
..........
Seperti hari-hari biasanya Riko akan pergi ke kantor jika tidak ada kuliah, sekarang Riko hanya tinggal menunggu tanggal wisuda Yang akan diadakan satu Minggu lagi, sementara Lina sudah masuk semester 3.
Lidia datang dengan anggunnya menuju Wijaya grup, ia sama sekali belum jera akan peringatan riko, ia bahkan merasa lebih tertantang untuk mendapatkan Riko.
Lidia memakai baju warna Dongker yang ketat sehingga Lekok tubuhnya terlihat jelas, dengan bangganya ia melangkah dan langsung menuju lift khusus direktur dan langsung naik ke lantai 70.
Lidia langsung masuk keruang Riko tanpa permisi.
Riko dan Rian yang sedang membahas pekerjaan sangat kaget melihat kedatangan Lidia yang tiba-tiba.
"Apa yang kau lakukan disini". Tanya Riko marah.
"Tentu saja untuk menemui kekasihku". Jawabnya penuh dengan percaya diri.
Riko dan Rian sangat geram melihat tingkah Lidia yang lebih mirip wanita ja**ng dibanding wanita terhormat dari kalangan konglomerat.
Lidia segera duduk di sofa sambil melipat kakinya, sehingga terlihat jelas paha mulusnya.
Riko dan Rian tidak memperdulikan kehadiran Lidia mereka terus membahas tentang proyek yang akan mereka jalankan.
Saat mereka selesai berbicara, Rian pamit untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
Kini tinggal Riko dan Lidia saja yang ada di ruangan tersebut.
Lidia langsung mengambil kesempatan saat Rian sudah keluar dari ruangan Riko. Ia segera bejalan kerah riko dan duduk dipangkuan Riko.
Riko sangat marah karena Lidia dengan beraninya duduk diatas pangkuannya. Riko segera mendorong kasar tubuh Lidia hingga Lidia tersungkur diatas lantai.
Kreekk...
Riko sangat kaget melihat kedatangan Lina kekantor nya.
"Sayang kau kemari". Kata Riko langsung menghampiri dan memeluk serta mencium wajah Lina.
Lidia sangat kaget melihat Lina ada di kantor Riko, bahkan yang lebih membuat ia kaget adalah saat Riko memanggilnya sayang.
"Mas, kenapa Lidia ada disini". Tanya Lina heran, karena melihat Lidia.
__ADS_1
"Apa kau mengenalnya". Tanya Riko
"Iya mas, Lidia kuliah dikampus yang sama denganku".
Sementara Lidia langsung tersenyum licik melihat kedatangan Lina.
"Tentu saja aku ada disini, karena sebentar lagi Riko akan menjadi suamiku". Ucap Lidia penuh kemenangan sambil memeluk lengan Riko.
"Apa yang kau katakan, jangan asal bicara disini". Kata Riko penuh dengan amarah.
Sementara Lina sangat terkejut melihat Lidia dengan beraninya memeluk lengan Riko, ia tiba-tiba sangat marah melihat Lidia.
"Lepaskan tangan kotorku itu dari suamiku". Ucap Lina penuh dengan emosi.
Mendengar amarah Lina, spontan Lidia langsung melepas tangannya dari Riko, ia sangat kaget saat Lina mengatakan Riko adalah suaminya.
"A...apa, suami. Tidak, tidak, ini tidak mungkin. Kau wanita ja**ng beraninya kau mengaku sebagai istri Riko". Sangkal Lidia .
"Selama ini aku sudah bersabar menghadapi kamu, tapi sekarang tidak lagi, kau telah berani mendaratkan tangan kotormu itu di lengan suamiku. Kau tidak percaya dengan ucapanku, baiklah, tidak masalah. Tapi apa kau tidak melihat cincin nikah yang dipakai mas Riko dan Yang ada di jariku ini, apa ini belum cukup membuktikan kalau kami suami istri". Jawab Lina sinis, serta dipenuhi dengan amarah.
Riko sangat kaget melihat kemarahan Lina, ia tidak menyangka kalau Lina yang mulanya wanita lembut dan manja akan berubah menjadi wanita menakutkan saat sedang marah. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya kalau ia benar-benar selingkuh.
Lina tersenyum sinis menangapi perkataan Lidia.
"Apa menurutmu aku bisa berbohong". Bisik Lina tepat ditelinga Lidia.
Lidia langsung merinding mendengar bisikan Lina yang menurutnya sangat kejam, seakan mampu untuk membunuhnya. Ia tidak pernah melihat kemarahan Lina sebelumnya, ia memang sering mengatai serta memfitnah Lina, bahkan semua mahasiswi sudah banyak yang membenci Lina karena ulahnya. Tapi Lina tidak pernah marah samasekali.
"Dengarkan aku baik-baik, meskipun kau adalah istri Riko, tapi aku tidak akan pernah membiarkan hidupmu tenang, aku akan merebut Riko dari tanganmu dan membuat hidupmu hancur berkeping-keping". Bisik Lidia kembali pada Lina.
Riko sama sekali tidak tau apa yang dibicarakan Lina dan juga Lidia karena mereka berbisik, sehingga ia tidak mendengarnya dengan jelas.
Plakkk...
Sebuah tamparan mendarat mulus di wajah Lidia.
"Kau....". Geram Lidia.
"Itu adalah tamparan semangat buatmu, agar kau bisa mencapai tujuanmu. Tapi aku tidak yakin akan semua itu karena sebelum rencana licik mu itu bejalan, aku dapat memastikan kalau kau akan hancur lebih dulu". Ucap Lina penuh penekanan di setiap ucapannya.
__ADS_1
"Kau akan membayar semua ini". Kata Lidia sambil mengambil tasnya dan pergi meninggalkan kantor Riko.
Setelah kepergian Lidia Riko langsung memegang kedua pundak istrinya.
"Sayang....". Belum selesai Riko berbicara Lina sudah melepaskan tangan Riko dari pundaknya.
Riko sangat kaget melihat perlakuan Lina padanya.
"Jangan berbicara kepadaku, apa mas pikir setelah kejadian tadi aku akan dengan mudah memaafkan mas Riko". Ucap Lina memperingati Riko.
"Sayang dengarkan penjelas mas terlebih dahulu". Bujuk Riko.
"Apa mas pikir, membiarkan Lidia masuk dan bahkan membiarkan Lidia memeluk lenganmu itu kau tidak bersalah. Atau bahkan sebelum aku datang Lidia juga sudah duduk di pangkuan kamu mas". Ucap Lina penuh dengan selidik.
Riko menelan ludahnya kasar saat mendengar penuturan Lina, ia tidak menyangka kalau Lina bisa menebak apa yang terjadi.
"Kenapa mas, kenapa kamu diam. Apa jangan-jangan semua yang aku katakan itu benar".
"Sayang ini tidak seperti yang kamu pikirkan".
"Jadi benar, wah hebat sekali. Jangan-jangan mas juga menikmatinya, iya kan". Ucap Lina seketika dengan api kemarahannya.
"Tidak sayang, tidak, hanya kamu yang bisa menyentuh mas, mas adalah milikmu. Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan kamu sayang". Ucap Riko berharap Lina bisa paham dengan maksudnya.
Lina sudah tidak tahan lagi membayangkan apa yang terjadi antara Riko dan Lidia, ia langsung menangis dan menatap dalam-dalam mata Riko.
Lina lebih memilih untuk pergi dari hadapan Riko, ia segera berlari meninggalkan kantor Riko dan segera memesan taksi di depan kantor.
Rian yang melihat Lina menangis sangat kaget, ia tidak menyangka kalau Lina akan sangat marah terhadap Riko. Ia berinisiatif langsung masuk ke ruangan Riko dan menanyakannya langsung kepada Riko.
Riko menjambak rambutnya dan mengusap wajahnya kasar, ia tidak tau harus bagaimana lagi meyakinkan Lina, ia benar-benar kehabisan akal saat berhadapan dengan Lina.
Lina sekarang sudah menjadi kelemahan terbesar Riko, ia tidak bisa kehilangan Lina, ia langsung menyambar kunci mobilnya dan segera menyusul Lina.
Saat Riko keluar ia melihat Rian yang sudah berdiri didepannya.
"Hendel semua pekerjaanku hari ini". Ucap Riko dingin pada Rian.
Setelah mengatakan itu Riko langsung bergegas turun kebawah, berharap kalau Lina masih dibawah.
__ADS_1
like dan vote terus ya