
Saat Lina tersadar ia langsung mengarahkan pandangannya pada Riko.
"Mas Riko..". Lirih Lina.
"Sayang kau sudah sadar, tunggu akau akan memanggil dokter". Ucap Riko saat Lina sudah sadar.
Lina menahan tangan Riko agar Riko tidak pergi dan tidak perlu memanggil dokter.
"Mas tidak perlu memanggil dokter, aku tidak kenapa-napa". Ucap Lina meyakinkan Riko.
Riko kemudian kembali duduk di samping lina.
"Mas, mereka yang telah membunuh ayah". Ucap Lina dengan air mata yang sudah mengalir.
Riko yang mendengar penuturan istrinya itu sangat terkejut sekaligus sangat marah, ia tidak sanggup jika harus melihat Lina menangis lagi.
"Kau jangan menangis lagi sayang, sekarang kamu masih punya mas". Ucap Riko mencoba menenangkan Lina.
Lina langsung memeluk erat Riko, ia langsung menangis dalam pelukan Riko.
"Tapi sayang apa kau tau alasan mereka melakukannya". Tanya Riko hati-hati.
Lina kemudian mengangguk.
"Aku tau mas, aku sudah ingat semuanya". Ucap Lina.
Flashback on
Saat itu Lina masih SMA, ia baru pulang belajar kelompok dari rumah temannya, karena rumah teman Lina tidak terlalu jauh dari rumah Lina, ia memutuskan berjalan kaki walaupun hari sudah malam.
Saat Lina melewati sebuah rumah, ia menghentikan langkahnya karena melihat lampu menyala.
"Loh, kenapa lampunya menyala?, Apa rumah ini sudah ada yang menghuni?, Biasanya lampu rumah ini tidak pernah menyala". Gumam Lina sambil terus melihat kerah rumah tersebut.
Lina memang sering lewat rumah tersebut dan setiap ia lewat rumah itu ia sama sekali belum pernah melihat lampu rumah tersebut menyala.
"Pintunya terbuka, lebih baik aku mencek kedalam saja". Batin Lina.
Kemudian Lina segera melihat kedalam, tampak disana sangat sunyi. Ia kemudian mencoba memanggil orang yang ada didalam.
"Permisi..., Apa ada orang?", Sahut Lina.
Beberapa kali Lina mencoba memanggil tapi tetap saja tidak ada sahutan dari dalam, ia memutuskan untuk masuk kedalam.
Lina menyelusuri setiap sudut rumah tersebut.
__ADS_1
"Rumah ini cukup besar". Gumam Lina.
Sesat kemudian Lina melihat sebuah ruangan yang didalamnya menyala sebuah komputer, ia kemudian masuk dan melihat komputer tersebut.
Lina sangat terkejut dengan apa yang ia lihat, ia melihat sebuah rekaman yang menayangkan sebuah pembunuhan, saat Lina akan meninggalkan ruangan itu matanya ditujukan pada sebuah flashdisk yang terhubung dengan komputer tersebut, ia kemudian mengambil benda tersebut dan memasukkannya kedalam tas, ia bermaksud akan menyerahkan benda itu pada polisi nanti.
Saat Lina ingin meninggalkan rumah itu, samar-samar ia mendengar suara jeritan wanita yang terus minta ampun dan minta tolong, ia kemudian melanjutkan langkahnya mencari sumber suara tersebut.
Lina sangat terkejut saat ia melihat 2 orang wanita yang sedang diikat dengan menggunakan rantai dan yang lebih mengejutkannya adalah melihat max dan Lucas menyiksa orang tersebut bahkan Lina menyaksikan saat mereka membunuh kedua wanita itu dengan menggunakan pisau untuk memotong leher kedua wanita itu.
Lina mulai takut dan gemetar karena menyaksikan perbuatan keji yang dilakukan oleh max dan Lucas, wajahnya tiba-tiba saja menjadi pucat, ia segera memundurkan langkahnya kebelakang.
Saat elena akan lari tiba-tiba saja ia menabrak sebuah kursi dan menyebabkan kursi tersebut jatuh.
Saat mendengar ada yang jatuh max dan Lucas langsung melihat kearah sumber suara, mereka sangat terkejut mendapati ada orang lain disana.
"Siapa kau?". Tanya max
Lina yang mendengar suara max langsung bangkit berdiri dan mencoba lari sekuat yang ia bisa.
"Kejar dia Lucas". Ucap max saat melihat Lina kabur.
Mereka kini mengejar Lina dalam kegelapan malam.
Lina bersembunyi dibalik beberapa kursi yang sudah rusak, sepertinya kursi itu bekas dari para karyawan yang dulunya bekerja di pabrik tersebut.
Sementara Lucas dan max terus mengejar Lina hingga mereka sampai ke pabrik tempat Lina bersembunyi.
"Aku yakin gadis itu bersembunyi disini, kau cepat cari. Kita harus mendapatkan gadis itu". Perintah max pada Lucas.
Mereka kemudian mencari Lina kesegala sudut ruangan tersebut.
"Aku menemukannya uncle". Panggil Lucas memanggil max.
"Oh ternyata kau disitu". Ucap max tersenyum licik mencoba mendekat kerah persembunyian Lina.
Saat mereka melangkah tiba-tiba saja mereka mendengar suara orang yang terus memanggil-manggil nama Lina.
Karena takut ketahuan mereka berdua langsung lari, meninggalkan Lina.
Lina yang melihat Lucas dan juga max segera keluar dari tempat persembunyiannya.
Lina tau kalau yang memanggil namanya adalah ayahnya. Dengan tenaga yang ia miliki ia mencoba memanggil ayahnya.
"Ayah...". Teriak Lina.
__ADS_1
Saat sudah memanggil ayahnya sekali, ia langsung terjatuh pingsan, karena terlalu takut dalam kegelapan itu.
Saat sebelum menutup mata, ia melihat Lucas dan max yang menatapnya tajam.
"Jangan tangkap aku, jangan kejar aku, menjauh lah". Ucap Lina semakin pelan lalu kemudian ia sudah tidak sadar.
Saat yang bersamaan Santo langsung menemukan Lina Yangs udah tergeletak di tempat yang penuh dengan debu.
Santo segera mengangkat tubuh putrinya dan membawanya menuju rumah sakit.
Sementara Lucas dan max segera meninggalkan tempat itu, mereka kembali kedalam rumah dimana mereka menghabisi kedua pelayan rumah Wijaya.
Mereka memang menghabisi kedua pelayan rumah tangga keluarga Wijaya, karena aksi mereka saat membutuh Albert Wijaya telah disaksikan oleh kedua pelayan wanita itu.
Karena itu untuk menghilangkan bukti mereka menangkap pelayan tersebut dan membawa mereka ke kota C untuk membunuhnya agar bisa menghilangkan jejak.
Sementara Albert Wijaya adalah kakek Riko, mereka membunuhnya agar semua harta Wijaya jatuh ke tangan mereka.
Saat max dan Lucas masuk kedalam sebuah ruangan dimana disana terdapat sebuah komputer usang namun masih bisa menyala, saat sampai mereka sangat terkejut mendapati komputer tersebut telah mati.
"Uncle flashdisk nya hilang". Ucap Lucas.
"Apa, kenapa bisa hilang". Jawab max.
"Entahlah, aku juga tidak tau, tadi flashdisk itu masih disini dan komputer ini juga menyala karena memutar Vidio tentang aksi kita yang membunuh Albert". Jelas Lucas.
"Sial, gadis itu pasti telah mengambilnya,". Ucap max.
"Kita harus menemukan gadis itu kembali uncle". Saran Lucas.
"Benar, kita harus bisa menemukan gadis itu".
Sementara Lina yang sedang dirawat dirumah sakit terus berteriak histeris.
"Tidak...jangan tangkap aku, menjauh lah, pergi". Rancu Lina terus berteriak dengan mata yang terpejam.
Dokter harus menyuntikkan obat bius agar Lina bisa tenang.
Santi sama sekali tidak tau apa yang terjadi dengan putrinya, ia sangat sedih saat melihat keadaan Lina yang selalu ketakutan saat malam hari.
Sementara Lina hilang ingatan karena kejadian yang membuat ia sangat tertekan dan ketakutan, ia sama sekali tidak bisa mengingat kejadian yang menimpanya tapi tetap saja saat malam hari ia terus mimpi buruk.
flashback off.
setelah menceritakan semua pada Riko, Lina sudah jauh merasa lebih baik.
__ADS_1