wanita kaya itu, istriku

wanita kaya itu, istriku
bab 34


__ADS_3

"Siapa yang mau melahirkan" ucap seorang dokter.


"Ini ini" ucap san yang tidak melihat wajah sang dokter.


"Zara..." ucap dokter itu.


"Kau!!!bukannya...ah tidak cepat bantu dia" ucap san kaget melihat jin-sook mantan kekasihnya di indonesia.


Jin-sook pun pergi keruangan bersalin untuk membantu si ibu yang tadi san temukan.


Satu jam kemudian akhirnya bayi keluar juga dan membuat san lega.


"Sasa makan malam dulu yuk ini sudah waktunya nanti suamimu nanya lagi" ucap ambu yang menemani san di rumah sakit sedangkan yang lain sudah san suruh pulang.


"Iya mbu sekarang kita liat dulu si ibu tadi" ucap san.


Dan mereka pun masuk ke ruang rawat inap yang ditempati si ibu dan anaknya.


"Eh ibu...silakan masuk" ucap wanita di dalam ruangan.


"Ternyata udah siuman,selamat yah atas lahirnya putramu" ucap san.


"Iya terima kasih atas bantuannya kalau tidak ada kalian saya dan anak saya tidak akan selamat" ucap wanita itu.


"Oh iya kita belum kenalan,saya zahra,dan ini ibuku" ucap san mengulurkan tangannya dan juga menunjuk ambunya.


"Saya windi salam kenal,makasih banyak atas bantuan yang kalian berikan pada kami berdua,kalau tidak..." ucap windi.


"Gak udah mengingat lagi masa itu yah,oh iya suamimu mana?" ucap san yang dari tadi tidak melihat seorang lelaki yang datang menemuinya padahal san sudah menyuruh pengurus rumah sakit untuk menghubungi keluarganya tapi tidak satu pun san melihat keluarganya datang.


"Saya tidak memiliki suami,saya  seorang gadis merantau ke jakarta untuk mencari uang walau sebagai pegawai paruh waktu untuk membiayai hidupku dan keluargaku di kampung tapi nasaanya bos pemilik cafe yang katanya seorang pemuda tampan telah memperkosaku hingga benihnya hadir dirahimku" jelas windi.


"Maafkan saya yang telah bertanya seperti itu" ucap san dan ambu juga kaget mendengar cerita windi yang sangat menyedikan itu.


"Berapa usia mu nak,di mana tempat tinggal asalmu" tanya ambu penasaran dengan gadis bernama windi ini.


"Umurku baru saja menginjak dua puluh tiga tahun minggu kemaren,dan asalku dari ciamis" ucap windi.


"Ternyata kau masih muda,kapan kau tinggal di jakarta" tanya ambu lagi.


"Dua tahun yang lalu" ucapnya.

__ADS_1


"San lebih baik kau carikan tempat tinggal buat dia dan juga pekerjaan yang layak untuk dia di kantormu masalah bayi siapa yang ngurus biar ambu,ambu sudah tidak sabar menimang cucu walau ada sarip helen dan dani viviyan selalu ada di dekat" ucap ambu memberi solusi kepada san yang emang dari tadi diam mendengar kan pertanya dan jawaban ambu sama windi.


"Masalah itu sudah aku siapakan mbu sebelum ambu menyuruhku,tapi masalahnya siapa ayah anak ini,kalau boleh tau apa nama cafe tempatmu bekerja"ucap san yang merasa bingung dengan cerita windi.


"Samuel cake,pemilik cafenya orang inggris yang setiap bulan ke cafe itu saya bekerja disana saat cafe itu dibuka yang tidak tahu siapa pemilik cafe walau saya pelayan cafe paling lama"jelas windi.


"Apa lelaki ini yang kau maksud" ucap san sambil menunjukan gambar dilayar ponselnya kepada windi.



(aku pilih dia karena menurutku cocok banget dijadikan samuel)


Windi yang melihat itu terkejut,lelaki yang selama ini dia cari untuk pertanggung jawab atas semua kesalahanya pada windi itu ada yang mengenalnya.


"Iya lelaki itu pemilik cafe,yang telah merenggut semua yang selama ini saya jaga" ucap windi sedih.


"Ok kalau gitu saya akan mengurusnya tapi maaf apa boleh saya ikut campur dengan masalahmu"tanya san.


"tidak masalah lebih baik seperti itu,saya di kota ini hanya seorang diri tanpa teman atau pun keluarga hanya kalianlah yang berani membantuku setelah apa yang telah orang orang lakukan padaku karena hamil diluar nikah"ucap windi.


Tok!  Tok!


"Baiklah ayo mbu,windi kami pamit pulang besok kita kesinj lagi" ucap san berpamitan dan pergi keluar kamar inap windi.


Di perjalan menujuk lobi rumah sakit kini seseorang sudah menunggu nya di depan pintu lift,"zara apa kabar?"ucap jin-sook.


"Baik..." ucap san.


"Oh...ambu apa kabar sudah lama tidak bertemu" ucap jin-sook kepada ambu.


"Ambu baik,wah gak nyangka kamu sudah lancar berbahasa yah" ucap ambu senang.


"Iya mbu demi zara aku rela pindah kesini" ucap jin-sook.


"Maaf jinsook-ssi aku tidak bisa bersama mu lagi karena ini" ucap san yang langsung menujukan cincin pernikahan nya yang emang san simpan di tas agar setiap oroang yang ingin mendekati atau apa dia baru memakainya.


"Ma...maksud mu kau..." ucap jin-sook tidak mengerti ucapan san.


"Iya aku sudah menikah dan akan segera memiliki anak jadi jauhi aku" ucap san,inilah san tidak pernah main dengan kata katanya bahwa di tidak lagi mau ya tidak mau maka dari itu san selalu berbicara langsung tanpa basa basi lagi,menurutnya berbasa basi itu mengulur waktu yang sangat berharga satu detiknya itu.


"Ayo mbu kita pulang" ucap san tanpa mendengar ucapan jin-sook lagi.

__ADS_1


"Zahra apa itu benar maka akan aku kejar terus samapi lelaki itu tidak mau lagi denganmu walau kau sudah memiliki anak,aku mencintaimu" gumam jin-sook dengan melihat kepergian san dan ambunya ke luar rumah sakit.


"Sasa ambu tidak mengajarkan mu seperti itu nak" ucap ambu yang sudah di dalam mobil untuk pulang.


"Mau bagaimana lagi itu lebih baik untuk jin-sook membenci ku mbu,aku sudah tidak bisa melihat pengorbanan dia yang terus mengejarku hingga dia berpindah negara demi aku yang terus aku tolak" ucap san yang menyadari selama dia bersama jin-sook hanya jin-sook lah yang terus berusaha agar san mencintainya tapi hingga saat ini dia tidak bisa mencintai jin-sook karena seseorang.


"Tapi kau bisa menolak dengan cara halus sasa,bukan seperti itu apa lagi itu di depan umum san,jika ada lelaki yang mengejar mu lagi jangan lakukan seperti itu"nasihat ambu.


"Baik mbu" ucap san sambil mengambil ponselnya yang berdering.


"Sudah makan malam" ucap penelpon.


"Udah" ucap san.


"Judes amat sih,alex aku besok pulang aku telah menyelesaikan masalah di sini" ucap nic.


"Iya tau ko,oh iya jangan lupa bawa apa yang aku mau,kalau tidak jangan injakkan kakimu di kamarku" ucap san.


"Aish...sadis amat bu,iya ini lagi cari oleh oleh bareng davit,selain itu kamu mau apa lagi"ucap nic.


"Udah kalau gitu aku tidur bye" ucap san menekat tombol merah.


Sedangkan di ujung telepon sana masih ingin bicara tapi sudah terpotong dengan suara tutut....


"Sabar nic kau pasti bisa dapatkan dia semangat!" ucap nic sendiri membuat davit bergidik ngeri melihat sahabatnya itu yang jatuh cinta.


"Aduh...punya temen gini amat yah baru tahu yah apa itu cinto" sindir davit di dekat nic yang sedang memilih pernak pernik untuk anak anaknya.


"Apa si lo ganggu aja" ucap nic yang pergi mencari benda lainya.


***


Hai semua balik lagi sama author sebleng yang upnya gak tahu aturan ini yah,soalnya hari ini mood author lagi bagus buat nulis jadi pengen cepet cepet up deh.


Jangan lupa yah vote like and komennya yah🙏💕💕


IG:@zihan631


10:12


2020-08-23

__ADS_1


__ADS_2