
Saat sampai rumah Riko bergegas langsung menuju kamarnya, ia sangat takut jika Lina melakukan sesuatu yang dapat membahayakan nyawanya dan juga anaknya.
Saat ia sudah didepan kamar, Riko mendorong pintu kamar dengan sangat kencang hingga membuat Lina menjadi kaget.
Lina menatap Riko heran karena masuk dengan sangat buru-buru.
"Mas Riko, kenapa kau pulang begitu cepat". Tanya Lina begitu polosnya.
Sementara Riko membeku saat melihat Lina yang dengan santainya memakan berbagai macam cemilan sambil duduk di karpet kamar dengan santainya dengan tv menyala.
Riko tidak habis pikir bagaimana jalan pikiran Lina, yang tadinya Lina menangis dan sekarang dengan polosnya bertanya kenapa ia pulang cepat.
"Sayang, kau......". Ucap Riko terhenti.
"Mas aku sedang makan cemilan, nanti saja kalau ingin bicara". Sela Lina sambil terus mengunyah.
Riko mengusap wajahnya kasar.
"Ya Tuhan,, apa semua ibu hamil seperti ini". Batin Riko frustasi.
Sebenarnya Riko sangat kesal saat ini namun dia mencoba tetap sabar agar Lina tidak marah dan salah paham.
"Sayang, kenapa kau sangat banyak makan cemilan". Tanya Riko lembut sambil ikut duduk disebelah Lina.
"Aku hanya sedang berselera saja".
"Bukankah tadi kau sedang marah sama mas?". Tanya Riko hati-hati.
"Oh iya untung mas ingatkan, aku sampai lupa". Jawab elena.
"Astaga, jadi Lina sudah lupa kalau dia sedang marah padaku, dia bahkan sudah membuatku hampir gila saat di kantor hanya karena dia menangis dan sekarang malah seperti ini". Batin Riko.
"Kenapa mas tidak bilang kalau ingin kekantor tadi?, Ah sudahlah sekarang itu tidak penting, nanti malam mas akan tidur di sofa, itu hukuman untukmu". Ucap Lina penuh penekanan.
Riko menganga mendengar ucapan Lina yang mengatakan kalau ia akan tidur di sofa.
"Tapi sayang, kamu kan tau kalau mas tidak bisa tidur kalau tidak disebelahmu". Bantah Riko tidak setuju dengan hukuman lina.
"Tidak ada penolakan, atau mas ingin tidur di luar?". Ucap Lina tidak terima dibantah.
"Sekarang aku menyesal telah mengingatkan Lina". Batin Riko.
"Baiklah, hukumannya aku terima". Jawab Riko dengan sendu.
Riko hanya bisa pasrah dengan keputusan Lina, ia berfikir lebih baik tidur di sofa dan masih bisa melihat Lina daripada tidur diluar.
__ADS_1
"Sekarang mas pergilah, aku mual liat mas kalau dikamar ini". Usir Lina sambil mengibas-ngibaskan tangannya untuk menyuruh Riko pergi.
"Apa, tapi sayang mas baru sampai". Bantah Riko.
"Aku tau, tapi aku sedang tidak ingin mas ada di dekatku sekarang". Ucap Lina sedih.
Riko menggerutu kesal karena Lina sangat mudah mengatakan tidak ingin melihatnya, sementara dirinya hanya bisa menurut saat melihat mata Lina sudah berkaca-kaca.
"Dasar hormon sialan, kalau aku tau akan begini. Aku akan lebih memilih kalau Lina tidak usah hamil". Gerutu Riko sambil terus menuruni anak tangga.
"Riko ada apa denganmu". Tanya Rika.
Rika dan Yuda memang sengaja datang berkunjung ke rumah riko karena Rika sudah sangat merindukan menantunya dan juga calon cucunya.
Saat Rika dan Yuda masuk ke rumah mereka langsung dihadiahi dengan Riko yang turun dari atas sambil menggerutu tidak menentu.
"Mama, kenapa mama tidak bilang kalau mau kesini". Ucap Riko sambil memeluk mama dan papanya bergantian.
"Apa orang tua sendiri harus minta izin kalau ingin berkunjung". Ucap Rika dengan cemberut.
"Bukan begitu ma, tapi setidaknya kita bisa mempersiapkan sesuatu untuk mama dan papa". Ucap Riko.
"Sudahlah, ayo kita duduk dulu". Ucap Riko kembali.
"Kenapa wajahmu sangat kusut Riko". Tanya Yuda.
"Lina, tidak ingin melihat wajahku pa. Katanya dia mual liat aku". Adu Riko pada Yuda.
Hahahaha...
Rika dan Yuda malah tertawa mendengar ucapan Riko yang sepertinya sangat putus asa dan frustasi.
"Kenapa papa dan mama tertawa". Tanya Riko heran.
"Apa kau tau Riko, saat mamamu hamil dirimu, dia juga sering mengusir papa, bahkan mamamu sangat sering menangis hanya gara-gara hal sepele, papa sampai pusing saat itu". Cerita Yuda sambil mengingat-ingat bagaimana saat Rika tengah sedang hamil Riko.
"Apa benar begitu ma". Tanya Riko tidak percaya.
Rika hanya mengangguk mengiyakan perkataan Yuda.
"Sekarang Riko paham kenapa sikap Lina seperti itu". Gumam Riko.
"Sudahlah, kau biarkan saja Lina saat ini, nanti dia juga akan membaik dengan sendirinya". Tutur Rika
"Baiklah ma". Ucap Riko pasrah.
__ADS_1
"Mama akan keatas dulu melihat Lina". Ucap Rika .
Rika bangkit dari duduknya dan segera menaiki anak tangga dengan hati-hati, dan segera masuk ke kamar Riko dimana kamar itu juga kamar menantunya.
"Mama". Ucap Lina kaget saat melihat Rika masuk ke kamarnya.
Rika tersenyum melihat Lina yang begitu bahagia saat melihat dirinya.
Lina kemudian langsung berdiri dan berlari memeluk Rika erat.
"Sayang jangan berlari, nanti kau jatuh". Peringat Rika saat ia melihat Lina yang berlari.
"Maf ma, abisnya Lina senang liat mama". Ucap lina sambil memperhatikan giginya yang rata.
Rika kemudian membalas pelukan menantunya dengan lembut.
"Mama kenapa tidak bilang kalau mau datang kemari". Tanya Lina cemberut.
"Mama sengaja tidak memberitahu karena mama ingin memberi kejutan". Jawab Rika sambil tersenyum.
"Mama dengar kamu tidak mau melihat Riko ya". Tanya Rika sambil menuntun Lina agar duduk di sofa kamar Lina.
"Bukan Tidak mau ma, cuman Lina mual liat mas Riko ada dikamar". Ucap Lina membenarkan.
"Mama ngerti, dan sekarang apa ini, kenapa kamu sangat banyak makan makan seperti ini". Ucap Rika sedikit emosi saat melihat banyaknya makan ringan yang sudah kosong.
"Maaf ma, abisnya Lina pengen makan itu". Ucap lina sambil tertunduk.
"Sayang, kamu boleh makan itu, cuman tidak boleh sebanyak ini. Makanan ini tidak ada gizinya, dan tidak baik buat janin kamu". Terang Rika dengan lembut agar Lina paham
"Lina ngerti ma, Lina nggak akan makan itu lagi". Jawab Lina.
"Baguslah, sekarang ayo kita turun, kamu harus banyak makan buah agar lebih bertenaga nanti".
Lina hanya menurut tidak berani membantah, mereka kemudian turun kebawah dan bergabung dengan Yuda dan Riko yang sedang duduk.
"Riko, kamu harus lebih memperhatikan makanan istri kamu mulai sekarang, jangan biarkan dia makan sembarangan". Nasehat Rika pada putranya.
"Baik ma". Jawab Riko.
Sementara Lina hanya menunduk karena merasa bersalah, padahal Riko sering memperingati dirinya agar tidak sembarang makan makanan, tapi ia sendiri yang selalu membantah, ia akan memanfaatkan kesempatan saat Riko pergi agar dirinya bisa makan apa yang ia suka.
sekarang Lina hanya bisa pasrah, karena Riko pasti melarang nanti untuk makan yang ia suka, namun Lina tidak bisa menyalahkan Riko karena itu semua memang untuk kebaikannya sendiri.
jangan lupa like dan vote ya,,,,, biar aku tambah semangat buat up..
__ADS_1