
Elena membuka matanya dengan sangat pelan-pelan, tiba-tiba saja kepalanya terasa berdenyut saat ia mencoba untuk bangkit berdiri.
"Dimana ini, kenapa aku bisa sampai kesini". Gumam Lina
Lina terus memperhatikan sekeliling tempat ia berada, di sana hanya terdapat beberapa kursi yang sudah rusak dan tampak ruangan tersebut sudah diselimuti oleh jaring laba-laba di sekeliling sudut ruangan tersebut.
Sepertinya Lina berada dalam ruangan yang tidak pernah terpakai lagi.
Lina mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum ia sampai ketempat tersebut.
"Terakhir aku menolong seekor kucing, lalu kemudiaan ada seseorang yang menarik tubuhku Secara paksa untuk masuk kedalam mobil, kemudian aku sudah tidak ingat apa-apa lagi". Gumam lina.
"Kau sudah bangun gadis kecil". Ucap seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam.
Lina sangat kaget mendengar suara tersebut, ia langsung menoleh kearah sumber suara itu, saat melihat seseorang bertubuh tinggi dan tampan dihadapannya membuat Lina sangat kaget.
"Kau, ...kenapa kamu membawaku ke tempat ini". Tanya Lina .
"Wah,,, ternyata kau masih mengingatku gadis kecil, tidak ku sangka kalau ingatanmu sangat tajam".
"Tidak, tidak, dia bukan Elex. Alex tidak akan pernah berbicara seperti itu kepada orang lain, tapi wajahnya....., Wajahnya sangat mirip dengan Alex. Siapa dia sebenarnya, apa dia benar-benar Alex ataukah orang lain". Batin Lina.
"Siapa kamu sebenarnya". Ucap Lina lantang.
"Kau baru menanyakan aku siapa, sekarang. padahal kita sudah sangat sering bertemu. Baiklah tidak masalah, aku akan memperkenalkan diriku, namaku adalah Lucas". Jawabnya.
"Lucas..., Jadi benar dia bukan Alex. Lalu kenapa mereka memiliki wajah yang sama, apa jangan-jangan mereka saudara kembar". Batin Lina
"Lucas, jadi namamu adalah Lucas. Tapi untuk apa kamu membawaku kemari". Tanya Lina hati-hati agar ia bisa tau lebih banyak lagi.
Hahahaha
"Aku tidak menyangka kalau kamu begitu polos, kamu sama sekali tidak tau tujuan kamu dibawa kemari". Ucap Lucas sambil terus mentertawakan Lina.
Lina merasa sangat kesal saat Lucas tidak menjawab pertanyaannya, tapi malah mentertawakan dirinya.
"Tentu saja aku ingin membunuhmu". Ucap Lucas seketika saat tawanya terhenti.
__ADS_1
Lina sangat kaget mendengar perkataan Lucas yang tiba-tiba, perlahan-lahan Lina memundurkan langkahnya kebelakang karena takut saat melihat tatapan Lucas yang begitu tajam.
"Ta....tapi kenapa". Ucap Lina terbata-bata.
"Karena kamu adalah ancaman buat kami". Ucap Lucas dengan tatapan membunuhnya kepada Lina.
Lina merasa bingung kenapa Lucas mengatakan dia adalah ancaman untuk mereka.
"Sekarang katakan dimana kau menyimpan flashdisk itu". Tanya Lucas tiba-tiba.
"Flashdisk, maksud kamu apa, aku tidak mengerti".
"Dasar bodoh, jangan pura-pura tidak tau, jelas-jelas kau telah mengambil flashdisk itu 2 tahun yang lalu". Bentak Lucas.
"Dua tahun yang lalu, itu tidak mungkin". Ucap Lina.
Namun tiba-tiba kepalanya mulai berdenyut kembali, Lina merasakan sakit yang luar bisa di bagian kepalanya.
"Jangan pura-pura lupa, aku bukan orang bodoh yang bisa kau tipu dengan wajah polos mu itu, kau telah berani mengambil barang yang bukan milikmu, kau harus mengembalikan kembali apa yang telah kau ambil. Katakan dimana kau menyembunyikan flashdisk itu". Bentak Lucas lagi.
Kepala Lina semakin sakit, kini ada bayang-bayang yang mulai melintas diingatkan Lina.
Tiba-tiba saat Lina melihat kerah pintu, matanya langsung tertuju pada sosok lelaki yang baru masuk.
Dengan spontan Lina langsung mundur kebelakang saat melihat orang tersebut.
"Jangan mendekat". Ucap Lina.
"Uncle kau disini, wanita ini tetap bungkam saat aku bertanya". Ucap Lucas saat melihat max yang baru masuk.
Sementara Lina terus merasakan sakit yang luar bisa dikepala nya, semakin Lina mencoba menahan rasa sakit itu, semakin banyak bayangan-bayangan yang muncul diingatan nya.
Sesaat Lina menjadi terpaku saat ia mengingat wajah max yang menghabisi seorang wanita yang terikat dengan rantai.
"Pembunuh". Ucap Lina spontan kepada max.
Max sangat kaget saat Lina mengatakan ia pembunuh.
__ADS_1
"Kau masih mengingatku ternyata". Ucap max sambil tersenyum miring penuh dengan kelicikan.
"Apa yang kau inginkan". Ucap Lina dengan berani, walau sebenarnya ia merasa sangat ketakutan.
"Serahkan flashdisk yang kau ambil, maka nyawamu akan selamat". Ucap max sambil mengambil pisau yang ada dia atas meja.
Lina semakin takut saat melihat pisau itu, ia mulai meneteskan air matanya kembali sambil bergerak mundur.
"Aku tidak memiliki benda itu".
"Jangan bohong, jelas-jelas kau telah mengambilnya, atau jangan-jangan kau lebih memilih menyusul ayahmu". Ucap max sambil menyeringai.
"A'....ayah,. A'....apa, maksudmu". Ucap Lina terbata-bata.
Hahahaha, hahaha.
"Tentu saja mati, menyusul ayahmu yang bodoh itu".
"Apa kalian, yang mem.. membunuh ayahku". Tanya Lina dengan dadanya yang sudah semakin sesak karena mendengar perkataan dari max.
"Bukan, tapi aku yang telah menyuruh orang untuk menghabisi nyawanya". Ucap max dengan bangganya.
Lina sangat terpukul saat mendengar kenyataan bahwa pembunuh ayahnya ada didepan matanya, dadanya semakin sesak dan air matanya terus mengalir.
Kini max semakin mendekati Lina yang sudah terduduk di sudut ruangan tersebut. Ia mulai memain-mainkan pisaunya di udara.
Lina sama sekali tidak menyadari pergerakan max yang semakin mendekat, karena ia terus memikirkan ayahnya yang telah dibunuh.
Saat max dihadapannya barulah ia sadar.
"Apa yang ingin kau lakukan". Ucap Lina.
"Jika kau tidak mengatakan dimana flashdisk itu, maka aku tidak akan segan-segan menghabisi nyawamu seperti ayahmu". Ucap max tepat ditelinga Lina.
"Tidak, tidak. Aku tidak boleh mati ditangannya, jika aku mati bagaimana dengan bayiku, aku harus melindungi diriku dan calon bayiku. Tapi bagaimana caranya" batin Lina.
Lina menutup matanya saat max semakin mendekatkan pisau itu diwajahnya.
__ADS_1
"Mas Riko, kau dimana". Batin Lina.