
Pulang sekolah aku kembali lagi ke rumah sakit bersama Ava. Sementara anak-anak menaiki mobil bersama. Tak lupa aku juga mampir ke sebuah kedai untuk membeli takoyaki untuk Sidho.
Saat kita datang, Yama dan Ichi pamit untuk pulang dulu. Karena dari kemarin mereka belum pulang sama sekali. Kasihan juga ...
Kita beramai-ramai di ruangan Sidho. Dan dia terlihat sudah sedikit sehat.
"Bagaimana keadaanmu, Sidho?" tanya Aso yang duduk di kursi sebelah brankar.
"Seperti yang kalian lihat. Aku baik-baik saja ..." ucap Sidho dengan kekehannya. Aku hanya tersenyum lalu membuka sebuah bingkisan yang aku bawa untuk Sidho. Yeap, itu adalah takoyaki pesanannya.
"Makanlah, Sidho. Selagi masih hangat!" ucapku sambil menyodorkan takoyaki itu padanya.
Sidho menatapnya dengan antusias, "Wah ... Sepertinya enak sekali!" sahutnya lalu segera menerima takoyaki itu dan perlahan mulai memakannya.
"Uhm ... Enak sekali, Shin!" gumam Sidho dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Kalau begitu segera habiskan ..." ucapku dengan seulas senyum tulus menatap Sidho.
"Kalian sudah seperti sepasang kekasih saja. Kau begitu perhatian sekali kepada Sidho?" ujar Hakken menggodaku dengan kekehan kecil.
Aku meliriknya dan tertawa kecil saja.
"Ava, apa kau tidak takut Sidho akan merebut Shin darimu?" imbuh Hakken asal lalu tertawa kecil.
"Hhm? Kenapa harus takut? Mereka bukan orang yang seperti itu kok." sahut Ava dengan kekehan kecil.
"Benar sekali! Aku bukan seperti Key yang menyukai pria ..." sahut Sidho lalu memakan kembali takoyakinya. "Aku masih normal!" imbuhnya lagi.
"Yeap. Benar sekali itu! Dan aku juga masih normal!" kataku menyauti lalu duduk pada samping brankar
"By the way ... Key sungguh gila ya! Kau benar-benar keren sekali, Sidho!" ucap Lee takjub.
"Lee! Jangan kau bahas lagi soal itu!" seru Sidho terlihat begitu malas. "Itu adalah kenangan terburukku!" imbuhnya lagi dengan sedikit cemberut.
"Maafkan aku, Sidho ..." aku menyela dan aku sangat merasa tidak enak kepada Sidho.
"Ahahaha ... Bukan seperti itu, Shin. Aku hanya bercanda kok!" sahut Sidho lalu tertawa ringan. "Aku tidak apa-apa kok!" dia tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Biar Sidho mengatakan semua itu, namjn aku masih merasa tak enak kepadanya. Hal seperti itu? Ah ... Aku sendiri merasa sangat jijik membayangkannya.
"Sidho. Kapan kau boleh keluar dari rumah sakit?" tanya Shika.
__ADS_1
"Sore ini aku akan pulang kok." sahut Sidho sambil mengusap lengan kirinya.
Lengan-lengan Sidho dipenuhi oleh beberapa lukisan tato. Sungguh anak yang bandel! Baru juga masih SMU. Dasar Sidho ... Aku tersenyum gemas melihatnya.
Padahal saat pertama kali bertemu dengannya saat itu dia terlihat sangat brutal, kejam dan seperti brandalan liar. Namun, sebenarnya dia begitu baik dan manis. Dan aku sangat menyukai berteman dengannya.
"Sidho, sejak kapan kau membuat tato-tato itu?" tanya Ibby begitu saja.
Sidho terdiam dan mulai melihat lengannnya yang penuh dengan tato.
"Dua tahun yang lalu aku mulai membuat tato-tato ini." ucap Sidho yang terlihat begitu muram, namun tiba-tiba saja dia kembali tersenyum samar.
Apa yang sedang dia pikirkan saat ini? Atau dia mulai membuat tato itu karena frustasi karena telah kehilangan kakeknya saat itu?
"Keren! Aku juga mau buat, tapi kak Yuna selalu saja melarangku!" ucap Ibby dengan wajah muram.
Sidho menanggapinya dengan senyum lebar, "Tidak usah buat! Itu hanya akan menyakiti diri sendiri! Karena rasanya sungguh sakit lo ..." ucap Sidho menakuti Ibby.
"Hhm? Benarkah sangat sakit? Aku jadi penasaran!" sahut Ibby lagi.
"Nanti saja kalau mau buat setelah lulus saja, Ibby! Aku bersusah payah untuk selalu menutupinya saat pergi ke sekolah selama ini! Merepotkan saja ..." sahut Sidho dengan tawanya.
"Benar juga sih. Kalau ketahuan guru bisa mati!" cutuk Ibby asal.
"Jadi ... Makanya kamu harus segera pulih agar bisa bersama-sama pergi." sahutku tersenyum menatap Sidho.
"Tentu saja aku sudah baik-baik saja saat itu, Shin! Lihatlah! Sekarang saja aku sudah pulih! Hanya luka seperti ini tidak akan membuatku menyerah! Ahahahaha ..." tawa Sidho memenuhi seisi ruangan ini.
"Ah, padahal kemarin saja kau mau mengucap salam perpisahan!" celutuk Aso asal.
"Benar! Kau lupa itu, Sidho?" timpal Hakken dengan nada mengejek.
"Aku hanya sedikit melakukan drama saat itu ..." kilah Sidho tak mau kalah.
"Dasar rambut kuning!" gerutu Ibby lalu mengacak-acak rambut kuning Sidho yang sedikit gondrong.
"Hhm. Lakukan saja semaumu! Dan aku akan membalasnya saat aku sudah pulih total!" ucap Sidho dengan santai.
"Benarkah? Kalau begitu lakukan saja!" tantang Ibby.
"Okay! Tunggu saja saat itu tiba!" sahut Sidho dengan senyum tipis.
__ADS_1
"Siapa takut ..." sahut Ibby tak mau kalah.
"Ehm. Aku permisi mau keluar sebentar ya." tiba-tiba Ava menyela.
"Hhm ... Okay." sahut Sidho.
Ava segera berbalik dan lekas berjalan meninggalkan ruangan ini. Aku menatap sampai punggungnya menghilang. Ava mau kemana ya?Aku segera pamit juga untuk mengejarnya.
"Aku juga keluar sebentar ya ..." pamitku kepada mereka.
"Duh ... Baru ditinggal sebentar udah kecarian! Nempel terus!" celutuk Hakken.
"Apaan sih!" sahutku lalu ngeloyor pergi begitu saja.
Aku segera meninggalkan ruangan itu dan mencari Ava. Kemana ya dia? Aku tak melihat sosoknya lagi. Aku menyusuri salah satu koridor rumah sakit untuk mencarinya. Dan tiba-tiba saja aku melihat dia sedang berbincang dengan seorang pria.
Siapa pria itu? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Sepertinya dia seorang Dokter disini karena dia memakai pakaian Dokter. Dan aku memutuskan untuk menghampiri mereka berdua.
"Hai ..." sapaku kepada mereka berdua.
Ava dan pria itu segera melengos ke arahku.
"Shin. Kau sedang apa disini?" tanya Ava sedikit terkejut.
"Aku mencarimu ..."ucapku seadanya. Lalu pandanganku kini beralih kepada pria berkacamata dengan pakaian Dokter itu.
"Kenalkan ... Dia adalah seniorku dulu saat SD ... kak Lucient!" kata Ava memperkenalkan pria itu kepadaku. "Dan ini adalah Shin ..." lanjutnya memlerkenalkanku kepada pria itu.
Aku mengulurkan tanganku dengan ramah dan pria itu menyambutnya dengan ramah.
"Shin ..." ucapku.
"Lucient ..." ucapnya dengan seulas senyum.
Setelah beberapa saat kita sudah melepas salaman kita.
"Claire, kalau begitu kakak pergi dulu. Ada seorang pasien yang harus kakak tangani." ucap Lucient menatap Ava.
"Okay, Kak!" jawab Ava dengan ramah.
"Jangan lupa untuk menghubungi kakak ..." ucapnya lagi yang tiba-tiba saja membuatku sedikit kesal. "Shin. Aku pergi dulu ..." kini Lucient menatapku dan tersenyum lalu mulai berjalan melenggang meninggalkan kita berdua.
__ADS_1
Aku masih menatap pria itu hingga punggungnya menggilang dari hadapanku. Siapa sebenarnya Lucient?