
.............
"Ayah..............". Teriak lina dalam mimpinya.
Lina langsung terbangun sambil teriak memanggil ayahnya, nafasnya memburu, keringatnya bercucuran, detak jantungnya semakin cepat, seakan-akan sedang maraton.
Lina terduduk sambil mengatur nafasnya, ia menyeka keringat dingin yang terus bercucuran dari dahinya, bahkan tanpa ia sadari, air matanya juga ikut menetes membasahi wajah mulusnya.
Riko yang tengah sedang ada di dapur sangat kaget mendengar teriakan Lina. Riko memang sengaja tidak menutup pintu kamar mereka dengan rapat karena takut tiba-tiba Lina akan histeris lagi. Sebenarnya kamar Riko di desain khusus oleh arsitek agar kedap suara karena itulah Riko tidak menutup pintunya rapat agar ia bisa mendengar jika Lina memanggilnya.
Riko segera berlari menaiki anak tangga saat mendengar teriakkan Lina, ia menarik pintu kamarnya dengan lebar dan melangkah dengan cepat menuju tempat dimana Lina berbaring.
Lina yang menyadari kedatangan Riko, mengangkat wajahnya, untuk menatap mata Riko. Tampak kecemasan didalam mata Riko.
Riko juga ikut menatap dalam-dalam mata Lina, seakan ia tengah mencari ketakutan dalam mata Lina.
Lina langsung memeluk Riko dengan erat, ia seperti sedang mentransfer hawa ketenangan dari diri Riko kepada dirinya. Ia benar-benar merasa sangat tenang saat berada didalam pelukan Riko.
Riko mengelus kepala Lina dengan lembut dan menepuk-nepuk punggung Lina dengan pelan, seakan ia sedang menyalurkan aura positif kedalam diri Lina.
Setelah Riko merasa napas Lina sudah mulai normal kembali barulah ia melepas pelukannya, ia menatap mata indah Lina dalam-dalam.
Tampak didalam mata Lina yang indah sebuah ketakutan yang mendalam.
Riko mengecup singkat bibir Lina dan juga kening Lina dengan penuh kasih sayang. Seakan dalam ciuman tersebut terdapat kekuatan yang dapat menenangkan Lina saat ini.
"Apa sekarang lebih baik". Tanya Riko lembut pada Lina.
Lina mengangguk menjawab pertanyaan Riko.
"Sekarang ayo kita turun, kamu pasti belum makan. Mas sudah masak banyak untukmu".
Riko memang sengaja tidak menanyakan perihal mimpi yang membuat Lina takut, karena ia khawatir jika ia menanyakan sekarang maka Lina akan kembali ketakutan.
Riko menuntun Lina untuk berdiri dan berjalan menuju ruang makan, ia menarik kursi untuk Lina dengan penuh perhatian.
Terlihat banyak makanan yang sudah dihidangkan di atas meja, mulai dari sayur, telur ceplok kesukaan Lina dan masih banyak hidangan lain lagi.
Lina tersenyum lembut menatap makanan yang sudah berada di hadapannya, tidak bisa ia pungkiri, semenjak kehamilannya nafsu makannya menjadi bertambah bahkan menjadi tiga kali lipat.
__ADS_1
Biasanya orang hamil akan sangat susah makan, tapi tidak dengan lina. Nafsu makannya malah bertambah, asal yang memasak adalah Riko.
Jika yang memasak adalah bik Marni atau bik nun, maka Lina sama sekali tidak berselera makan, ia bahkan langsung muntah-muntah saat makanan itu masuk kedalam mulutnya.
Itulah sebabnya Riko yang sering memasak untuknya.
Saat Lina akan menyendok makanannya kedalam mulutnya, ia teringat sesuatu. Ia ingat kalau sebelumnya ia berada di apartemen Mila.
"Mas, kenapa Lina ada di rumah, bukankah tadi Lina ada di apartemen Mila". Tanyanya penuh dengan rasa penasaran pada Riko.
"Habiskan makananmu dulu, nanti mas akan cerita". Jawab Riko
"Baik lah". Sahut Lina kembali.
Lina memutuskan untuk melanjutkan makannya, ia benar-benar menikmati masakan Riko.
Setelah selesai makan Riko mengajak Lina untuk bersantai di ruang keluarga.
Riko membaringkan kepalanya di atas paha Lina dengan wajahnya yang menghadap ke perut rata istrinya.
Lina mengelus-elus kepala Riko dengan lembut. Sesekali Lina memainkan rambut Riko dengan cara menggulungnya.
Riko akhirnya terduduk dan menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Apa masih perlu sayang". Tanya Riko kembali.
"Tentu saja, aku sangat penasaran". Jawab Lina antusias.
Akhirnya Riko menceritakan mulai dari saat ia datang kerumah dan tidak mendapati Lina di sana dan pada saat ia kembali mencari Lina disepanjang jalan, Mila menghubunginya dan mengatakan kalau Lina ada di apartemennya. Begitulah cerita Riko pada Lina.
"Aku minta maaf karena telah membuat mas cemas".
"Tidak sayang, seharusnya mas yang Mita maaf, lain kali mas nggak akan pernah mengijinkan wanita itu menginjakkan kakinya di perusahaan mas lagi".
"Tapi mas, kenapa mas bisa berurusan dengan nenek sihir itu". Tanya Lina penasaran.
"Siapa yang kamu maksud nenek sihir sayang". Tanya Riko. Heran
"Ya, siapa lagi kalau bukan Lidia".
__ADS_1
Riko terkekeh mendengar Lina yang mengatakan Lidia adalah nenek sihir.
"Mas pernah tidak sengaja menabraknya saat di kampus. Aku rasa hanya itu pertemuan pertama kami". Jelas Riko.
"kalau begitu, aku bisa menyimpulkan kalau Lidia mungkin sudah tertarik dengan mas Riko saat pertama kali bertemu".
"Walaupun ada 1000 wanita di dunia ini yang datang kepada mas, tetap saja hanya istri mas yang cantik dan manja ini yang bisa memilikinya".
Senyum Lina langsung mengembang saat mendengar perkataan Riko.
"Oh iya, mas punya sesuatu untukmu, tunggu sebentar biar mas ambil dulu dikamar".
Lina menatap punggung Riko yang semakin menjauh darinya, ia tidak tau apa yang akan Riko berikan untuknya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama Riko telah kembali dengan membawa sebuah kotak ditangannya.
"Apa ini mas". Tanya Lina pada Riko.
"Bukalah sayang, itu khusus buat istri cantik mas yang satu ini". Ucapnya sambil menarik pelan hidung Lina.
Lina memasang wajah cemberutnya saat Riko menarik hidungnya. Namun setelah itu dia membuka kotak yang sudah Riko berikan kepadanya.
"Mas, kalung ini cantik sekali".
Kalung yang Riko berikan kalung yang sangat indah yang telah di desain khusus dengan liontin sederhana tapi dengan nilai yang sangat fantastis, harganya jangan ditanya lagi. Kalung yang sudah dilengkapi oleh alat pecak memang sudah khusus Riko siapkan untuk Lina.
"Pakailah sayang, dan jangan pernah melepaskannya".
Riko membantu Lina mengenakan kalung tersebut.
Dreeet... Dreeet...
Setelah selesai memasang kalung dileher Lina, Riko segera mengangkat panggilan telpon yang sudah sejak tadi berbunyi.
Riko sedikit menjauh dari Lina saat tau siapa yang menelepon.
"Apa".
Riko sangat terkejut mendengar perkataan orang yang diseberang telpon tersebut.
__ADS_1
Riko langsung menatap Lina yang begitu bahagia dengan terus memegangi kalung pemberiannya.