
"Sekarang sudah tiba saatnya". Ucap max tersenyum menyeringai.
Setelah berhasil menyekap Lina max memang sengaja belum bertindak, ia ingin melihat bagaimana pergerakan Riko saat menyadari istrinya telah hilang, dan pada saat yang tepat barulah rencananya ia lanjutkan kembali.
"Lakukan rencana selanjutnya". Titah max pada salah seorang kaki tangannya.
"Baik tuan".
Max tersenyum senang karena sebentar lagi semua keinginannya akan tercapai, ia sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana Riko akan bertekuk lutut di bawah kakinya.
"Bagaimana dengan wanita itu?". Tanya max pada Lidia yang sedang duduk santai di sofa.
"Cek, aku benci harus mengurus wanita itu. Dia itu sangat keras kepala, makanan yang selalu aku bawa selalu ia buang, dia hanya makan satu kali sehari, itupun pada malam hari". Jelas Lidia dengan kesal.
"Terus jaga dia, karena dia tidak boleh mati sekarang". Ucap max.
"Kenapa kita harus mempertahankannya ?, lebih baik kita bunuh saja dia. Aku juga sudah tidak sabar ingin melihat mayatnya, karena setelah ia mati maka aku tidak akan memiliki saingan lagi".
"Tidak bisa, dia harus tetap hidup agar tujuan kita tercapai. Kita akan menjadikan dia alat untuk melumpuhkan riko". Jelas max.
Max tidak setuju kalau Lina harus mati, karena jika Lina mati maka rencananya untuk melumpuhkan riko akan semakin sulit.
"Terserah kau saja, tapi ingat setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan, kau harus menyerahkan Riko padaku". Tegas Lidia.
"Aku tau, kau tidak perlu khawatir. Riko akan menjadi milikmu selamanya". Jawab max sambil menyeringai licik.
"Riko akan menjadi milikmu di neraka, karena aku akan membunuhmu bersama dengan yang lainnya". Batin max.
"Bagus, aku percaya padamu, tapi ingat jangan coba-coba untuk menipuku". Ucap Lidia dengan tajam.
"Karena jika itu terjadi, aku tidak akan segan-segan membocorkan semua kejahatan mu". Ancam Lidia.
"Hahahaha...., Kau tidak perlu khawatir. Karena max tidak akan pernah mengingkari janji, setelah tujuanku selesai aku akan menyerahkan Riko padamu nanti". Jelas max meyakinkan Lidia.
Lidia yang sudah sangat berambisi untuk memiliki Riko, dibutakan dengan ambisinya, ia sama sekali Tidak tau kalau bahaya akan menghampirinya.
__ADS_1
"Aku akan menyerahkan jasad Riko padamu, dan setelah itu kau juga akan menyusul kematian riko". Batin max tertawa bahagia
Lidia kemudian pergi meninggalkan max, ia memilih untuk melihat keadaan Lina, ia penasaran bagaimana keadaan Lina saat ini.
"Bagaimana keadaanmu?". Tanya Lidia sinis pada Lina.
Lina menatap Lidia dengan tajam, kilatan api kebencian langsung menghiasi tatapan Lina.
"Kau akan menyesal Lidia". Ucap Lina dengan tajam.
Hahahaha
"Aku rasa, kaulah yang akan menyesal". Jawab Lidia dengan tersenyum menyeringai.
"Kau lebih baik bersiap-siap untuk menemui ajal mu". Ucapnya lagi.
"Apa maksudmu?".
"Cih..., Kau begitu naif. Jangan sok-sok lugu di hadapanku". Kata Lidia mencibir Lina.
"Apa kau tau ?, Setelah kematian mu, maka Riko akan menjadi milikku untuk selamanya".
"Kau.....". Geram Lidia.
"Kita lihat nanti, apa Riko akan menjadi milikku atau tidak. Dan kau bersiap-siaplah untuk menangis dibawah kakiku".
"Hahahaha......., Akan sudah tiba dak sabar melihatmu merangkak di bawah kakiku". Lanjut Lidia kembali.
Lina menatap Lidia dengan tajam, ia berharap Riko segera menemukannya. Dan tidak masuk dalam perangkap max dan juga Lidia.
"Baiklah, jika kalian memang ingin membunuhku. Boleh aku meminta sesuatu, ini untuk terakhir kalinya". Pinta Lina dengan suara lemahnya.
Lidia tampak berfikir untuk mempertimbangkan perkataan Lina.
"Tergantung permintaanmu. Katakan apa keinginanmu?". Tanya Lidia pada Lina.
__ADS_1
"Aku ingin menghubungi mas Riko untuk terakhir kalinya". Pinta Lina dengan wajah yang penuh harap.
Lidia menautkan kedua alisnya merasa curiga karena ia merasa ada yang aneh dengan permintaan Lina.
"Apa kau pikir aku bodoh, aku tidak akan termakan oleh kebaikanmu. Cih..., Kau tidak akan pernah bisa menghubungi Riko". Jawab Lidia dengan tajam.
"Sepertinya Lidia tidak mudah untuk dibodohi". Pikir Lina.
"Tapi akan aku coba kembali". Batinnya.
"Aku hanya ingin mendengar suaranya sebentar saja, aku mohon....". Pinta Lina.
Lina berharap Lidia menyetujui keinginannya, maka saat ia bisa berbicara dengan Riko pasti dengan cepat Riko dapat melacak keberadaannya.
"Baiklah, tapi hanya 1 menit, tidak lebih". Ucap Lidia.
Lidia merasa tidak ada salahnya untuk memenuhi keinginan Lina untuk terakhir kalinya sebelum dia menemui ajalnya.
Tanpa menaruh curiga sedikitpun akhirnya Lidia menyerahkan ponselnya pada Lina
Dengan antusias Lina mengambil ponsel Lidia ia segera menakan nomor Riko yang selalu ia hapal.
Saat panggilannya tersambung Lina segera mengatakan ucapannya.
"Mas..., Ini Lina...". Ucapnya dengan air mata yang sudah mengalir.
"Aku menyayangimu mas, aku mencintaimu".
"Sudah cukup". Kata lidia, ia segera menyambar ponselnya kembali dan mematikan panggilannya.
Lina tersenyum senang karena tujuannya sebentar lagi akan tercapai.
"Terimakasih Lidia, aku tidak menyangka kalau kau sangat baik". Kata-kata Lina sengaja ia ucapkan selembut mungkin agar Lidia tidak curiga.
"Jangan senang dulu, aku melakukannya agar kau tidak menghantuiku saat kau sudah mati nanti". Jawab Lidia dengan tersenyum mengejek.
__ADS_1
Mendengar jawaban Lidia Lina hanya bisa tersenyum gentir, ia berharap Riko segera melacak keberadaannya dan membebaskannya.
jangan lupa vote ya...