
Setelah Rian dan Alex selesai dengan urusan mereka, Meraka pamit untuk pulang.
Sementara Riko memilih untuk menyusul istrinya dikamar.
Riko mendekati ranjang mereka dengan sangat pelan ia takut membangunkan Lina yang sedang istirahat.
"Mulai sekarang aku akan menjagamu dengan baik". Ucap Riko sambil mencium kening Lina dengan lembut.
...........
"Kenapa kau ingin bertemu denganku". Tanya seorang pria yang baru sampai pada sebuah club' malam terbesar di kota A.
"Apa kau sudah gila". Umpatnya Mesa kesal dengan orang tersebut
"Wanita itu harus segera mati. atau tidak, dia dapat menjadi ancaman untuk kita". Lanjutnya kembali.
"Wanita itu semakin cantik, aku jadi berubah pikiran untuk membunuhnya. Aku akan bersenang-senang terlebih dahulu dengannya, baru nanti aku bunuh". Jawabnya dengan senyum menyeringai penuh dengan kelicikan, sambil membayangkan wanita yang ia maksud.
"Terserah kau saja, yang jelas aku sudah memperingati kamu. Jangan salahkan aku jika terjadi hal buruk dengan mu. Dan satu lagi, jangan bawa-bawa namaku dalam masalahmu nanti". Ucapnya
"Baiklah, kau tenang saja uncle. Aku juga tidak sebodoh itu. Aku akan selalu tutup mulut mengenai kamu". Jawanya kembali dengan penuh keyakinan diwajahnya.
"Sekarang apa yang kau rencanakan". Tanya orang yang di sebut sebagai uncle tersebut kepada orang yang dihadapannya.
Sesaat orang yang ditanya mengangkat gelasnya yang sudah di isi dengan wine, dan meminumnya perlahan.
"Aku yakin, tidak lama lagi kami akan bertemu kembali. Dan pada saat itu, semua akan terjadi sesuai kehendak dariku". Jawabnya sambil memain-mainkan wine Yang ada dalam gelasnya.
Hanya mereka berdua yang mengerti maksud dari perkataannya.
"Bagus, aku harap kau tidak akan gagal".
"Tentu saja, aku tidak pernah gagal dalam menjalankan sesuatu. Uncle tenang saja, uncle hanya perlu menonton pertunjukan ku saja". Jawabnya sambil tersenyum dengan misterius.
Terpancar jelas dari kedua senyum pria tersebut sebuah kelicikan.
..........
"Mas, ayo bangun. Mas Riko bangun.". Lina terus mencoba untuk membangunkan suaminya.
Sementara Riko tidak bergeming sedikitpun dari tidurnya yang nyenyak.
Hiks....hiks....
Riko sangat kaget mendengar suara tangis tersebut. Ia langsung bangun dan mendapati Lina yang sedang menangis.
"Sayang, ada apa. Kenapa kau menangis". Ucapnya sambil memegang kedua pipi Lina dengan tangannya.
"Aku sudah membangunkan mas sejak tadi, tapi mas tidak juga bangun". Ucapnya sambil terisak.
"Ya ampun, hanya karena aku tidak bangun dia sampai menangis. Sabar Riko, sabar. Ini semua karena kehamilannya. Kamu harus bisa sabar dan tetap tenang". Batin Riko.
"Maafkan aku, sekarang mas sudah bangun. Ada apa sayang, hmmm". Tanya Riko dengan lembut pada Lina.
"Aku lapar". Ucap Lina sendu.
__ADS_1
"Sekarang katakan, kamu ingin makan apa". Tanya Riko
Seketika wajah Lina yang mulanya sedih berubah menjadi cerah.
Riko tidak habis pikir dengan perubahan Lina yang tiba-tiba.
"Benarkah..., Kalau begitu Lina ingin makan nasi goreng buatan mas Riko". Ucapnya antusias.
"Baiklah, sekarang ayo kita ke dapur. Mas akan buatkan nasi goreng spesial buat istri mas yang cantik". Ucap Riko sambil sedikit becanda dengan Lina.
Lina begitu antusias saat Riko akan membuat nasi goreng untuknya, ia segera turun dari ranjang dan keluar menuju dapur.
Riko mengikuti langkah istrinya dari belakang. Ia sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang menurutnya sangat aneh.
Bik Marni terbangun dari tidurnya karena mendengar suara bising dari arah dapur. Ia sangat kaget melihat tuannya memasak jam 2 malam.
"Tuan ada yang bisa saya bantu". Tanya bik Marni sopan.
"Ah, tidak perlu bik. Saya bisa melakukannya sendiri. Bibik kembali tidur saja". Jawabnya datar.
Bik marni pun pergi meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Setelah bergulat di dapur hingga 20 menit. Akhirnya nasi goreng spesial ala Riko telah jadi.
"Silahkan tuan putriku yang cantik, nasi gorengnya sudah jadi". Ucap Riko sedikit bercanda dengan Lina.
Lina terkekeh mendengar candaan Riko yang menurutnya sangat aneh. Namu kemudian ia langsung melahap nasi goreng buatan Riko sampai habis, ia sangat puas dengan masakan Riko yang menurutnya sangat enak.
Setelah Lina merasa puas mereka melanjutkan tidur mereka kembali.
Lina membenamkan dirinya dalam dekapan suaminya, karena menurutnya posisi yang paling nyaman untuk tidur adalah seperti yang ia lakukan.
.........
Pagi hari menjelang, Riko tengah sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, sebenarnya ia tidak ingin ke kantor dan meningkatkan Lina sendiri dirumah, tapi ia tidak ada pilihan selain ke kantor karena ada klien penting yang ingin bertemu dengannya.
"Sayang, mas berangkat dulu ya, jangan lupa makan tepat waktu dan minum obatnya".
"Iya mas, hati-hati ya. Cepatlah kembali ". Ucapnya manja.
Riko tersenyum lembut mendengar perkataan istrinya yang sepertinya tidak rela kalau ia pergi.
"baiklah, akan mas usahakan".
Lina mengantar suaminya Samapi teras rumah.
Sebelum berangkat Riko memeluk dan mencium kening Lina terlebih dahulu. Dan jangan lupakan Riko juga mencium perut Lina dan mengelusnya.
"anak Deddy jangan nakal ya, jaga momy kalian dengan baik". Ucapnya mengajak ngobrol perut rata Lina.
Lina terkekeh mendengar ucapan Riko, ia kemudian tersenyum.
Setelah kepergian riko, Lina masuk kembali kedalam rumah.
..........
__ADS_1
"Siapa yang ingin bertemu denganku". Kata Riko dingin pada Rian.
Setelah sampai di kantor Riko langsung menuju ruangannya dan langsung memanggil Rian untuk datang ke ruangannya.
"Dia adalah Putri tuan anggara, katanya dia ingin membahas bisnis denganmu". Jelas Rian
"Kenapa dia tidak membahas denganmu saja". Ucap Riko kembali.
"Aku sudah mengatakan seperti itu, tapi dia bilang ingin bertemu langsung denganmu". Jelasnya kembali.
"Baiklah antarkan dia keruangan ku nanti setelah ia datang". Ucapnya dingin.
"Baiklah".
Setelah itu Rian pamit undur diri, dan kembali ke ruangannya untuk mengerjakan beberapa dokumen yang sudah terletak di atas mejanya.
.........
"Permisi, saya nona Anggara ingin bertemu dengan direktur kalian". Ucapnya dengan senyum yang mengembang diwajahnya pada resepsionis tersebut.
"Nona Anggara sudah ditunggu di ruangan direktur, silahkan naik ke lantai 70, disana sudah ada asisten direktur yang akan menyambut nona dan mengantar nona langsung keruang direktur". Ucap resepsionis tersebut dengan ramah.
Lalu kemudian orang tersebut langsung pergi dan menuju lift dan memencet tombol 70.
"Nona sudah ditunggu oleh direktur diruangkannya, mari saya antar". Ucap Rian dengan sopan pada Lidia saat ia sudah sampai dilantai 70.
Lidia mengikuti langkah Rian dengan lenggak-lenggok pinggulnya yang sedikit montok.
Rian langsung meneguk ruangan Riko saat mereka sudah sampai di depan pintu ruangan Riko. Hingga terdengar suara yang mempersilahkan mereka masuk dari dalam.
Riko menatap datar Lidia yang berdiri di samping Rian, dengan pakaian yang seksi dan memperlihatkan belahan dadanya. Bajunya sedikit terlihat ketat sehingga dadanya terlihat menyembul ingin keluar.
"Tuan ini nona Lidia Yang akan membahas bisnis dengan anda". Ucap Rian penuh wibawa.
"Baiklah, aku mengerti". Jawabnya dengan dingin.
Rian segera undur diri dari ruangan Riko dan meninggalkan Lidia dan Riko berdua dalam ruangan tersebut.
"Selamat siang tuan Wijaya, kau pasti mengingatku. Aku datang jauh-jauh hanya untuk bertemu denganmu". Kata Lidia dengan nada yang menggoda.
"Katakan apa yang ingin kau bahas". Ucapnya dengan sangat dingin.
"Jangan terburu-buru, mari kita nikmati waktu kita sedikit". Ucapnya dengan nada sexi, sambil berjalan mendekati Riko yang duduk di kursi kebesarannya.
Riko sangat kaget dengan pergerakan Lidia yang sudah sampai di sampingnya.
"Apa yang nona lakukan, sebaiknya jaga batasan anda sebelum kesabaran saya habis". Kata Riko dengan matanya yang tajam dan penuh penekanan dalam setiap ucapannya.
Lidia sama sekali tidak menanggapi perkataan Riko, ia mulai duduk dipangkuan Riko dan membelai wajah tampan Riko.
Riko sangat geram dengan tingkah Lidia yang lancang, ia langsung berdiri dan menarik tangan Lidia menjauh darinya.
"Sebaiknya anda menjaga batasan anda". Ucapnya kembali.
"Kenapa, apa kau tidak tertarik dengan tubuhku ini". Kata Lidia dengan nada yang menggoda sambil membuka kancing baju bagian atasnya, sehingga memperlihatkan sedikit gundulan gunung Lidia yang sangat padat.
__ADS_1
vote, vote vote terus ya.....
like dan komen jangan dilupakan.