
Keesokan harinya teman san yang dia panggil kini sedang memeriksa ambu yang berpura pura bahwa dia di bawa oleh nic yang tidak diketahui semua keluarganya.
San yang melihat pemeriksaan itu dari cela pintu yang di biarkan nic terbuka.
"Semoga ambu bisa sehat kembali dengan cara kemoterapi ini" gumam san yang terus melihat pemeriksaan itu.
"Mih kenapa tidak masuk saja" tanya sarip yang melewati kamar neneknya itu.
"Enggak nak,mimih ceritanya gak tau masalah ambu saat ini" ucap san pada anaknya itu.
"Emang sebentar nya nini sakit apa sih mih" tanya sarip lagi.
"Kanker otak,sutt...jangan keras keras nanti nini mendengar nya" ucap san.
Setelah pembicaraan itu san dan sarip pergi meninggalkan kamar ambunya yang sedang pemeriksaan.
"Sarip adikmu kemana?" tanya san.
"Entahlah mih semenjak kita masuk sma dia gak mau deket deket bareng aku,katanya tidak mau menghadapi fans bar barku" ucap sarip.
"Hahaha kamu ini,ya sudah kalau gitu mah jangan pernah salah gaul kalian" ucap san untuk memperingati anaknya sulungnya itu.
"Gak akan pernah" jawab sarip.
"Mimih afan laper!" teriak rafan.
"Iya mih aku juga" ucap rezel yanv tidak seperti rafan yang rusuh.
"Eh adik adik abang lapar yah,kalian mau makan sama apa emang" tanya sarip.
"Ehm....apa yah,bang ezel pengen makan makan apa?" ucap rafan yang berpikir ingin memakan apa.
"Ayam semur" jawab rezel,makanan itu yang sangat di sukainya.
"Ok kalau gitu aku rendang deh" ucapnya.
__ADS_1
"Kalian ini yah,mimih gak masak itu,kalau gitu tunggu yah biar pak koki bikin makanan kalian dulu" jelas san.
"Yah mimih tapi aku pengen sekarang" ucap mereka bersamaan.
"Ya udah kalian makan yang ada aja oke,abang sih malah bilang gitu" ucap san pada sarip.
"Hehehe maaf mih aku kira mereka gak minta makanan ke sukaannya" ucap sarip.
"Ih...mimih gak pokoknya aku pengen makan itu" kekeh rafan yang emang dia sangat keras kepala jika dia pengen itu ya harus itu tidak yang lain beda halnya dengan rezel yang selalu menuruti kemauan sang mimih tapi san sangat khawatir dengannya karena dia jarang sekali bicara atau pun bermain dengan adiknya rafan dia lebih memilih melihat buku atau hal lain di dalam buku yang dia temukan di kamar kakak kakaknya atau orang tuanya.
San terkejut dengan apa yang dia liat dan dengan di usianya yang baru menginjak lima tahun sudah lancar membaca dan menghapal angka angka pecahan uang yang ada didokumen san atau pun nic yang sering mereka kerjakan.
Beda halnya dengan rafan dia sangat aktif melakukan segala hal,dari membuat istana dari lego,merakit bom yang entah bahan dari mana,dan dia juga pernah membuat ramuan aneh yang membuat tanaman sang mimih nya yang miliyaran harus mati karena ramuan itu,rafan juga gak kalah pintar dengan rezel tapi dia lebih aktif dan cerewet daripada rezel, dia lebih keras kepala dan dia tidak mau kalah dengan siapa pun.
"Ya sudah sekarang kalian cuci tangan kalian biar mimih bilang dulu pada pak koki" ucap san.
"Kalau gitu sarip pamit yah mih,mau lanjut ngerjain tugas" ucap sarip.
San membalas dengan anggukan kepala saja.
Sedangkan di kamar ambu, nic terus mendengar penjelasan dokter yang di panggil san ke rumah ini menjelaskan jika tidak cepat cepat membawanya ke rumah sakit kemungkinan kankernya akan terus menyebar,apa lagi ini sudah tidak dapat ditangani lagi secara terapi di rumah.(maaf jika salah dengan aturan medis yang aku buat,maaf yah...jika ada seseorang tau mengenai penyakit ini bisa komen apa kesalannya).
"Tidak usaha nak,lebih baik kau beritahu yang lain sekarang tentang penyakit ambu yah, ambu mau pamit" ucap ambu.
Ucapan ambu itu langsung nic lakukan, dan saat ini semua orang ada di kamarnya,sedangkan dokter yang merawat ambu pergi mengambil alat alat medis.
"Mbu mereka sudah ada di sini" ucap nic.
"Ah semuanya jika ambu ada salah pada kalian semua maaf yah,ambu sudah cukup tinggal di sini,ambu akan ikut abah yah" ucap ambu dengan susah payah.
"Ambu gak boleh ngomong gitu,aku pasti bisa nyembuhin ambu,ok" ucap san untuk meyakinkan ambu.
"Tidak sayang ambu sudah sembuh ko,sekarang kau sudah bahagia dengan suamimu,jika suatu hari suamimu atau pun kau mendapatkan masalah jangan selesaikan sendiri ok,dan kalian cucu cucu ambu,ambu pamit" ucap ambu yang berpamitan kepada semuanya walau pun cucu cucunya tidak lengkap ambu tetap tersenyum melihat cucu cucunya yang ada dikamarnya.
"Ambu jangan tinggalkan aku,ambu!!!" teriak san,dengan terburu buru san mengambil alat medisnya sendiri untuk memeriksan keadaan ambu.
__ADS_1
"Hiks...ambu kau sungguh meninggal ku hiks..." isak san setelah pemeriksaan yang dia lakukan dan jatuh pingsan.
"Nic bawa san ke kamar" ucap mela yang menelpon dokter yang tadi memeriksa ambu.
Dokter yang di panggil mela kini datang dan mereka langsung memeriksa keadaan ambu saat ini,tapi perkiraan mereka yang mengatakan bahwa usia ambu kurang lebih tiga bulan lagi tapi hari ini,kuasa allah tidak bisa di perkirakan oleh manusia.
Dokter pun akhirnya memberitahu jika jam dua siang tanggal sekian telah dinyatakan meninggal dunia.
Semua orang di sana lemas mendengar apa yang di ucapkan dokter, mela vani yang mendengar itu jatuh pingsan,sedangkan nic yang terus menenangkan san yang saat ini terus saja mengamuk ingin melihat ambu.
Semua orang yang mendengar berita mengejutkan itu langsung tersebar hingga awak media terus berdatang untuk menyiarkan berita duka untuk ibunda sang pengusaha terkanal ini.
"Nic tolong jangan halangi aku untuk menyebuhkan ambu" teriak san yang terus saja mengamuk karena tidak bisa menyebuhkan ambu nic yang terus saja di pukuli san hanya bisa menahan sakit karena tidak bisa apa apa lagi yang harus dia lakukan karena jika dia melepas san dia mungkin akan membuka kain kafan yang sudah di pakaikan kepada ambu.
"Sayang ambu sudah tiada" ucap nic lebut.
"Gak mungkin!!ambu pasti sembuh!!"teriak san tak percaya dengan ucapan nic.
"Alexsan wibel!!kau dengarkan aku,ambu sudah tiada ok" bentak nic yang membuat san menangis sejadinya.
"Nic aku ingin melihat ambu,aku mohon" isak san.
"Baik tapi kau jangan lakukan hal seperti tadi" ucap nic yang mewanti wanti san agar tidak melakukan hal nekan yang ingin ikut bersama ambu.
Saat mereka bedua sampai diruang tengah yang sudah banyak orang untuk mengajikan ambu san berjalan dengan pelan menghampiri ambu yang sudah kaku tak bernyawa.
"Ambu...maafkan aku yah...yang tak bisa merawatmu dengan baik,se..semoga ambu tenang disana bersama abah" ucap san yang tak henti hentinya menangis.
Setelah ucapan itu sang ustaz memberitahu bahwa sudah waktunya untuk di kuburkan karena semua anak dan saudara sudah ada.
"Kau akan ikut hm" tanya nic yang terus memeluk san dari samping.
San hanya mengangguk,sedangkan si kembar dan juga baby girlnya di titipkan kepada key untuk menjaga mereka bertiga.
***
__ADS_1
Jangan lupa like vote and komennya yah...
Ig:@zihan631