
Setelah panggilannya selesai, Riko kembali mendekati Lina. Ia tidak tau apa yang harus ia katakan pada istrinya tersebut.
"Sayang, ayo siap-siap, kita akan ke kota C". Ucap Riko tiba-tiba
"Tapi mas, kenapa harus mendadak begini, kenapa tidak besok saja. Ini sudah malam". Jawab Lina, karena menurutnya sudah sangat larut malam untuk melakukan perjalanan.
"Tidak sayang, kita harus berangkat malam ini ya. Bukankah kamu sudah sangat merindukan ayah". Ucap Riko.
"Maafkan aku sayang, aku tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya, aku harap kamu bisa menerima ini semua dengan ikhlas". Batin Riko.
"Baiklah".
"Cukup pakai mantel saja sayang, untuk baju nanti biar kita beli disana".
Lina menuruti perkataan Riko, Lina hanya mengganti baju serta memakai mantel dan tidak lupa Lina juga memakai sepatu kets warna putih.
"Baiklah ayo kita berangkat, aku sudah siap". Ucap lina sambil membawa mantel Riko ditangannya.
Riko memakai mantel yang dibawa istrinya dengan dibantu oleh Lina, kemudian mereka langsung berangkat menggunakan jet pribadi Riko.
Sampai dikota C, mereka sudah ditunggu beberapa pengawal dan supir pribadi mereka.
"Kita langsung kerumah sakit pak". Sahut Riko.
"Mas, siapa yang sakit". Tanya lina.
Lina merasa bingung, karena mereka bukannya langsung pulang kerumah tapi malah pergi menuju rumah sakit.
"Nanti kamu juga akan tau sayang". Ucap Riko dengan berusaha setenang mungkin, agar Lina tidak terlalu cemas.
Tiba-tiba saja Lina merasa cemas, walaupun ia tidak tau apa yang ia cemaskan. Sesaat dadanya mulai sedikit sesak.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja". Ucap Riko saat ia melihat Lina memegangi dadanya.
"Entahlah mas, tiba-tiba saja aku mersa cemas. Seperti akan terjadi hal yang besar nanti".
Riko paham maksud dari perkataan istrinya, karena menurutnya itu adalah hal yang wajar.
"Jangan dipikirkan, apapun yang terjadi nanti, kamu tidak sendirian ada mas disamping kamu sayang". Ucap Riko lembut mencoba menenangkan Lina.
Perjalanan menuju rumah sakit membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
Saat mereka sampai dirumah sakit, Riko langsung memeluk pinggang Lina dari arah samping, mereka telah disambut oleh asisten pribadi Riko yang berada dikota C yang bernama Kevin.
"Tuan muda dan nona muda, mari saya antar". Ucap Kevin sambil tertunduk Dengan kata-kata yang sopan.
__ADS_1
Lina dan Riko mengikuti langkah Kevin dari belakang.
Lina sangat kaget saat Meraka bejalan menuju ruangan yang sangat ditakuti oleh banyak orang, ia sangat terkejut ketika mereka memasuki ruangan yang bertuliskan ruangan mayat.
"Mas, kenapa kita disini".
"Ayo masuk, nanti kamu akan tau".
Lina mengikuti langkah Riko sambil menggenggam tangan Riko erat.
Riko menyadari genggaman tangan Lina yang semakin erat segera mengusap kepala Lina dengan lembut, berharap Lina akan semakin tenang.
Mereka menghentikan langkahnya saat sebuah mayat tepat berada dihadapan mereka.
"Sayang bukalah".
"Tapi mas, ini mayat siapa ? "
"Bukalah, nanti kamu akan tahu".
Dengan tangan yang gemetar Lina memberikan dirinya untuk membuka penutup mayat tersebut.
Saat kain yang menutupi wajah mayat itu mulai terangkat sampai ke leher, tiba-tiba saja tubuh Lina lemas.
"I....ini, tidak mungkin, ti..dak, mungkin, ini pasti hanya mimpi". Ucap Lina terbata-bata, seakan ia menyangkal semua yang baru ia lihat.
"Katakan mas Riko, kalau aku sedang bermimpi". Ucap lina sambil menatap mata Riko.
Tapi Riko hanya bisa diam, ia tidak dapat mengatakan apa-apa, ia tau kalau ini pasti akan terjadi, karena sangat sulit untuk Lina dapat menerima ini semua.
Melihat Riko yang bungkam, Lina langsung meneteskan air matanya, dadanya terasa sangat sesak, air matanya lolos begitu saja membasahi wajahnya.
"a...ayah, ini pasti mimpi, tidak, tidak, ayah hanya tertidur. Ayo mas bangunkan ayah, katakan kalau kita datang untuk mengunjunginya". Ucap Lina sambil menatap Riko dengan penuh harap.
Riko hanya tetap terdiam membisu, ia tidak sanggup menatap Lina lagi, hatinya sakit melihat Lina menangis.
"Siapapun tolong bangunkan ayahku.....". Teriak Lina didalam ruangan tersebut.
"Tolong bangunkan ayah, ayah bangunlah". Ucap Lina dengan derai air mata yang sudah membanjir.
Lina memeluk tubuh Santo yang masih terbaring dengan ditutupi kain putih tersebut dengan sangat erat.
"Ayah, bulak matamu. Hiks...hiks..., ".
Riko mencoba meraih tubuh Lina dan mendekapnya dengan erat, seakan-akan ia sedang menyalurkan ketengan kedalam diri Lina.
__ADS_1
Lina terus menangis didalam pelukan Riko, tubuhnya mulai melemah, ia tidak sanggup menerima kenyataan pahit yang menimpa dirinya.
"Mas, aku hanya punya ayah. Tapi sekarang ayah juga ikut per....". Ucap Lina terputus.
"Husss, jangan katakan itu lagi, kamu masih punya mas, mas akan selalu ada disisi kamu sayang, mas akan tetap berada di sampingmu".
Lina semakin mengeratkan pelukannya terhadap Riko, rasnya ia sudah tidak mampu untuk menangis lagi, lidahnya tiba-tiba saja merasa Kelu, saat sesak di dadanya semakin bertambah, air matanya tidak pernah berhenti mengalir. Sampai-sampai tubuhnya kini sudah sangat melemah.
Pandangan Lina mulai kabur, ia sudah tidak sanggup menopang berat badannya lagi, ia langsung pingsan dalam dekapan Riko.
Riko yang menyadari Lina pingsan, segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya keruang rawat.
Riko segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Lina.
"Keadaan pasien tidak kenapa-napa, ia hanya mengalami shock, disarankan agar pasien tidak banyak berpikir terlebih dahulu, karena itu akan sangat berpengaruh terhadap janin yang pasien kandung". Jelas dokter saat ia selesai memeriksa Lina.
Riko sangat sedih melihat keadaan Lina saat ini, ia seperti kehilangan sosok seorang yang membuat hidupnya berwarna ketika Lina sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Saat Lina tersadar, dengan sigap Riko langsung memanggil dokter kembali.
Kini pandangan Lina hanya mengarah ke depan dengan tatapan kosong, air matanya terus menetes tapi tidak bersuara.
Riko semakin sakit saat melihat Lina dengan tatapan kosong, seakan-akan Lina sedang berada antara sadar dan tidak sadar.
Lina bahkan tidak merespon saat Riko menyuapinya dengan bubur. Riko semakin khawatir saat melihat Lina yang semakin hari, semakin memprihatinkan.
Rika dan juga Yuda sudah sangat sering mencoba mengajak Lina untuk berbicara, tetapi hasilnya tetap sama, Lina sama sekali tidak merespon apapun.
Lina hanya tetap diam, dengan air mata terus mengalir dengan tatapan kosongnya. Ia hanya akan tertidur saat sudah tengah malam dan terbangun kembali saat jam 5 pagi.
"Sayang, aku mohon cepatlah sembuh, apa kamu tidak kasihan melihat anak kita ikut tersiksa, apa kamu tega membiarkan anak kita menderita". Ucap Riko sambil menggenggam tangan Lina.
"Sayang, kamu harus bangkit kembali, kamu tidak boleh begini terus, ayah akan sangat marah saat melihat putrinya seperti ini, apa kamu ingin melihat ayah sedih. Aku rasa tidak". Sambung Riko kembali.
Hiks....hiks...
Tiba-tiba Lina menangis dan langsung memeluk Riko.
Lina sekarang mulai sadar kalau tidak ada gunanya ia berlarut-larut dalam kesedihan, ia bahkan sampai melupakan bayi yang sekarang baru akan berkembang didalam perutnya.
"Maafkan Lina mas, hiks...hiks.., maafkan Lina". Ucap Lina sambil terus terisak didalam dekapan Riko.
"Tidak sayang, kamu tidak perlu minta maaf, mas yakin kalau kamu adalah wanita tangguh, kamu adalah istri mas yang sangat kuat".
Kini Lina sudah mulai membaik dari keadaannya yang sebelumnya, berangsur-angsur Lina sudah mulai pulih kembali, walaupun kadang-kadang Lina masih sedih mengingat kalau ayahnya sudah meninggalkannya untuk selamanya, namun dalam sekejap ia akan sadar kembali .
__ADS_1