADS_1
"Hhm? Sebenarnya aku sedang ingin membeli beberapa obat ehm ... Kau tau kan, Nona? Obat penghilang stress dan bisa untuk melupakan masalah." ucap Sidho dengan nada memancing. "Aku sedang banyak masalah, Nona. Aku bahkan sampai mau bunuh diri beberapa hari yang lalu. Namun seseorang berhasil menyelamatkanku dan menyarankan aku untuk mengkonsumsi obat itu. Dan katanya mereka menjualnya di sini." imbuh Sidho lagi.