
Setelah mendapat kabar dari supir pribadi Lina, Riko bergegas pergi ke kampus Lina, diikuti oleh Rian.
Dengan buru-buru Riko berlari menghampiri Mila, semua orang yang ada di tempat itu menjadi heran karena melihat Riko begitu buru-buru.
"Apa yang terjadi sebenarnya?". Tanya Riko saat sudah sampai.
"Aku juga tidak tau, tadi saat aku meninggalkan lina, dia masih makan tapi setelah aku kembali aku sudah tidak menemukannya lagi, awalnya aku berfikir dia pergi ke toilet, namun aku menemukan kalung Lina di lantai". Jelas Mila.
Setelah menceritakan semua kejadiannya, Mila kemudian menyerahkan kalung dan juga tas Lina pada Riko.
Riko menjadi sangat frustasi karena tidak tau harus mencari Lina dimana, ponsel dan juga kalung yang Riko gunakan untuk melacak Lina malah tertinggal.
"Ayo kita lihat cctv ". Usul Rian.
Rian menduga ada seseorang yang telah membuat Lina meninggalkan tempat itu, karena jika Lina di culik secara paksa itu tidak mungkin karena tempat itu sangat ramai.
Riko dan Rian langsung pergi keruang cctv.
........
sementara di sisi lain lidia langsung tersenyum licik saat melihat Lina ada disampingnya, ia tidak menyangka akan sangat mudah untuk mengelabuhi Lina.
"Lidia, ini bukan jalan menuju rumah sakit". Ucap Lina.
Lina yang melihat sekeliling menjadi heran karena ia tidak mengenal jalan yang dilalui oleh Lidia.
"Kita melewati jalan pintas, agar lebih cepat sampai". Jawab Lidia dengan tenang.
Lina kemudian hanya diam, dan tidak berkomentar lagi. Ia berfikir kalau Lidia mengambil jalan pintas agar cepat sampai.
Setelah menempuh perjalan yang cukup lama Lina dapat melihat sekeliling jalanan yang dipenuhi oleh pohon atau lebih tepatnya hutan.
namun saat mereka semakin jauh dari kota Lina semakin cemas, karena tidak kunjung sampai tujuan. ia tau betul untuk mencapai rumah sakit hanya membutuhkan sekitar 30 menit saja, dan bisa hanya 20 menit jika jalanan tidak macet.
"Ini bukan jalan menuju rumah sakit, kemana kau ingin membawaku? Panik Lina.
__ADS_1
"Kau diam saja, nanti kau akan tau sendiri". Bentak Lidia.
Lina menjadi resah karena jalan yang mereka lalui sama sekali tidak ia kenal.
"Hentikan mobilnya.....". Teriak Lina.
Hahahaha.....
Lidia langsung mengunci pintu mobil agar Lina tidak melompat atau mencoba kabur darinya,ia akan tetap membawa Lina sampai tujuannya tercapai.
"Kau begitu bodoh, apa kau pikir Riko benar-benar kecelakaan, jikapun itu benar pasti keluarganya akan memberitahu kamu langsung, bukan aku yang akan membawamu". jelas Lidia dengan senyum liciknya
Lidia tersenyum menyeringai karena rencananya telah berhasil.
"benar, jika terjadi sesuatu pada mas Riko, pasti Rian atau mertuaku langsung mengabari aku". pikir lina
"Kau sangat licik". Bentak Lina.
Lina menyesali kebodohan dan kecerobohannya, kalau saja ia menghubungi mertuanya terlebih dahulu mungkin dia tidak akan terjebak seperti ini.
"astaga, kenapa aku sangat ceroboh. aku meninggalkan tasku di kantin". batin Lina.
sesaat kemudian ia teringat dengan kalungnya, ia langsung tersenyum saat mengingat ia selalu memaki kalung pemberian Riko.
"dimana kalungku?". gumam Lina pelan.
saat ia tidak menemukan kalungnya barulah ia semakin cemas, karena hanya dengan kalung itu Riko dapat melacak keberadaannya, dan sekarang kalung itu telah hilang.
"Apa tujuanmu sebenarnya?". tanya Lina dengan panik
"Tujuanku ?". Kau bertanya tujuanku ?".dasar bodoh...". Umpat Lidia dengan suara tinggi.
Lina menaikan sebelah alisnya merasa bingung, ia samasekali tidak tidak tau apa tujuan Lidia, sampai-sampai ia harus di culik.
"Tujuanku ingin membunuhmu, aku sangat membencimu Lina, sangat benci. Kau selalu mendapatkan semua yang aku inginkan dan aku tidak suka jika kau bahagia". Ucap Lidia dengan kilatan amarah dan ambisi yang kuat.
__ADS_1
Lina bergetar hebat mendengar penuturan Lidia, ia tidak menyangka kalau Lidia begitu membenci dirinya.
Lidia semakin mempercepat laju mobilnya, hingga sampai pada sebuah vila yang cukup besar dan luas.
Di sekeliling vila itu dipenuhi oleh berbagai macam perangkap yang mematikan, dan setiap sudut rumah telah dijaga ketat oleh para pengawal andalan.
"Aku pikir kau tidak akan berhasil". Ucap salah seorang lelaki pada Lidia.
"Jangan remehkan kemampuanku". Jawab Lidia dengan senyum penuh kemenangan.
Lina yang mendengar suara pria itu merasa kaget, karena suaranya tidak asing bagi Lina.
"Kau.....". Ucap Lina.
"Ternyata kau masih mengingatku, aku pikir kau akan lupa". Ucapnya.
Lelaki itu tidak lain adalah max, max telah bekerjasama dengan Lidia untuk menghancurkan riko, dengan tujuan yang berbeda.
Lidia memiliki tujuan untuk menghancurkan Lina dan memiliki Riko seutuhnya.
Sementara max memiliki tujuan untuk merebut semua kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Sanjaya, dan ia hanya memanfaatkan Lidia untuk mencapai semua tujuannya.
Setelah max mendapatkan apa yang ia inginkan maka ia akan membunuh Riko beserta Lina termasuk juga Lidia, karena menurutnya mereka akan mengganggunya jika mereka dibiarkan hidup.
Max mengenal Lidia pada saat Lidia pernah di usir dari kantor Riko, pada awalnya max tidak peduli namun setelah mengalami kekalahan dan kematian Lucas membuat ia harus berfikir keras untuk menjebak Riko kembali, karena itulah ia langsung mencari tau tentang Lidia.
Dan beruntungnya max karena ia mendapatkan informasi kalau Lidia sangat membenci Lina dan menyukai Riko, oleh sebab itu max langsung memanfaatkan kesempatan yang ada.
"Bawa dia". Titah max pada salah seorang anak buahnya.
Mendengar pertanyaan perintah dari tuannya, mereka langsung membawa Lina menuju sebuah ruangan yang tertutup.
Dalam ruangan itu terdapat sebuah ranjang dengan pintu yang luas, namun tidak memiliki jendela sama sekali.
Begitu sampai pada ruangan itu Lina langsung dilempar pada sebuah ranjang yang ada di sana, Lina sedikit meringis karena perutnya sedikit sakit.
__ADS_1