"Aku Juga Bisa Jatuh Cinta"

"Aku Juga Bisa Jatuh Cinta"
episode 77


__ADS_3

hari ini hari Minggu, jadi Riko tidak kekantor ia hanya berdiam diri di rumah bersama istri dan keluarganya.


"mama......". teriak seorang gadis cantik yang berlari keluar dari dalam kamar dan menuruni anak tangga.


mendengar teriakan melengking gadis itu, Lina langsung menoleh kearah tangga.


"sayang jangan lari-lari, nanti kau jatuh". ucap Lina memperingati putrinya.


Lina memiliki 3 orang anak, anaknya yang pertama laki-laki yang diberi nama vino pikrian putra Sanjaya, dan anak yang kedua dan ketiga kembar, yaitu Vira Anata putri Sanjaya dan saudara kembarnya yang bernama Vikram Anata putra sanjaya.


gadis yang tengah sedang berlari itu tidak lain adalah Vira.


"ma, lihatlah kak Vikram selalu saja menganggu Vi". ucap Vira mengadu pada Lina.


Lina memijat pelipisnya melihat putrinya, setiap hari selalu saja ada pertengkaran diantara Vira dan saudara kembarnya Vikram, entah kenapa mereka tidak pernah akur. namun itu hanya akan terjadi saat di rumah, dan jika diluar rumah mereka selalu akrab dan saling menjaga.


"sekarang katakan, kali ini apa yang dilakukan kakakmu?". tanya Lina dengan lembut sambil mengusap kepala putrinya.


"kakak menumpahkan cat di gambar yang aku lukis tadi". adu Vira kembali.


"itu tidak benar ma..". sela salah seorang lelaki tampan yang turun dari atas.


Lina segera melihat anak lelakinya yang bernama Vikram dan memberi isyarat agar segera menghampirinya.


"Vikram, sekarang katakan pada mama, apa benar kau menumpahkan cat pada lukisan Vi?". tanya Lina dengan menatap mata putranya tajam.


Vikram yang sudah ditatap tajam oleh ibunya hanya menunduk, karena saat Lina sudah mengintrogasi mereka anak-anaknya maka tidak akan ada yang berani berbohong, apalagi saat Lina sudah menatap mereka dengan tajam.


Lina memang sangat lembut namun ia akan sangat tegas saat mendidik anak-anaknya kejalan yang benar.


"i....iya ma". jawab Vikram dengan gugup.


"tapi ram tidak sengaja ma...". ucap Vikram kembali.


ram adalah panggilan Vikram saat di rumah, dan Vi panggilan untuk Vira.


"ceritakan apa yang terjadi". ucap Lina dengan tegas.


Vikram segera menceritakan Diaman pada saat ia ingin mengambil buku yang berada di depan Vira, dan pada saat tangannya menggapai buku tersebut dengan tidak sengaja ia menyenggol meja dan membuat cat yang berada dihadapan Vira tumpah pada kertas yang berikan gambar yang baru saja Vira gambar.


melihat itu, tentu saja Vira sangat marah, karena ia menyelesaikan gambarnya selama dua hari agar bisa sempurna.


"kak ram, apa yang kakak lakukan?". tanya Vira dengan sedikit berteriak pada Vikram.

__ADS_1


"maaf vi, kakak tidak sengaja". sesal Vikram.


"kakak pasti sengaja, kakak memang sangat suka jahat sama Vi, kakak tidak sayang sama Vi...". ucap Vira dengan emosinya yang sudah memuncak.


"kakak memang tidak sengaja Vi, kakak minta maaf". ucap Vikram kembali.


"Vi nggak mau tau, kak ram harus tanggung jawab". teriak Vira dengan kencang.


"bagaimana caranya?, kau Taukan kalau kakak tidak bisa melukis". tanya Vikram pada saudari kembarnya.


"Vi nggak mau tau, karam harus tanggung jawab, atau tidak vi akan bilang pada mama". ancam Vira .


melihat Vikram yang hanya diam saja, Vira langsung bergegas keluar dan memanggil ibunya.


mendengar cerita dari Vikram, Lina hanya bisa menghela nafas panjang.


"Vi, kau sudah dengarkan?". tanya Lina pada putrinya.


"iya ma, Vi minta maaf karena sudah salah paham sama kak ram". ucap Vira dengan sendu.


sekarang Vira sudah tau kalau Vikram memang tidak sengaja dan itu hanya sebuah kecelakaan saja.


"minta maaf sama kak ram". ucap Lina kemudian.


"kak ram...". panggil Vira dengan lembut.


mendengar panggilan Vira, ram segera menoleh dan menatap mata indah saudarinya.


"Vi minta maaf sama kakak, Vi sudah salah paham". ucap Vira langsung.


"tidak apa-apa Vi, kakak sudah maafkan. nanti kakak akan bantu Vi membuat lukisan baru". ucap Vikram kemudian.


melihat putra dan putrinya yang sudah akur, Lina tersenyum senang.


sementara sedari tadi Riko yang duduk di sofa hanya diam, ia bahkan tidak menggubris pertengkaran anak-anaknya, ia hanya duduk sambil terus membaca koran. menurut Riko itu hanya hal biasa, dan Lina akan dengan sangat mudah membuat putra dan putrinya kembali akur.


"aku pulang......". ucap salah seorang pria bertubuh tinggi dan sangat tampan dari arah pintu depan.


mendengar suara yang sangat akrab, keempat orang tersebut langsung melihat kearah pintu asal dari suara.


di sana sudah berdiri seorang pria tampan yang tidak lain adalah vino pikran putra Sanjaya kakak dari Vira dan Vikram.


"kakak.....". pekik Vira dengan senang.

__ADS_1


dengan cepat Vira langsung berlari menghampiri vino, melihat itu vino langsung menjatuhkan tasnya dan merenggangkan kedua tangannya menyambut Vira.


"apa adik kakak yang cantik ini sudah merindukan kakak?". tanya vino sambil mengusap kepala Vira dengan lembut.


Vira langsung mengangguk, ia sangat merindukan kakaknya vino.


vino pergi keluar kota selama sebulan untuk melakukan penelitian terhadap proyek yang baru saja Sanjaya grup buka.


sebenarnya vino baru saja menyelesaikan sekolahnya, dan itu ia lakukan perintah dari Riko, Riko menginginkan agar putranya segera belajar, dan itu merupakan pelajaran dasar yang Riko berikan untuk putranya, agar nanti vino siap menggantikan dirinya memimpin Sanjaya grup.


vino menghampiri ibunya dan memeluk Lina dengan penuh kasih sayang, dan setelah itu ia beralih memeluk riko.


"kak Vin, apa kakak tidak memelukku?" tanya Vikram manja pada vino.


vino terkekeh melihat adik lelakinya yang cemburu melihat dirinya tidak memeluknya.


selisih antara Vira, Vikram dan vino terpaut jauh, mereka selisih usia 5 tahun.


"kemari lah, peluk kakak". ucap vino pada Vikram.


dengan cepat Vikram langsung memeluk kakaknya.


Vikram dan Vira memang sangat manja, apa lagi pada vino dan Riko, mereka selalu Maja dan hanya akan takut pada ibunya saja.


sementara vino manja pada ayah dan ibunya.


"bagaimana keadaan di sana Vin?". tanya Riko kemudian.


"keadaan di sana baik-baik saja pa, semua berjalan lancar". jelas vino pada ayahnya Riko.


"papa tau, kau pasti bisa melakukannya". ucap Riko memuji putranya.


"sudah, kalian membahas ini nanti saja, vino baru kembali, dan sekarang dia butuh istirahat". sela Lina langsung.


"Vin, pergilah ke kamarmu". perintah Lina.


vino langsung mengangguk dan pergi ke kamarnya, sebenarnya ia memang merasa lelah, tapi melihat keluarganya, rasa lelahnya tiba-tiba saja menjadi hilang.


keluarga mereka memang selalu hangat setiap hari dan setiap saat, Lina sangat senang karena putra dan putrinya tumbuh menjadi anak-anak yang sangat baik dan bisa dibanggakan.


sikap dari kedua putranya persis seperti Riko, terkenal sangat dingin saat diluar, namun hangat pada keluarganya.


sementara sikap putrinya persis seperti Lina, sangat lembut dan ceria, namun terkenal jutek dan juga tegas.

__ADS_1


*TAMAT*......


__ADS_2